Analisa

16 Transfer Pemain Teraneh dalam Sejarah Sepakbola Britania Raya

Allan Simonsen, Charlton Barcelona
We are part of The Trust Project What is it?

9. Carlos Tevez & Javier Mascherano (MSI ke West Ham)

Kepindahan kedua pemain ini ke West Ham memicu investigasi kepemilikan pihak ketiga, proses persidangan selama bertahun-tahun yang melibatkan The Blades

Transfer duo ini secara tidak terduga terjadi pada 2006. Bahkan ketika West Ham harus membayar denda £5,5 juta karena melanggar aturan Premier League karena mendatangkan pemain dari pemilik pihak ketiga (Tevez dan Mascherano bermain untuk Corinthians tapi merupakan 'aset' perusahaan yang dimiliki oleh Kia Joorabchian), mereka tahu dua pemain ini akan menyelamatkan status mereka di Premier League.

Ternyata, Tevez mendapatkan bayaran lebih besar dengan mengorbankan rekan senegaranya, karena West Ham memutuskan mereka hanya mampu membayar bonus pertandingan untuk satu orang pemain saja dan itu adalah untuk pemain yang bisa mencetak gol. Jadi, sementara Mascherano hanya bermain di lima pertandingan – semuanya berakhir dengan kekalahan – dan menjadi pelapis Hayden Mullins, Tevez membantu menyelamatkan The Hammers dari degradasi dengan menyingkirkan Sheffield United.

Kepindahan kedua pemain ini ke West Ham memicu investigasi kepemilikan pihak ketiga, proses persidangan selama bertahun-tahun yang melibatkan The Blades, dan melonggarnya batasan moneter dan moral dalam sepak bola. Namun, Neil Warnock yang mengajukan tuntutan (atas nama Sheffield United yang merasa dirugikan karena gol kemenangan West Ham di partai terakhir musim 2006/07 dicetak oleh Carlos Tevez yang dinilai tidak sah statusnya dan membuat mereka terdegradasi) akhirnya menang di pengadilan dengan menerima £15 juta sebagai kompensasi.

10. Allan Simonsen (Barcelona ke Charlton)

Suporter Charlton tidak merasa bahagia dengan transfer-transfer yang dilakukan pemilik klub saat ini. Protes mereka cukup beralasan. Tapi, kami tidak akan terkejut jika beberapa dari mereka merasa kecewa karena tidak bisa memboyong pemain juara Eropa lagi ke klub ini. Mungkin mereka belum bisa melupakan transfer yang satu ini.

Allan Simonsen baru saja mencetak gol yang membawa Barcelona menjuarai Piala Winners, ketika mereka mendatangkan Diego Maradona untuk menjadikan Simonsen sebagai pemain cadangan yang direncanakan akan dilepas.

Allan Simonsen, Charlton

Setelah beberapa bulan dan sembilan gol dalam 16 pertandingan, Charlton memutuskan mereka tidak bisa membayarnya

Mengapa Charlton, yang berada di divisi kedua, menjadi tujuan utama Simonsen tentu cukup membingungkan, namun ia beralasan bersedia bermain untuk klub Inggris ini karena ingin hidup tenang. Selain itu, dia sudah memiliki banyak gelar dan uang.

11. Steven Caulker (QPR ke Liverpool, pinjaman)

Jurgen Klopp mendatangkan Caulker setelah melihatnya bermain di lini pertahanan Southampton yang dikalahkan 6-1 oleh Liverpool. Wajar jika ia pun memainkan Caulker di lini depan dalam tiga pertandingan pertamanya.

Untuk membalas kepecayaan Klopp, Caulker berperan penting dalam terciptanya gol penentu kemenangan yang dicetak Adam Lallana dalam kemenangan 5-4 Liverpool atas Norwich. Ini mengingatkan kita pada keputusan bos Manchester City, Stuart Pearce, yang meminta David James merangsek ke lini depan, yang kemudian menghasilkan hadiah penalti yang bisa saja membawa City ke kompetisi Eropa, namun Robbie Fowler gagal mengeksekusinya - mungkin karena masih bingung melihat James begitu jauh di depan.

Klopp adalah orang yang pintar, tapi kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa ia mungkin mengira Caulker bisa mencetak satu gol per laga di level internasional dan mencetak gol kemenangan.

12. Sergei Yuran (Spartak Moscow ke Millwall, pinjaman)

Yuran mengakui kegagalannya selama di Milwall pada 1996 – sebuah keputusan yang dinilai menarik namun juga tak terduga – disebabkan kebiasannya yang suka berpesta

"Jimmy Nicholl mengatakan saya adalah pemain yang paling tidak profesional yang pernah ia temui. Itu benar."

Yuran mengakui kegagalannya selama di Milwall pada 1996 – sebuah keputusan yang dinilai menarik namun juga tak terduga – disebabkan kebiasannya yang suka berpesta, dan bahwa ia meyakinkan istrinya yang baru dinikahinya bahwa itu "adalah yang dilakukan para pemain yang tinggal di Inggris."

Anda harus menghormati keterbukaan Yuran – dan bahwa ia punya nyali untuk memilih kebebasan dengan Millwall.