100 Pesepakbola Terhebat Sepanjang Masa versi FourFourTwo: 20-11

Kita telah memasuki urutan 20 besar dalam daftar 100 pesepakbola terhebat sepanjang masa, dan Anda pasti familiar dengan nama-nama di bawah ini...

20. Paolo Maldini

Paolo Maldini hampir tidak pernah bermain sebagai bek kanan selama 25 tahun karirnya; posisi di mana ia memulai kariernya. Saat masih berusia 12 tahun, ia menghabiskan begitu banyak waktu untuk menendang bola dari berbagai jarak dengan kaki kirinya, hingga ia merasa nyaman menggunakannya seperti kaki kanannya.

Begitulah. Saat Maldini berada di tim pelapis Milan saat berusia 17 tahun, Mauro Tassotti sudah tak tergantikan sebagai bek kanan - namun ada lowongan di sisi lapangan yang berbeda. Maldini muda pun dimainkan di posisi ini, dan tak kesulitan menjalaninya. Hanya sedikit yang berubah selama seperempat abad kemudian.

Ini adalah kisah yang pas untuk menggambarkan karir Maldini: ia memberikan ketangguhan dan konsistensi yang terus terjaga di lapangan karena kerajinan dan disiplin diri yang luar biasa di luar lapangan. Gaya hidupnya adalah contoh profesionalisme level elit, dan hidup pribadinya juga seperti itu, sementara Milan Lab yang legendaris itu memastikan dirinya tetap dalam kondisi puncak ketika karirnya memasuki dekade ketiga.

Keajaiban Tak Termakan Usia

"Umur biologis Paolo jauh lebih muda dari umurnya sebenarnya. Tes yang kami lakukan sekarang mengeluarkan nilai yang lebih tinggi dibanding tiga atau empat tahun lalu," ucap Adriano Galliani tentang lelaki yang saat itu berusia 36 tahun di tahun 2005.

Hanya sedikit pemain yang bisa menyentuh angka 1.000 pertandingan. Lebih sedikit lagi yang bisa melakukannya bersama salah satu raksasa Eropa. Maldini bisa melakukannya, di mana ia memenangi tujuh gelar juara liga dan, secara luar biasa, juga merebut lima Piala/Liga Champions di sepanjang karirnya. Ia juga menunjukkan ciri khas Milan yaitu grinta - keras - tanpa mengorbankan kualitas yang 'lebih Italia' seperti permainan yang indah di dalam lapangan.

Kekecewaan dalam kariernya hanya terjadi saat membela Italia, yang hanya mencatatkan diri sebagai runner-up di Piala Dunia 1994 dan Piala Eropa 2000 (walaupun penampilannya di kedua turnamen ini luar biasa).

Jika keputusannya untuk pensiun di tahun 2009, di usia 40 tahun, membuktikan bahwa ia pun tidak bisa menghindari waktu yang terus berjalan, maka 25 tahun kariernya membuktikan sebaliknya: bertambahnya usia justru membuatnya terus meningkatkan talentanya.

Titik tertinggi dalam Karir
Maldini adalah bagian dari bukan hanya satu, tapi dua duet lini belakang terbaik sepanjang masa, yang pertama bersama Franco Baresi dan kemudian bersama Alessandro Nesta. Pencapaiannya dengan yang disebut pertama mencapai puncaknya di tahun 1992 saat Milan menjalani musim tak terkalahkan, yang pasti terpampang di atas CV-nya yang luar biasa.

Pages