11 Keajaiban yang Terjadi di Zona Degradasi Sepakbola Inggris

Tiga tim yang akan terdegradasi ke Championship musim depan sudah dipastikan sebelum musim berakhir, tapi kondisi di zona degradasi tidak selalu begini. Jon Spurling mengingatkan kita kembali kenangan-kenangan tim yang dengan ajaib lolos dari jurang degradasi di sepakbola Inggris..

Luton, 1982/83

“Itu adalah hari paling buruk saya di Manchester City,” mantan peain Sky Blues, Dennies Tueart, mengungkapkan hal itu setelah timnya degradasi ke Division Two pada hari terakhir musim 1982/83 setelah kalah 1-0 di kandang dari Luton Town. “Maine Road tampak seperti sebuah mausoleum, dan para pemain benar-benar terdiam setelahnya.”

Kekalahan City adalah keuntungan besar bagi Luton yang baru saja promosi. Sebelum duel dramatis keduanya, hitung-hitungan sederhananya sebenarnya seperti ini: menang atau imbang, dan City yang lebih diunggulkan pun akan aman.

Kalah dari tim tamu, dan mereka pun terdegradasi, sedangkan Luton akan selamat. Di pertandingan yang ketat dan penuh ketegangan ini, City tampak tidak yakin ingin mengamankan satu poin atau menghempaskan The Hatters. Mereka gagal melakukan keduanya. Dengan lima menit waktu tersisa, pemain pengganti Luton dari Yugoslavia, Raddy Antic, melesakkan bola ke gawang melewati kerumunan pemain City, dan timnya John Benson ini pun tenggelam. “Saya rasa kita akan degradasi,” komedian Eddie Large, yang duduk di bangku cadangan City, mengakui. Ia benar, dan para penonton Match of The Day pun terhibur dengan menyaksikan perayaan David Pleat mengelilingi Maine Road dengan jas ala awal 80an miliknya.

Coventry, 1984/85

Dalam waktu 32 tahun mereka berada di kasta teratas, Coventry sudah dua kali nyaris degradasi di tahun 1977 dan 1997, namun bisa dibilang aksi menyelamatkan diri sendiri mereka yang paling hebat datang di tahun 1985 the Sky Blues harus bisa memenangi tiga pertandingan terakhir untuk bisa bertahan, dan menyingkirkan juara Milk Cup, Norwich, yang sudah mengakhiri musim dengan kemenangan atas Chelsea dan unggul delapan poin di atas mereka.

Kemenangan satu gol melawan Stoke yang sudah lama degradasi dan satu lagi saat menghadapi penghuni papan tengah Luton membawa mereka selisih dua poin dari The Canaries, tapi tentu saja keberuntungan coventry akan berakhir di Highfield Road, menghadapi sang juara Everton. Secara luar biasa, gol-gol dari Micky Adams, Terry Gibson, dan dua dari Cyrille Regis membawa City menang 4-1 di depan para penonton Highfield Road yang bahagia melawan Everton yang tampak terlalu santai. Norwich, yang tenggelam layaknya batu setelah kemenangan mereka di Wembley, akhirnya degradasi. Coventry selamat dengan selisih satu poin saja.

Torquay, 1986/87

Tertinggal 2-1 dari Crewe dengan hanya beberapa menit tersisa di laga terakhir mereka, Torquay sudah siap untuk keluar dari Football League dan –menurut pimpinan klub mereka – menuju ke ‘Neraka Finansial’.

Di titik itu, takdir muncul dengan cara yang paling tidak terduga, saat seekor anjing polisi bernama Bryn menggigit kaki Jim McNichol –yang membuat pemain belakang Torquay ini harus menerima 17 jahitan.

Pertandingan pun terhenti selama empat menit, “tapi ini memberikan kesempatan bagi rekan-rekan saya untuk berkumpul kembali dan mengatur diri mereka lagi,” McNichol menjelaskan. Saat sang wasit bersiap meniup peluit akhir, Torquay menyamakan kedudukan –di menit keempat injury time- dan menyelamatkan diri mereka sendiri. McNichol tidak hadir di pesta setelah pertandingan “karena saya harus dicek apakah terkenan tetanus atau tidak,” tapi ia kemudian bertemu kembali dengan Bryn untuk berfoto bersama di depan media.

Everton, 1993/94

Di pertandingan terakhir musim 1993/94, satu posisi di zona degradasi terakhir masih mengancam Everton, Ipswich, Sheffield United, dan Oldham. Selama 81 menit, Everton yang sempat tertinggal 2-0 dari tim tamu Wimbledon di Goodison Park, sudah siap terbuang. “Kami tidak bisa bergerak karena begitu tegang di pertandingan,” pemain the Toffees, Barry Horne, mengakui. Ia kemudian menciptakan gol penyama kedudukan yang memberikan harapan bagi mereka di ujung babak kedua.

Tapi segera setelah The Toffees menyamakan kedudukan, Sheffield United – yang sedang unggul 2-1 dari Chelsea di Stamford Bridge- tiba tiba goyah. Hasil imbang saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat The Blades selamat, tapi mereka malah menyerang habis-habisan untuk mendapatkan kemenangan, sesuatu yang disampaikan (secara salah!) oleh bangku cadangan mereka. Mark Stein menciptakan gol kemenangan Chelsea di ujung injury time dan di Goodison Park, Graeme Stuart mengubah kedudukan menjadi 3-2 untuk tuan rumah di salah satu pertandingan paling absurd yang pernah ada. Everton selamat. Dan The Blades pun harus turun kasta.