100 Pemain Sepakbola Terbaik Dunia 2016 Versi FourFourTwo: 1 – Cristiano Ronaldo

Andy Brassell menjelaskan mengapa bintang Real Madrid ini kembali di posisi puncak tahun ini…

Cristiano Ronaldo masih memiliki rasa percaya diri yang tidak tergoyahkan apapun. Buktinya adalah ketika ia menggambarkan tahun di mana banyak pihak menganggap akan semakin menurun sebagai “tahun terbaik dalam hidup saya.”. Dan tentu saja, ia memiliki semua amunisi yang ia butuhkan saat meninggalkan 2016 ini dengan gelar Liga Champions, Piala Eropa dengan Portugal, dan kontrak baru selama lima tahun di Real Madrid – semuanya sudah diamankan di Casa Ronnie.

Level rekor yang masih terus ia pecahkan juga luar biasa. Tahun ini, ia mencapai total 500 gol di klub, dan menyamai rekor Gerd Muller dan Robbie Keane dengan catatan 68 gol di level internasional saat menciptakan dua gol untuk Portugal di bulan November saat menang atas Latvia.

Namun tidak ada yang membantah bahwa Ronaldo terlihat menua, dan berubah. Ini adalah hal yang sudah muncul belakangan ini, di mana badannya akhirnya mulai harus membayar kerja keras yang ia paksakan selama satu dekade terakhir. Portugal menahan napas menjelang Piala Eropa 2016 saat muncul keraguan atas kebugarannya di musim semi kemarin (di mana ia tidak tampil di leg pertama semifinal Liga Champions menghadapi Manchester City), mengembalikan memori buruk di Piala Dunia dua tahun sebelumnya – yang ia akui di film dokumenternya, Ronaldo, bahwa ia seharusnya tidak bermain.

Kesuksesan di level internasional

Perannya di final adalah sebagai pelatih yang meledak-ledak penuh semangat di pinggir lapangan, berteriak untuk Portugal hingga perpanjangan waktu

Bahkan di tengah kebahagiaan Real Madrid di Milan, di mana ia mejadi penentu di adu penalti –dan merobek jerseynya sebagai perayaan seperti yang ia lakukan juga saat memastikan kemenangan di Lisbon menghadapi Atletico – tetap muncul kekhawatiran. Ia adalah imitasi buruk dari dirinya di hampir sepanjang pertandingan, layaknya seorang penumpang belaka dalam kesuksesan El Real. Jadi bisa dipahami jika ada orang-orang yang meragukan bagaimana kondisinya saat Piala Eropa dimulai.

Piala Dunia Brasil adalah penderitaan untuk Ronaldo dan para fansnya, di mana ia bertarung dengan keras menghadapi kondisi alaminya, tapi kali ini di Perancis, ada akhir yang bahagia. Semua ini berkat Fernando Santos, dengan pelatih berpengalaman Portugal ini mengerti bahwa kaptennya bukan lagi sebuah kekuatan yang meledak-ledak seperti beberapa tahun terakhir. Santos mengubah strategi menjadi 4-4-2 yang membuat Ronaldo lebih sedikit berlari, dan secara krusial memberikan dukungan dari Nani, rekannya sesama lulusan Sporting.

Tetap saja, tidak ada yang bisa menebak drama level tinggi yang muncul di laga final di Saint-Denis, di mana ia terpincang setelah dihantam Dimitri Payet dan – setelah mencoba untuk bermain dengan cedera – akhirnya terpaksa keluar lapangan dengan menangis. Perannya di final adalah sebagai pelatih yang meledak-ledak penuh semangat di pinggir lapangan, berteriak untuk Portugal hingga perpanjangan waktu. Ini menunjukkan sisi lain Ronaldo ke dunia, sesuatu yang sudah disadari oleh orang-orang di negaranya untuk waktu yang lama; yaitu bahwa di luar segala dandanan dan tampilan luarnya, hanya ada sedikit hal yang lebih penting baginya selalin bermain untuk – dan menang bersama – negaranya. Piala Eropa, seperti juga Liga Champions atau Ballon D’Or, adalah sebuah perwujudan mimpi yang sudah sejak lama dipendam.

Mesin gol

Ronaldo terus, secara luar biasa mengingat masalah cedera yang muncul di hadapannya, bisa menciptakan rataan satu gol dalam satu pertandingan untuk klub dan negaranya

Satu hal yang belum berubah tahun ini, tentu saja, adalah gol-golnya. Ronaldo terus, secara luar biasa mengingat masalah cedera yang muncul di hadapannya, bisa menciptakan rataan satu gol dalam satu pertandingan untuk klub dan negaranya, dan mudah untuk melihat mengapa Florentino Perez meletakkan rasa kepercayaan yang begitu besar masa depannya. Kapten Portugal ini lebih dari sekedar jimat untuk kesuksesan El Real.

Ia adalah garansi gol dan dengan kekuatan penyelesaian akhir yang ia miliki, kekuatannya, keberadaannya di kotak penalti dan – lebih penting lagi – pemahamannya bahwa ia telah menjadi seorang pemain yang lebih banyak bermain dalam kotak penalti, nyaris tidak ada hal yang menunjukkan bahwa ia tidak bisa melanjutkan penampilannya di level tertinggi untuk beberapa waktu ke depan, dan meninggalkan tanggung jawab yang terlalu berat di tahun-tahun sebelumnya. Dulu, Ronaldo ingin melakukan segalanya. Sekarang, ia tahu bahwa ia harus dilayani.

Sambil merayakan kontrak barunya di Palco de Honor yang penuh di Bernabeu pada November lalu, Ronaldo berbicara tentang kekagumannya pada Ballon d’Or. “Saya tidak terobsesi dengan hal ini,” tegasnya. “Jelas gelar ini penting, tapi bagi saya, kunci untuk meraih gelar individu adalah bekerja kolektif secara tim.” Dari sisi ini, ia tidak bisa melakukan hal yang lebih besar lagi tahun ini untuk memastikan statusnya sebagai legenda.

Pilih pemain favoritmu di tahun 2016 di ForzaFootball. Kami akan mengungkapkan hasilnya pekan depan.

Daftar lengkap #FFT100

100-91 • 90-81 • 80-71 • 70-61 • 60-51 • 50-41 • 40-31 • 30-26 • 25 • 24 • 23 • 22 • 21• 20 • 19 • 18 • 17 • 16 • 15 • 14 • 13 • 12 • 11 • 10 • 9 • 8 • 7 • 6 • 5 • 4 • 3 • 2 • 1

100 Pemain Sepakbola Terbaik Dunia 2016 Versi FourFourTwo