10 Transfer Terburuk yang Pernah Dilakukan AS Roma

Roma telah memasuki era baru dengan kedatangan Monchi, tapi sang direktur anyar harus belajar dari masa lalu dan kegagalan Roma di bursa transfer...

Ditunjuknya Ramon Rodriguez Verdejo alias Monchi sebagai Direktur Olahraga Roma, menjadi berkah bagi fans dan pelatih Giallorossi. Bagaimana tidak, Monchi merupakan aktor di balik layar kesuksesan Sevilla beberapa musim belakangan ini di Spanyol, begitu juga di Eropa melalui raihan lima titel Europa League. Roma bisa berharap darinya, agar kesalahan transfer pemain di masa lalu takkan pernah terjadi lagi. Paling tidak, meminimalisir kesalahan itu.

Klub ibu kota Italia ini memang jarang mengeluarkan uang besar untuk membeli satu pemain. Kebutuhan tim selalu jadi pertimbangan Roma tiap kali mendatangkan pemain. Masalahnya, beberapa transfer yang pernah mereka lakukan bisa dikategorikan buruk, dan pemainnya, jadi flop alias pemain gagal di Serie A. Siapa saja mereka?

1. Adriano

L’Imperatore (Sang Kaisar) sempat menguasai Serie A bersama Inter Milan ketika meraih Scudetto empat kali beruntun sejak 2005 hingga 2009. Di masa itu juga, Adriano meraih dua titel Coppa Italia dan Piala Super Italia. Ia dikenal sebagai monster di dalam kotak penalti lawan karena kekuatan fisik dan ketajamannya mencetak gol.

Periode kedua hubungan Adriano dengan Inter berjalan baik selama lima tahun, sebelum ia kembali ke Brasil dan membela Flamengo pada 2009. Satu tahun bersama Flamengo, Italia memanggil kembali Adriano. Kali ini, ia membela Roma yang mengontraknya selama tiga tahun dan menggajinya €5 juta per tahun.

Datang di usia 28 tahun (usia emas pesepakbola), Adriano diyakini dapat menjadi mesin pendulang gol Roma. Namun, ekspektasi itu tak lebih dari sekedar mimpi di siang bolong. Pasalnya, Adriano hanya bertahan selama tujuh bulan di Roma tanpa satupun mencetak gol. Kontraknya pun diputus Roma dan Adriano kembali ke Brasil, bergabung dengan Corinthians. Sisanya, Anda tahu bagaimana ceritanya hingga ia bergabung dengan geng kriminal di Brasil.

2. Gustavo Bartelt

Jauh mundur hingga ke periode 1998, ada nama Gustavo Bartelt, yang memiliki julukan El Facha (Indah). Sayang, julukannya itu tak seindah perjalanan kariernya di Roma yang berakhir buruk. Bartelt dibeli Roma seharga €4 juta dari Lanus di usia 23 tahun. Ia diplot mengisi pos yang ditinggalkan Abel Balbo ke Parma, sekaligus menambah kekuatan lini depan Roma yang sudah diisi Marco Delvecchio dan Francesco Totti.

Dengan kepercayaan dirinya yang tinggi, Bartelt memilih nomor punggung 9 yang sebelumnya dikenakan Balbo. Debutnya pun berjalan manis, di mana ia membantu Roma menang 3-1 kontra Salernitana. Tapi, bulan madu Bartelt dengan Roma hanya berlangsung sementara karena performanya yang menurun. Ia pun kalah bersaing dengan Delvecchio dan Totti di lini depan, sebelum akhirnya dipinjamkan ke Aston Villa dan Rayo Vallecano.

Bartelt pergi pada 2003 ke Gimnasia La Plata dengan catatan yang sangat buruk di Roma: 15 penampilan, tanpa satupun mencetak gol. Parahnya lagi, Bartelt sempat menerima hukuman 12 bulan tak boleh berhubungan dengan sepakbola oleh Federasi Sepakbola Italia (FIGC), karena terbukti bersalah memberikan dokumen palsu untuk mendapatkan paspor Uni Eropa.

Pages