Analisa

16 Pemain Terbaik Premier League di Era 1990an

Best Premier League players

Dengan Majalah FourFourTwo spesial era 90an yang sudah terbit, Huw Davies menilai para pemain terbaik di dekade tersebut untuk menghormati sepak bola Inggris – dari kapten terbaik hingga aseniman lapangan hijau yang tak kenal ampun terhadap lawan-lawannya.

We are part of The Trust Project What is it?

Dapatkan edisi terbaru dari majalah FourForTwo - tersedia dalam bentuk cetak, atau juga bisa didapatkan melalui iPad dan iPhone – sekarang

16. Gary Speed (Leeds, Everton, Newcastle)

Gary Speed

Dalam 10 tahun pertama Premier League, tidak ada pemain yang lebih sering bermain ketimbang Speed, dan komitmennya yang luar biasa tinggi untuk menjaga kebugaran membuatnya terus bertahan hingga bertahun-tahun kemudian - di usia 35 tahun, kemudian 37 tahun - untuk bermain di setiap pertandingan dalam dua dari tiga musim bersama Bolton. Pencapaiannya sebagai pemain dengan catatan penampilan terbanyak kelima dengan 535 penampilan bakal sulit dilampaui dalam waktu dekat.

Tapi kebesaran nama Speed ​​lebih dari sekadar konsistensi. Pada era keemasannya bersama Leeds (di mana dia memenangi gelar pada 1991/92), Everton, dan Newcastle, pemain dari Wales ini menujukkan kepemimpinan, kecerdasan, fleksibilitas, kreativitas, keteguhan, keberanian, dan gol: 80 gol di Premier League, satu gol di setiap enam atau tujuh permainan, dan sebagian besar adalah hasil dari sundulan -  sebuah torehan tidak biasa untuk seorang pemain dengan posisi gelandang, pemain sayap, dan full-back.

15. Gary Pallister (Man United, Middlesbrough)

Gary Pallister

Anda pasti tahu. Keengganan Pallister untuk berada di bawah sorotan kamera membuat kontribusinya untuk Manchester United di era 90an diremehkan. Namun duetnya di jantung pertahanan bersama Steve Bruce begitu mengintimidasi layknya nama panggilan mereka, Dolly dan Daisy.

Selain menerima penghargaan PFA Player of the Year pada tahun 1992, Pallister masuk Team of the Year empat kali berturut-turut; lima kali secara keseluruhan. Dia mempersembahkan empat gelar dalam enam musim Premier League untuk United, dan justru kebobolan paling sedikit dalam dua musim yang tidak mereka menangi dari periode tersebut: hanya 54 gol dari 80 pertandingan di musim 1994/95 dan 1997/98. Setidaknya, Pallister telah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

14. Patrick Vieira (Arsenal)

Patrick Vieira

Sempat dijuluki sebagai 'The Thinking man's Carlton Palmer' oleh The Times - sebuah julukan yang menggambarkan bahwa Vieira adalah sosok yang berhasil memberikan perbedaan terhadap sepakbola Inggris kala itu yang masih sangat condong mengandalkan fisik -- Vieira kemudian menjadi salah satu gelandang terbaik Premier League. Posisinya yang rendah dalam daftar ini hanya karena pemain Prancis tersebut baru berusia 23 tahun ketika tahun 90an berakhir dan bahkan dengan keberhasilan meraih Piala Dunia dan double winners pada tahun 1998, dia belum mencapai puncak permainannya saat itu.

Meskipun demikian, Vieira pada 90an memiliki bakat serba bisa yang luar biasa. Jika dilihat dari postur tubuhnya ia seperti gelandang perusak, tapi dia juga mampu menaklukkan pemain lawan dan membawa bola. Dia juga menciptakan banyak peluang - termasuk, sayangnya, satu untuk gol Ryan Giggs dalam pertandingan ulang semifinal Piala FA pada tahun 1999.

13. David Beckham (Man United)

David Beckham

Jelang tahun 2000, Beckham menguasai Inggris, citranya melekat di pikiran setiap orang. Jadi, saat hiruk pikuk mengenai hubungan Posh Spice alias Victoria Adams dan Becks mencapai puncaknya pada tahun 1999 dengan  sebuah acara pernikahan besar-besaran, seorang anak dengan nama khas selebriti (Brooklyn) dan merujuk pada klutur pop Amerika, banyak pihak yang meragukan kapasitas Becks yang sesungguhnya di atas lapangan.

Tentu saja dia (sebenarnya) hebat. Dibekali teknik luar biasa serta latihan yang sangat keras membuat Beckham yang baru berusia 20 tahun bisa bermain reguler di Manchester United yang saat itu meraih double winners, sebelum menggebrak musim 1996/97 dengan golnya dari tengah lapangan. Jelang akhir musim 1999/2000, Beckham - yang saat itu lebih seperti seorang gelandang berposisi di sisi kanan ketimbang seorang pemain sayap - telah berkontribusi sebagai pencetak gol dan pemberi assist dalam 80 gol dengan 175 penampilan di Premier League. Ya, dia jelas bisa bermain sepakbola.

12. Tony Adams (Arsenal)

Tony Adams

Pada debutnya di Arsenal, Adams bermain bersama Pat Jennings. Dalam penampilan terakhir bersama Arsenal, dia bermain bersama Ashley Cole. Menjadi bagian dari jantung pertahanan satu tim selama hampir 20 tahun adalah sebuah catatan yang cukup mengesankan, mampu melakukannya ketika susunan skuat terus berubah adalah sebuah pencapaian tersendiri, dan menjadi kapten dari usia 21 tahun sampai pensiun di usia 35, tentunya sangat spesial.

Arsene Wenger adalah manajer kelima Adams di Highbury, namun gaya hidupnya mengancama kariernya: Adams mengakui bahwa dirinya mengalami kecanduan alkohol ketika manajer barunya itu baru saja ditunjuk.

Namun, keduanya bekerja sama untuk menghentikan budaya minum alkohol di Arsenal, dan Adams sukses merapatkan pertahanan timnya, sementara Wenger menambahkan sentuhan permainan indah di lini serang. Hasilnya: dua kali double winners dalam lima tahun. Perseteruan mereka di kemudian hari benar-benar tampak seperti sebuah pernikahan yang berakhir dengan perceraian yang menyakitkan.

11. David Ginola (Newcastle, Tottenham)

David Ginola

Mungkin banyak yang menilai bahwa kami tersihir oleh pesona Ginola dan rambutnya yang indah. Ditambah lagi, nama tengahnya adalah Desire (gairah).

Namun, bukan suatu kebetulan bahwa Newcastle sebagai muncul sebagai kandidat juara Premier League dua musim beruntun ketika Ginola bermain di Tyneside. Kemudian, di Spurs, di musim ketika Manchester United memenangi  trigelar, seperti dikutip oleh Wikipedia: "Ginola terpilih sebagai PFA Player of the Year dan FWA Player of the Year setelah membantu klubnya memenangi Piala Liga." Banyaknya suara pemain United yang terpecah menunjukkan seberapa hebat pengaruh yang diberikan pria Prancis itu di Inggris.