12 Pemain Tua Terbaik 2015 (33 Tahun Ke Atas)

Tidak banyak yang menyadari bahwan pemain-pemain pilihan David Cartlidge di artikel ini telah berusia 33 tahun ke atas dan masih menjadi andalan timnya masing-masing...

Naldo (Wolfsburg, 33)

Naldo, bahkan di usia 33 tahun, tetap merupakan salah satu pemain yang paling bisa diandalkan di Bundesliga. Metamorforsis Wolfsburg menjadi peserta Liga Champions merupakan hasil kontribusi berbagai faktor, tetapi salah satu yang terbesar adalah penampilan bek Brasil yang mereka rekrut dari klub rival, Werder Bremen, pada tahun 2012.

Naldo mendapatkan julukan ‘The Beast’ (Bersama pemain hebat lain seperti Jon Parkin dan Brian Jensen, tentu) berkat kemampuan fisiknya yang tak hanya membantunya menghadapi para penyerang lawan, tapi juga menjadikannya sulit dihentikan di wilayah pertahanan lawan – dalam tiga musim penuh bersama Wolfsburg, ia mencetak 16 gol di liga, sebagian berkat tendangan bebas keras yang membuat pagar pemain lawan ketakutan.

Phil Jagielka (Everton, 33)

Baru-baru ini menjadi kapten Inggris pertama dalam sejarah Everton, Jagielka saat ini mempunyai dua peran penting di tim asal Merseyside ini. Pertama, ia fokus pada permainannya sendiri, sebagai pemain belakang yang solid dan bisa selalu diandalkan. Tetapi ia juga menjadi mentor bintang masa depan John Stones, menunjukkan padanya apa yang dilakukan seorang profesional sejati. Pada usia 33 tahun, Jagielka masih dalam kondisi yang sangat bagus dan bisa bermain cukup lama lagi di Premier League.ara penyerang lawan, tapi juga menjadikannya sulit dihentikan di wilayah pertahanan lawan – dalam tiga musim penuh bersama Wolfsburg, ia mencetak 16 gol di liga, sebagian berkat tendangan bebas keras yang membuat pagar pemain lawan ketakutan.

Xabi Alonso (Bayern Munich, 33)

Alonso telah lama menjadi contoh utama seorang pesepakbola berkelas. Hanya sedikit pemain yang lebih enak dilihat, dengan eks bintang Liverpool ini memiliki jangkauan umpan yang sangat bagus dan level kontrol yang luar biasa. Begitu bagusnya sampai-sampai ketika ia tersedia di pasar, Pep Guardiola dengan cepat membajak sang pemain dari Real Madrid.

Di Bayern Munich, ia segera menjadi bagian penting di tim, dan membuat bosnya gembira dengan kemampuan teknis yang membuat The Bavarians menyatu. Sang pemain sendiri masih terus belajar, dan mengaku bahwa ia lebih banyak belajar dari Pep Guardiola dibanding di sepanjang kariernya sebelum Bayern. Ia masih dijamin menjadi starter dan terus membuat para penggila statistik terkesima dengan umpan-umpan ala metronomnya.

Ruben Castro (Real Betis, 34)

Catat ini, para penyerang muda Spanyol, dan perhatikan pada dua penyerang berusia 34 tahun yang berada dalam kondisi puncaknya di La Liga. Di pertengahan usia 20an, Castro dan Aritz Aduriz (di bawah) tak banyak menginspirasi, tetapi semakin tua mereka semakin dewasa dan terus mengalami peningkatan.

Castro, sang pemain Betis, adalah tipe penyerang poacher, yang meski di usianya sekarang ini, masih mempunyai kecepatan dan, yang terpenting, akurasi di dalam dan di sekitar area penaltii. Penyelesaian akhirnya kini menjadi fitur permainannya yang paling penting – ia mencetak empat gol musim ini untuk Betis – tetapi pendekatan permainannya tak buruk: Castro bisa memanfaatkan assist yang aneh dan membuat lawan kesulitan dengan pergerakannya.

