100 Pemain Sepakbola Terbaik Dunia 2016 Versi FourFourTwo: 100-91

#FFT100 kembali! Ada di posisi berapa pemain favoritmu dalam daftar kami?

Selamat datang di edisi kesepuluh FFT 100! Berikut ini adalah gelombang pertama dalam daftar pemain sepakbola terbaik di planet ini, yang berisi seorang pemain muda sensasional, gelandang tengah yang punya peran penting di tim, dan bahkan seorang pemain Manchester United ‘yang kurang dihargai’…

Oleh: Huw DaviesGreg Lea, Joe Brewin, Tom Kundert, Priya Ramesh, Harriet Drudge

100. Ousmane Dembele

Ketika daftar 100 pemain terbaik dunia FFT 2015 dirilis tahun lalu, Dembele baru bermain di tiga pertandingan tim utama sejak menjadi pemain profesional di Rennes. Oleh karena itu fakta bahwa pemain muda ini masuk dalam daftar tahun ini merupakan bukti kemajuan luar biasa yang sudah dibuatnya dalam 12 bulan terakhir.

Torehan 10 gol dalam 19 penampilan di Ligue 1 di paruh pertama 2016 membantu Rennes finis di posisi delapan di Ligue 1 dan membuat pemain berusia Prancis 19 tahun itu mendapatkan kontrak berdurasi lima tahun dengan Borussia Dortmund, yang kabarnya membayar €15 juta untuk membawa penyerang berbakat itu ke Signal Iduna Park. Dembele yang sudah tampil dalam tujuh dari 11 laga Bundesliga yang dijalani BVB saat tulisan ini dibuat, dan juga menjadi starter reguler di Liga Champions, mampu membuat bek-bek kanan di kompetisi Eropa maupun domestik kewalahan dengan kecepatan, trik, dan kemampuannya menggiring bola.  GL

99. Petr Cech

Semua orang pasti mengerti mengapa Jose Mourinho tidak ingin Cech pindah ke Arsenal pada musim panas 2015 – tapi bahkan ia, seperti halnya Roman Abramovich yang merestui kepindahan kiper Republik Ceska itu, tahu bahwa kiper yang sudah memperkuat The Blues selama 11 tahun itu tidak layak duduk di bangku cadangan.

Tidak mengherankan, pemain berusia 34 tahun ini telah membuktikan mengapa penggemar Arsenal sangat bahagia bisa mendapatkan jasanya setelah musim debutnya yang mengesankan, di mana dia membukukan catatan tidak kebobolan tertinggi di Premier League (16), kiper dengan jumlah penyelamatan terbanyak ketiga secara keseluruhan, dan memiliki persentase keberhasilan yang lebih tinggi dari kiper lainnya (76%) – termasuk dari tembakan di dalam kotak penalti (72%). The Gunners mungkin telah tersandung dalam perburuan gelar sekitar akhir Februari, tetapi kegagalan mereka bukanlah kesalahan Cech.

Kariernya di Euro 2016 sangat buruk – Republik Ceska kalah dua kali dari tiga pertandingan grup mereka dan finis di dasar klasemen grup – dan Cech segera pensiun dari sepakbola internasional setelah turnamen tersebut sebagai pemain yang paling sering membela negaranya (121). Namun dia masih memperlihatkan kelasnya di dalam dan luar lapangan.  JB

98. Blaise Matuidi

Matuidi mungkin telah mempersembahkan medali juara Ligue 1 lainnya untuk PSG – keempat dalam kariernya – dan bermain di semua pertandingan Prancis di Piala Eropa, tetapi gelandang serba bisa ini belum tampil cemerlang di tahun 2016. Pemain berusia 29 tahun ini kesulitan menampilkan performa terbaiknya selama Euro, hingga banyak pendukung Les Bleus meminta agar dia dibangkucadangkan, sementara dia juga keluar masuk tim inti PSG di bawah bos baru Unai Emery musim ini.

Namun, Matuidi tetap merupakan salah satu pemain lini tengah paling komplet di Eropa, dengan mantan bintang Saint Etienne ini memiliki perpaduan yang sangat baik dari kualitas teknis dan fisik. Juga harus diketahui bahwa keputusan Unai Emery membangkucadangkan dirinya beberapa kali musim ini mungkin merupakan keinginan sang pelatih untuk memberinya waktu istirahat yang lebih besar dan bukan karena performanya di tingkat klub. – GL

97. Hakim Ziyech

Untuk penggemar Eredivisie, cukup mengherankan bahwa Hakim Ziyech belum mendapat perhatian dan pujian yang besar. Pemain berusia 23 tahun itu merupakan pemain terbaik di Eredivisie selama dua tahun terakhir. Dengan KNVB menyelidiki Twente untuk kasus kontroversi Doyen dan terancam degradasi, Ziyech menyelamatkan tim yang tampil buruk ini dari zona degradasi. Ia mencetak 35% dari total gol Twente dan ia adalah kunci mengapa timnya tetap berfungsi.

Banyak klub asing yang menunjukkan minat di musim panas tahun ini, tetapi tidak ada yang membuat tawaran kongkret, jadi ketika Ziyech mendapatkan tawaran di menit-menit terakhir dari Ajax, ia memutuskan pindah, sebuah langkah maju meski tidak besar. Meski tidak terkenal karena staminanya, pria asal Maroko ini mampu beradaptasi dengan intensitas sepakbola tinggi yang diterapkan Peter Bosz dan telah membuktikan dirinya sebagai pemain berpengaruh seperti semasa di Twente, bahkan dengan rekan-rekan setim yang lebih baik. Tim-tim lawan cenderung bertahan lebih dalam saat melawan Ajax, tetapi hal ini bukan masalah besar bagi Ziyech, yang kreativitasnya menjadikannya salah satu yang terbaik di atas lapangan.

Jika ia terus mempertahankan penampilannya yang mengesankan, klub-klub seperti Dortmund dan Wolfsburg akan kembali meliriknya, dan tim yang lebih besar mungkin mulai memperhatikan sang playmaker. Karier Ziyech jelas masih panjang. – PR

Selanjutnya: Terusir dari Chelsea, namun luar biasa di klub lain