Analisa

100 Pemain Terbaik Dunia 2017 versi FourFourTwo: 100-81

Untuk membuka daftar ini, berikut di bawah ini adalah 20 pemain yang menempati posisi terbawah dalam 100 pemain terbaik dunia kami tahun ini. Ada mesin gol kota Roma, bintang-bintang muda Perancis, dan seorang pemain sayap Ekuador yang berubah jati diri...

We are part of The Trust Project What is it?

100. Christian Pulisic (Borussia Dortmund)

Tahun 2017 adalah tahun yang gemilang bagi Christian Pulisic. Kecepatan, kelincahan, dan kegigihannya untuk melesat ke depan dengan bola di kakinya telah mengecoh lawan para lawan juga mengangkat Borussia Dortmund.

Dengan perginya Ousmane Dembele pada musim panas kemarin, remaja Amerika Serikat ini didorong memainkan peran sebagai pemberi suplai bola bagi Pierre-Emerick Aubameyang. Pemain berusia 19 tahun ini menjawab tantangan tersebut. Ia telah menunjukkan kematangan dalam menghadapi tanggung jawab yang lebih besar dan tanpa halangan berarti dan kini menjelma jadi salah satu pemain paling penting dalam timnya.

Kendati musim ini laju BvB sedang naik turun, Pulisic kerap tampil sebagai salah satu pemain terbaik di atas lapangan. Kemauannya yang teguh untuk menang dan menampik ketertinggalan hingga pertandingan benar-benar usai sungguh impresif. Sebagai pemain non-Jerman termuda yang mampu mengemas 50 penampilan Bundesliga, kehadiran Pulisic di tim utama telah menunjukan perbedaan apa yang bisa dihasilkan dari seorang pemain dengan karakter yang tepat. Walau ia dipastikan absen di Piala Dunia di Rusia, nilai jualnya akan tetap melambung di masa mendatang.

Momen paling menonjol: Satu gol dan sebuah asis pada laga pembuka menghadapi Wolfsburg hanyalah dua momen menakjubkan dari performa brilian Pulisic musim ini.

Ditulis oleh: Jonathan Harding

99. Adrien Rabiot (PSG)

Setelah bertahun-tahun mengindikasikan hasrat untuk angkat kaki dari PSG, pada tahun ini Adrien akhirnya berhasil merebut tempat di starting XI tim ini. Bahkan, saking pesatnya performa Adrien, PSG rela mempersilakan Blaise Matuidi untuk bergabung dengan Juventus pada musim panas lalu dan menaruh keyakinan bahwa Rabiot sudah siap menggantikan posisi kompatriotnya sebagai gelandang tengah-kiri di lini tengah mereka.

Tinggi, elegan, dan begitu bertenaga, Rabiot adalah seorang kreator bergaya tradisional; seorang pemain yang mampu menghadirkan umpan-umpan yang menembus pertahanan lawan dan mampu berlari ke garis depan ketika dibutuhkan. Skill defensifnya dapat diasah dan ia perlu menambah pundi-pundi golnya – tiga gol dalam 27 penampilan Ligue 1 tidak bisa dibilang bagus – namun kini ia telah memperkuat timnas senior Perancis dan tampil baik di pentas Liga Champions.

Di usianya yang baru 22 tahun, ada banyak alasan mengapa ia bisa menjadi pemain yang lebih komplet dalam dua atau tiga musim mendatang.

Momen paling menonjol: Kerja sama yang berkelas kala bersua Toulouse pada Agustus silam menunjukan betapa pemuda ini punya potensi yang besar.

Ditulis oleh: James Eastham

98. Edin Dzeko (Roma)

Sebelum musim lalu, bomber kelahiran Bosnia ini tampak tak cocok di klub ibu kota Italia ini, persis seperti di akhir kariernya bersama Manchester City. Pada musim perdananya bersama Giallorossi, ia hanya membukukan 10 gol dari 39 penampilan, sebuah performa yang mendapat hujan kritik baik dari media serta suporter Roma.

“Saya pasti berbohong seandainya saya mengatakan kepada Anda bahwa saya tak mendengar atau membaca apa yang orang katakan tentang saya,” aku Dzeko baru-baru ini – akan tetapi sepertinya kritikan itu telah memberikan keberuntungan baginya.

Pemain 31 tahun ini lantas hampir selalu mencetak gol setiap kali ia memasuki lapangan dan menorehkan rekor baru klub dalam satu musim dengan menceploskan 39 gol di semua kompetisi dan membuat dirinya menjadi top-skorer Serie A musim lalu. Hingga artikel ini diketik, dirinya sudah mengemas 10 gol – dua di antaranya ia dulang kala berhadapan dengan Chelsea di Liga Champions.

Momen paling menonjol: Merengkuh titel Capocannoniere sebagai top-skorer Italia musim 2016/17.

Ditulis oleh: Adam Digby

97. Samuel Umtiti (Barcelona)

Kedatangan Umtiti pada musim panas 2016 tak begitu menggemparkan, namun mulai memasuki musim 2017, pemain Perancis ini menjadi aset yang berharga bagi Barcelona laiknya Gerard Pique dan Sergio Busquets. Kendati tinggi badannya tak begitu menjulang, pemain 24 tahun ini kompeten dalam bola-bola udara, cergas di sepanjang lebar lapangan dan tangkas dalam duel satu lawan satu.

Apapun rintangannya, Umtiti mampu menjawabnya, sebab bek sentral ini punya skill dan tempramen yang akan menjadi bagian dari rencana jangka panjang Blaugrana. Pemain ini cepat matang semenjak dirinya dipercaya menjadi pemain reguler dalam starting XI salah satu klub terbesar di muka bumi ini. Tahun ini Umtiti naik pangkat dari pemain dengan talenta menjanjikan menjadi bintang papan atas.

Momen paling menonjol: Penampilan mengagumkannya ketika bertemu Valencia pada bulan November tanpa kehadiran Gerard Pique.

DItulis oleh: Simon Harrison

96. Roberto Firmino (Liverpool)

Pemain 26 tahun ini merasakan momen emosional pada Agustus lalu ketika Liverpool dipertemukan dengan Hoffenheim pada babak kualifikasi Liga Champions. Melawan bekas klubnya, di mana namanya meroket dan dicintai para fans, bukan perkara mudah bagi pemain Brasil ini. Meski demikian, ia tampil baik di kedua leg, mencetak gol dan memberi umpan pada Emre Can di Anfield, membantu The Reds menang di kedua leg dan mengamankan tempat di babak fase grup.

Seperti yang diketahui suporter Hoffenheim, Firmino adalah tipe pemain yang perannya di lapangan tak mudah untuk didefinisikan, namun ia sering kali melakukan tugasnya dengan baik. Jurgen Klopp lazimnya memainkannya di posisi false nine, dan hasilnya cukup bagus di tahun 2017 ini, terutama di Eropa, di mana ia sudah mencetak enam gol. Ia masih belum cukup konsisten untuk disebut sebagai pemain yang benar-benar bertaraf kelas dunia – namun, kariernya masih panjang.

Momen paling menonjol: Penampilan spektakuler pada kemenangan besar 3-1 atas Arsenal Maret lalu, di mana ia mencetak gol dan memberi asis cantik pada Sadio Mane.

Ditulis oleh: Michael Yokhin

Pages