Aritz Aduriz (Athletic Bilbao, 34)

Aduriz lebih mengancam secara fisik ketimbang Castro, menggunakan kekuatan tubuh bagian atasnya dan kemampuannya di udara untuk mengalahkan bek lawan. Sejak direkrut dengan biaya murah€2,5 pada 2010, ia memimpin lini depan Athletic dengan penuh kebanggaan – hal yang biasa di klub seperti Athletic – tetapi yang terpenting, dengan semua kualitasnya. Aduriz memberikan energi, dan untuk saat ini ia memikul timnya sendirian. Dengan lima gol atas namanya musim ini, ia tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti.

Heurelho Gomes (Watford, 34)

Gomes mungkin pernah berpikir bahwa kariernya di sepakbola tertinggi telah usai, tetapi tak lama sebelum ia berusia 35 tahun, pemain Brasil ini kembali dan tampil hebat di Premier League. Catatan 14 clean sheetnya dalam 44 penampilan sangat membantu Watford untuk promosi dari Championship musim lalu, dan sejauh ini tak menunjukkan kalau ia pantas diberikan label bencana seperti yang terjadi padanya di Spurs. Gomes menunjukkan karakter yang kuat dan determinasi untuk membantu Watford bertahan di divisi tertinggi Inggris, sekaligus mengembalikan kredibilitas atas namanya.nggaan – hal yang biasa di klub seperti Athletic – tetapi yang terpenting, dengan semua kualitasnya. Aduriz memberikan energi, dan untuk saat ini ia memikul timnya sendirian. Dengan lima gol atas namanya musim ini, ia tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti.

Maxwell (PSG, 34)

Maxwell baru-baru ini mengonfirmasi bahwa ia akan meninggalkan sepakbola Eropa di akhir musim ini, tetapi mereka yang biasa menonton PSG akan berargumen bahwa ia masih bisa bermain di level tertinggi. Meski berusia 34 tahun, teman dekat Zlatan ini adalah pemain yang konsisten yang jarang mengalami penurunan level permainan.

Ia seperti Javier Zanetti dalam hal ini: tidak cepat juga tak terlalu bagus secara teknis tetapi merupakan seorang pemain yang bisa diandalkan yang tak akan mengecewakan timnya. Pemain-pemain muda bisa mencoba menantang posisinya, tetapi Maxwell telah menerapkan standar yang tinggi – tanya saja Lucas Digne, yang pindah sebagai pinjaman ke Roma setelah gagal mengalahkan sang pemain Brasil.

Zlatan Ibrahimovic (PSG, 34)

Masih merupakan sumber gol utama PSG di usia 34 tahun dan kini telah menjadi pencetak gol terbanyak mereka sepanjang masa setelah mencetak dua gol ke gawang Marseille pada awal Oktober. “Saya pikir saya masih terus meningkatkan diri, meski saya semakin tua,” katanya kepada situs resmi PSG. “Saya masih di sini, melakukan apa yang saya tahu dan melakukannya lebih baik lagi dan lagi.”

“Saya seperti wine – saya menjadi semakin baik dengan bertambahnya usia. Saya tidak merasa saya semakin tua... sebaliknya. Saya lebih kuat dan lebih kuat secara mental. Saya masih lapar dan itu akan membantu saya mencapai target-target saya.”

Silakan ragukan dia jika Anda berani. Penampilan pahlawan Swedia ini menakjubkan seperti biasanya – ia kembali dari jeda internasional dengan dua gol kemenangan atas Bastia, meneruskan gol-golnya ke gawang Moldova dan Liechtenstein; setelah itu dua gol ke gawang Marseille dan dua gol ke gawang Nantes dan Guingamp. Total, delapan gol dalam tujuh laga dicetak pemain yang diizinkan untuk dikenal dengan nama pertamanya ini.

Zlatan Ibrahimovic

Zlatan masih menjadi pencetak gol tersubur di Ligue 1 walaupun usianya tidak lagi muda

Dirk Kuyt (Feyenoord, 35)

Kuyt kembali Feyenoord musim panas ini untuk menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk sentimen di sepakbola, tetapi juga bahwa pemain Belanda ini belum berencana untuk bersantai. Faktanya, pemain favorit fans Liverpool ini mencetak tujuh gol dalam sembilan pertandingan untuk klub yang membesarkan namanya, dan baru-baru ini mencetak sebuah hattrick yang luar biasa di babak pertama ke gawang Heerenveen. Kuyt tidak diragukan lagi akan menjadi faktor besar bagi usaha Feyenoord kembali ke papan atas sepakbola Belanda musim ini.

