Analisa

15 Gol Terbaik Premier League di Era 90an

We are part of The Trust Project What is it?

10. Philippe Albert, Newcastle vs Man United (1996)

Lihat gol di 1:29

“Di hari lain Newcastle mungkin hanya akan mencetak satu gol,” tukas Martin Tyler berkomentar di Sky Sports, “tapi di sini mereka malah sedang mencari gol kelima.”

Mereka berhasil mencetak gol kelima itu dengan luar biasa beberapa detik kemudian, saat Albert berlari maju dengan bola dari posisinya sebagai bek tengah, lalu melepaskan sebuah tendangan cungkil yang terukur nan indah, yang melewati atas kepala Peter Schmeichel. Gol dari pemain Belgia itu menggambarkan dengan sempurna tim Newcastle asuhan Kevin Keegan yang hebat pada pertengahan era 90an, yang tidak menjuarai apapun tapi memberikan banyak hiburan bagi para penggemar Liga Inggris.

9. Matt Le Tissier, Southampton vs Man United (1996)

Rasanya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa daftar terbaik gol Premier League di era 90an ini bisa diisi secara eksklusif hanya dengan gol-gol dari Le Tissier dan masih dianggap sebagai daftar yang bagus. Salah satu gol terbaik penyihir Southampton ini terjadi saat melawan Manchester United, klub Inggris paling sukses di dekade ini yang, entah bagaimana, punya kebiasaan aneh untuk kebobolan dari gol-gol cantik.

Setelah menyelinap masuk ke ruang kosong di antara lini tengah dan lini pertahanan The Red Devils, Le Tissier melewati David May dan Gary Pallister sebelum melepaskan tendangan cungkil yang indah yang melewati Schmeichel yang malang (yang sekarang menjadi bagian tetap dalam daftar ini). 

8. Nwankwo Kanu, Middlesbrough vs Arsenal (1999)

Para pakar dan komentator seringkali memuji para pemain yang, alih-alih berdiri diam dan mengagumi operan yang mereka buat, langsung bergerak lagi begitu bola meninggalkan kaki mereka. Namun dalam proses golnya ke gawang Middlesbrough pada bulan April 1999, Kanu tidak melakukan hal seperti itu.

Alih-alih merangsek ke area penalti untuk menjadikan dirinya sebagai target, pemain Nigeria yang tidak biasa itu berjalan maju dengan kecepatan siput setelah memberikan bola ke Lee Dixon sejauh 40 yard dari gawang. Full-back Arsenal itu dan Ray Parlor kemudian berkerja sama di sisi kanan lapangan, sementara di saat yang sama, Kanu yang berjalan dengan santai telah sampai ke dalam kotak penalti. Di sana, dia menyambut umpan silang mendatar Dixon dengan sebuah tendangan tumit yang indah.   

7. Robbie Fowler, West Ham vs Liverpool (1997)

Sebagai salah satu penyerang tengah yang paling efektif yang pernah ada di Premier League, Fowler telah mencetak hampir setiap jenis gol yang bisa dibayangkan di sepanjang kariernya di Liverpool. Salah satu yang terbaik terjadi dalam kekalahan 2-1 Liverpool dari West Ham pada tahun 1997, ketika pemain yang dijuluki ‘Tuhan’ oleh penggemar The Reds ini membuat tribun tandang di Upton Park bergolak kegirangan.

Ketika sundulan dari pemain West Ham membuat bola mengarah ke dirinya di depan kotak penalti, Fowler melepaskan tendangan voli fenomenal yang meluncur ke pojok atas gawang. Tekniknya indah, di mana Fowler mengangkat kaki kirinya lalu menendang bola dengan manis dan tidak memberikan kiper Hammers, Ludek Miklosko, kesempatan sama sekali untuk menghentikannya.

6. Ian Wright, Arsenal vs Everton (1993)

Lihat gol di menit 0:42

Tim medis Everton diharapkan tahu bagaimana mengobati ‘twisted blood’ setelah Matt Jackson  dihabisi oleh Wright pada Agustus 1993. Striker Arsenal tersebut mengambil posisi sempurna untuk menerima umpan panjang dari belakang, dengan kegagalan Toffees untuk memenangkan sundulan pertama membuat Jackson harus berhadapan satu lawan satu dalam situasi yang berbahaya melawan Wright.

Pemain internasional Inggris itu kemudian mengangkat bola ke satu arah dengan kaki kanannya, sebelum menyentuhnya lagi di udara untuk membawanya ke arah yang lain, membuat Jackson tersentak. Wright tidak terlihat panik begitu dia berada di dalam kotak penalti (kapan dia pernah panik?); ia membiarkan bola memantul tanah terlebih dahulu sebelum melepaskan tendangan lob yang manis ke sudut jauh gawang.