Analisa

15 Gol Terbaik Premier League di Era 90an

Untuk merayakan majalah FourFourTwo edisi spesial 90an, kami melihat kembali gol-gol terbaik dari dekade 90an, termasuk gol-gol dari Cantona, Bergkamp, Wanchope dan yang lainnya…

We are part of The Trust Project What is it?

Dapatkan edisi terbaru majalah FourFourTwo - tersedia dalam bentuk cetak atau juga di iPad dan iPhone – sekarang

15. Gus Poyet, Chelsea vs Sunderland (1999)

Lihat gol Gus di 0:18

Calon pemenang gol terbaik dalam semusim tercipta di hari pertama musim 1999/2000. Poyet memang pemain yang melakukan penyelesaian akhir dalam gol ini, dengan tendangan guntingnya yang keras dari jarak 12 yard, namun keindahan golnya ini sebagian besar adalah berkat si pemberi assist, Gianfranco Zola.

Pemain Italia itu membuat jarak 10 yard dengan bek lawan lewat sentuhan pertamanya, dengan memutar untuk menjauh dari bek Sunderland, Chris Makin, yang bergerak mundur. Dia kemudian menahan bola dan menunggu Poyet yang sedang berlari sebelum akhirnya memberikan umpan cungkil ke pemain Uruguay itu, yang menyelesaikannya dengan penuh percaya diri.

14. Andrew Cole, Man United vs Leicester (1999)

Skuat Manchester United yang merebut treble musim 1998/99 memang lebih banyak dipuja daripada skuat klasik mereka musim 1999/2000, tapi sebetulnya skuat yang disebut terakhir adalah tim Premier League yang lebih baik, yang mampu menjuarai liga dengan keunggulan 18 poin atas rival terdekatnya, dibandingkan yang skuat musim sebelumnya yang hanya juara dengan selisih satu poin.

Kemenangan yang terjadi di bulan November ini berhasil mengangkat pemain-pemain asuhan Alex Ferguson itu ke puncak klasemen, di mana dua gol Cole membuat mereka unggul atas Leicester. Gol pertamanya adalah gol yang luar biasa: striker Inggris itu menyesuaikan tubuhnya untuk menembakkan tendangan salto yang memantul masuk di tiang gawang setelah menerima sundulan Ole Gunnar Solskjaer di pinggir kotak penalti.

13. Juninho, Man United vs Middlesbrough (1997)

Gol lainnya yang tercipta di Old Trafford, tapi kali ini dicetak oleh tim tamu. Middlesbrough tengah terlibat dalam pertempuran sengit di zona degradasi saat mereka harus bertemu dengan United yang sudah dipastikan juara pada Mei 1997, namun tak terlihat tanda-tanda rasa gentar dari tim tamu yang sedang kesulitan itu saat menghadapi tim United yang berisi Eric Cantona, David Beckham dan Roy Keane.

Kebuntuan kemudian pecah setelah tercipta proses 11 operan beruntun dari Boro yang terjadi di wilayah pertahanan The Red Devils. Boro mampu mengoper-oper bola dengan rapi sebelum Juninho memutuskan untuk mempercepat serangan dan bertukar umpan dengan Fabrizio Ravanelli dan Craig Hignett, lalu menembakkan bola ke pojok bawah gawang dengan penyelesaian akhir yang baik. Sungguh indah. 

12. Stan Collymore, Liverpool vs Newcastle (1996)

Konteks adalah sesuatu yang penting untuk gol mana pun, dan hanya sedikit gol yang memiliki konteks yang lebih hebat daripada drama yang satu ini. Dianggap oleh banyak orang – meskipun tidak oleh FFT (maaf) – sebagai pertandingan terbaik Premier League sepanjang masa, skor tengah berada pada angka 3-3 ketika Collymore menyelesaikan pertandingan yang begitu seru ini dengan keunggulan bagi Liverpool di masa injury time babak kedua.

Beberapa operan satu sentuhan yang cepat dari The Reds membuat John Barnes berhasil menusuk masuk di antara dua lini pemain Newcastle, sementara Ian Rush dan Steve McManaman berlari maju untuk memberikan dukungan. Setelah beberapa kali melakukan operan satu-dua, Barnes – dengan suara harapan muncul di sekeliling Anfield dan lima bek menghalangi jalurnya ke arah gawang – dengan cukup tenang memberikan umpan kepada Collymore yang tidak terjaga di ujung kotak penalti. Selebihnya, seperti yang dikatakan orang-orang, adalah sejarah.

11. Paulo Wanchope, Man United vs Derby (1997)

Ini memang tidak benar-benar seperti gol George Weah vs Verona, tapi ada beberapa kesamaan antara mahakarya pemain Liberia tersebut dan gol ajaib Wanchope – yang bahkan tercipta pada debutnya bersama Rams. Striker baru Derby ini, yang dibeli dengan nilai £600.000 dari Herediano, menerima bola di wilayah pertahanan timnya sendiri dan langsung memikirkan satu hal: membawanya langsung ke depan. Penyerang bertubuh kurus ini lalu menggiring bola ke depan, melewati empat pemain lawan di belakangnya sebelum menyelesaikannya dengan tenang ke gawang Peter Schmeichel.

Kritikus mungkin akan berpendapat bahwa pemain Kosta Rika ini tidak benar-benar mengendalikan bola sepenuhnya, tapi arah gulir bola yang kurang sempurna itu sebetulnya sebagian besar dikarenakan kondisi lapangan Old Trafford daripada teknik sang striker. Justru, Wanchope pantas mendapat pujian ekstra karena mampu menguasai medan, terutama meski Phil Neville sampai berusaha menekel pergelangan kakinya.