100 Pemain Sepakbola Terbaik Dunia 2016 Versi FourFourTwo: No.11 – Thomas Muller

Alex Hess melihat karier sang penafsir ruang yang gagal masuk dalam 10 besar tahun ini…

Dalam sepak bola, menciptakan sebuah tim yang bisa memberikan hasil yang lebih besar daripada nilai semua komponennya merupakan tugas seorang manajer dan bukannya pemain. Tapi, Thomas Muller adalah seorang pemain yang mampu memperlihatkan kemampuan tersebut dalam performa yang artistik. Dalam aspek atribut seorang penyerang yang bagus, Muller secara teknis tidak memilikinya sama sekali – dia tidak cepat, tinggi atau kuat, jarang melepaskan tembakan dari jarak jauh, dan bukan penggiring bola terbaik – namun dia salah satu pemain depan yang paling efektif dan berkelas dunia.

Yang juga mengesankan adalah dia tidak mengatasi keterbatasan itu dengan cara yang biasa di tengah industri sepak bola yang penuh tuntutan, melainkan dengan kecerdasannya. Julukan Der Raumdeuter – Penafsir Ruang – menjadi terkenal bukan hanya karena orisinalitasnya semata, tetapi juga karena itu menggambarkan dengan sempurna kemampuan yang membuat Muller menjadi pemain kelas dunia.

Dalam hal ini, Muller adalah penyerang modern yang prototipikal: ia tidak memiliki posisi 'alami' atau tetap, tapi bermain dengan fleksibilitas dan pemahaman taktis yang sempurna, yang memungkinkan dirinya untuk muncul di posisi dan waktu yang tepat.

Awal yang lambat

Muller telah kehilangan beberapa momentum sejak Carlo Ancelotti mengambil alih kursi kepelatihan

Insting adalah senjata utamanya. Dia terus merangsek ke daftar pencetak gol terbanyak timnas Jerman sepanjang masa (saat ini di posisi 10, satu peringkat di belakang Oliver Bierhoff) dan sudah menjadi – setidaknya sampai saat ini -  bagian tak terpisahkan dari salah satu skuat Bayern yang paling dominan sepanjang masa. "Dalam tim saya, Muller selalu bermain," ungkap Louis van Gaal, dan itu adalah filosofi yang juga diikuti oleh Pep Guardiola. 

Meskipun berkembang selama tiga tahun di bawah bimbingan Guardiola, Muller telah kehilangan beberapa momentum itu sejak Carlo Ancelotti mengambil alih kursi kepelatihan. Perannya dalam sistem 4-3-3 yang diterapkan pria Italia itu belum jelas, dengan Muller tidak mencetak satu pun gol di liga pada periode tertentu di musim ini ketika ia sudah mencetak 10 gol di periode yang sama musim lalu. 

Dalam hal ini, fleksibilitasnya telah merugikannya

Dalam hal ini, fleksibilitasnya telah merugikannya: dia tidak semurni Robert Lewandowski sebagai pemain no.9, bukan pemain sayap yang alami seperti Arjen Robben dan Douglas Costa, dan bukan playmaker paten seperti Thiago Alcantara. Karena itulah, dia kadang-kadang harus duduk di bangku cadangan, hal yang tidak biasa baginya dalam beberapa tahun terakhir. Kasus aneh karena ejekannya untuk timnas San Marino adalah episode terbaru dari bentuk rasa frustrasinya musim ini yang menenggelamkan kualitasnya.

Tapi jangan melebih-lebihkan sesuatu yang saat ini tampaknya hanya merupakan penurunan performa sementara. Dalam konteks yang lebih luas dari perjalanan kariernya yang mengesankan, menurunnya performa Muller saat ini bisa dianggap bersifat sementara ketimbang sebuah krisis, dan ada beberapa analis yang tidak yakin Bayern besutan Ancelotti akan menjadi tim yang lebih menakutkan jika tidak menemukan posisi yang tepat untuk penerjemah ruang mereka.

Selain itu, ia bukan hanya striker yang rata-rata mencetak satu gol per pertandingan untuk negaranya sejak musim panas, tapi juga striker yang enam bulan lalu merayakan musim paling produktif dalam kariernya (mencetak total 32 gol) dengan sepasang trofi besar. Ia terus berkembang maju.

Daftar lengkap #FFT100

100-91 • 90-81 • 80-71 • 70-61 • 60-51 • 50-41 • 40-31 • 30-26 • 25 • 24 • 23 • 22 • 21• 20 • 19 • 18 • 17 • 16 • 15 • 14 • 13 • 12 • 11 • 10 • 9 • 8 • 7 • 6 • 5 • 4 • 3 • 2 • 1

100 Pemain Sepakbola Terbaik Dunia 2016 Versi FourFourTwo