100 Pemain Sepakbola Terbaik Dunia 2016 Versi FourFourTwo: 90-81

Bagian kedua dari daftar 100 pemain sepakbola terbaik dunia 2016 kami...

Termasuk dalam daftar ini: dua pemain U-21 yang sudah tampil luar biasa dan seorang pemain Everton yang brilian…

Oleh: Huw DaviesJoe Brewin, Simon HarrisonHarriet Drudge, Andy Murray, Seb Stafford-Bloor, Gregor MacGregor, Ben Clark, Andrew Gibney.

90. Romelu Lukaku

Ada dua opini berbeda tentang Lukaku – di mata beberapa orang, dia adalah striker bagus serbabisa yang layak pindah ke tim yang lebih besar daripada Everton, tetapi untuk sebagian lainnya dia jauh dari level pemain terbaik yang harus tetap membumi demi kebaikannya sendiri.

Tapi, bukan berarti dia sudah habis – pemain Belgia ini masih berusia 23 tahun. Bisa dikatakan, sangat mudah melupakan bahwa Lukaku memulai karier tim seniornya saat berusia 16 tahun bersama Anderlecht dan tetap menarik perhatian publik  sejak itu dengan bermain untuk tim-tim terkenal (yang sebagian besar berjalan dengan baik) bersama Chelsea, West Brom, dan Everton. Faktanya, dia merupakan salah satu dari hanya lima pemain yang berhasil mencetak 50 gol Premier League di bawah usia 23 tahun; ditambah, ia memiliki catatan rasio gol per laga yabg nyaris setara dengan Robbie Fowler, Les Ferdinand, dan Didier Drogba, dan secara signifikan lebih baik daripada pemain-pemain seperti Dwight Yorke, Nicolas Anelka, dan Kevin Phillips.

Euro 2016 cukup mengecewakan jika diukur dari standarnya, meski performanya juga agak mengecewakan pada musim 2015/16 bersama Everton. Tapi, permainannya kembali cemerlang di bawah Ronald Koeman pada 2016/17: setelah 10 pertandingan musim ini dia sudah membukukan tujuh gol. "Potensinya lebih besar dan lebih tinggi daripada Everton sebagai pelabuhan terakhirnya," kata sang manajer pada bulan November lalu. Tapi akan ke mana dia setelah ini? – JB

89. Kalidou Koulibaly

Setelah musim debut mengesankan di Naples, kedatangan manajer baru Maurizio Sarri seolah menjadi berita buruk bagi bek tengah asal Senegal tersebut. Dengan Napoli membukukan catatan pertahanan terburuk mereka sejak 1997/98 (musim di mana mereka finis di dasar klasemen), Koulibaly dikritik habis-habisan.

Namun sang pelatih tak berniat melakukan perubahan pada lini pertahanan timnya. Selama sembilan bulan berikutnya, Napoli kemudian menjalani salah satu musim terbaik mereka dengan Koulibaly menjadi sosok berpengaruh di lini belakang yang hanya kebobolan 32 gol, catatan pertahanan terbaik mereka sejak terakhir memenangi liga pada tahun 1990.

Musim panas ini ia terus dikabarkan akan pindah ke Premier League dengan nilai transfer mencapai £50 juta yang sayangnya diikuti dengan awal musim yang buruk bagi Napoli dan Koulibaly. Sarri mengaku selama pra-musim bahwa bek utamanya itu masih rentan melakukan 'kesalahan bodoh'. Tapi, ia masih jauh dari kata habis, pemain berusia 25 tahun ini telah menandatangani kontrak baru berdurasi lima tahun, dan tidak ada yang meragukan tempatnya pada masa mendatang di Partenopei. – BC

88. Adrien Rabiot

Jika performanya melawan Real Madrid di Liga Champions tahun lalu merupakan awal kemunculan Rabiot, pada tahun 2016 gelandang berambut keriting itu terus tampil gemilang, menunjukkan kepada semua orang mengapa ia dinilai sangat tinggi.

Setelah bermain di bawah Laurent Blanc dan sekarang Unai Emery, bakat pemain muda yang mengandalkan kaki kirinya ini sungguh luar biasa, membuat pemain baru di musim panas, Grzegorz Krychowiak, kesulitan bermain secara reguler.

Kaki panjang Rabiot membuatnya bisa diandalkan di lini pertahanan, dia membaca permainan dengan baik, mencoba untuk menyederhanakan beberapa hal, dan kemudian mengalirkan permainan dengan jangkauan umpan-umpannya.

Meskipun memiliki Blaise Matuidi, Marco Verratti, dan Thiago Motta, Rabiot lah yang tampil paling mengesankan musim ini, dan itu menghasilkan kesempatan bermain penuh bersama timnas Prancis. Dia memiliki segala sesuatu yang Anda inginkan untuk seorang gelandang modern dan itu tidak akan lama sampai PSG membangun tim mereka dengan menjadikan Rabiot sebagai pusat permainan. – AG

87. Filipe Luis

Dari semua kesalahan yang dilakukan oleh Jose Mourinho di Chelsea, menghabiskan £15,8 juta untuk membeli bek Atletico Madrid Filipe Luis pada musim panas 2014, kemudian hanya memberinya kesempatan bermain sebanyak tujuh kali sebagai starter (dua di antaranya setelah mereka memastikan gelar Premier League) akan selalu menjadi salah satu kesalahan terbesarnya.

Seorang salah satu calon bek kiri terbaik di dunia pada saat itu, pemain Brasil itu bersinar lagi setelah kembali ke Vicente Calderon. Berperan penting membawa Los Colchoneros mencapai dua final Liga Champions dalam tiga musim – dan tampil di kedua final itu – pemain berusia 31 tahun itu memiliki segalanya yang ada dalam diri seoang full-back modern: kuat dalam tekel, bertahan dengan cerdas, dan sangat baik saat menyerang.

Kerja sama Luis di sayap kiri Atleti dengan Yannick Carrasco sangat penting untuk strategi serangan balik yang diterapkan Diego Simeone dan akan banyak berperan besar dalam usaha klub ini meraih gelar di musim terakhir mereka di Calderon. – AM

Selanjutnya: Penyerang yang hanya butuh menit bermain