Gianluigi Buffon (Juventus, 37)

Buffon telah selalu hadir di sepakbola Italia dalam waktu yang panjang, bahkan ketika Juventus terdegradasi ke Serie B. Kiper legendaris ini bertahan dan membantu Si Nyonya Tua bangkit, salah satu dari sedikit pemain top yang bertahan di klub itu.

Sang pemain mendapatkan ganjaran atas loyalitasnya saat Juventus lolos hingga final Liga Champions musim lalu, meski akhirnya kalah dari Barcelona. Dalam perjalanan ke sana, dan di partai puncak itu sendiri, Buffon lagi-lagi membuktikan kualitas kelas dunianya dan bahwa meski di usia 37 tahun ia masih bisa disebut berada dalam satu level dengan Manuel Neuer. Kiper-kiper pelapis di Juve sepertinya harus bersabar lebih lama.guage: EN-US;mso-bidi-language:AR-SA'>Silakan ragukan dia jika Anda berani. Penampilan pahlawan Swedia ini menakjubkan seperti biasanya – ia kembali dari jeda internasional dengan dua gol kemenangan atas Bastia, meneruskan gol-golnya ke gawang Moldova dan Liechtenstein; setelah itu dua gol ke gawang Marseille dan dua gol ke gawang Nantes dan Guingamp. Total, delapan gol dalam tujuh laga dicetak pemain yang diizinkan untuk dikenal dengan nama pertamanya ini.

Antonio Di Natale (Udinese, 38)

Di Natale terus membela Udinese dengan cara yang tidak bisa dilakukan pemain lainnya. Penampilan briliannya membuat klub dari timur laut Italia itu terus mencapai hal yang lebih tinggi daripada kelas mereka (meski hal itu tak terjadi musim ini), dan terus berharap untuk meraih kemenangan besar di setiap musimnya. Sejak memasuki usia 30an, eks striker timnas Italia ini menjadi lebih hidup dan menjelma menjadi salah satu penyelesai akhir paling mematikan di dunia. (Faktanya, antara tahun 2009 dan 201, hanya Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang mencetak lebih banyak gol daripada dia).

Pada November 2014, ia mencapai catatan 200 gol di Serie A, sebuah pencapaian yang hanya dicatatkan oleh lima pemain lainnya (Silvio Piola, Francesco Totti, Gunnar Nordahl, Giuseppe Meazza, dan Jose Altafini). Dan hampir semua pemain itu menghabiskan kariernya di klub-klub besar.

Hal terbaiknya adalah ia kini berusia 38 tahun dan masih terus membuat penyerang-penyerang muda di timnya menunggunya. Seorang legenda sejati.

Antonio Di Natale

Di Natale masih tetap bisa bermain di level tertinggi sepak bola Italia

Hilton (Montpellier, 38)

Sementara itu bek tengah Hilton punya cerita hebatnya sendiri. Di usia 38 tahun, ia tetap menjadi kapten Montpellier dan terus mempertahankan level kebugaran yang tinggi, membuatnya bisa terus bermain meski ia tak jauh dengan ulang tahunnya yang ke-40. Di level tertinggi, itu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan, tetapi pemain Brasil ini adalah contoh sempurna seorang profesional.

Sejak 2007, ia telah masuk dalam tim terbaik di Ligue 1 empat kali, menunjukkan bahwa usia hanya meningkatkan kecerdasannya untuk mengambil posisi yang lebih baik dan menutupi kekurangannya dalam hal kecepatan. Pada 2011/12, Hilton memenangi gelar dengan Montpellier juga, sebuah kesuksesan yang mengejutkan yang dicapai sebagiannya berkat penampilan hebat sang bek. Ia masih terus tampil musim ini, dengan selalu tampil 90 menit di setiap pertandingan sejauh ini dan kembali akan menyambut pertarungan dengan pemain-pemain seperti Ibrahimovic atau pemain yang lebih muda macam Alexandre Lacazette.

Baca fitur terbaik seperti ini hanya di FFT.com