1982: Viva Spanyol! Mengenang Piala Dunia 1982

Keindahan Brasil, kegarangan Jerman Barat, dan penebusan Rossi: kenangan abadi dari turnamen luar biasa yang dimainkan di Spanyol ...

Piala Dunia ini ditutup dengan kemenangan apik Italia, namun kesuksesan turnamen ini sendiri berhasil dicapai setelah semua rintangan mampu ditepis, bagai sebuah drama yang dimainkan di panggung berlatar belakang kontoversi dan skandal.

Tim Italia mungkin berhasil mengangkat trofi berkat gaya bermain menyerang nan memukau ala Paolo Rossi, namun awalnya mereka tiba dengan predikat sebagai tim yang terkenal suka bertahan, dan Rossi sendiri juga dikritik karena sering tampil kurang bugar,  sejak kembali tampil setelah bebas dari sanksi larangan bermain selama dua tahun.  Di lain pihak, Jerman Barat masuk ke Piala Dunia ini sebagai salah satu tim yang difavoritkan setelah lolos kualifikasi dengan kemenangan 100 persen. Namun, sebelum semua laga di fase grup usai, mereka telah membuat publik dunia murka berkat "perjanjian damai" tak resmi mereka dengan Austria, di mana Austria setuju untuk kalah dari Aljazair.

"Swizz!" Pria Aljazair yang berang memberi tanda.

Fakta bahwa turnamen tersebut berhasil digelar pun sudah seperti suatu prestasi. Dihelat enam tahun setelah kematian Franco dan empat tahun setelah diperkenalkannya demokrasi, ada keraguan yang mencuat bahwa Spanyol tak akan mampu menggelar ajang global seakbar itu. Seminggu sebelum laga pembuka, di mana infrastruktur yang akan digunakan pun masih carut marut, surat kabar nomor satu Spanyol, El Pais, menyebut turnamen tersebut sebagai "bencana besar nasional". 

Pengundian ternyata menambah keruwetan: bola yang mewakili Peru dan Chili tidak dimasukkan ke wadah, lantas bola Skotlandia tertukar dengan bola Argentina, lalu wadah yang berisi semua bola-bola tak bisa diputar, di mana ada satu bola yang entah bagaimana bisa meluncur sendiri keluar dan ada satu lagi yang terbelah dua. 

Bahkan tanpa keruwetan tak terduga seperti itu, pengundian untuk memutuskan tim apa yang akan melawan tim mana saja  sudah rumit. Ada 24 negara yang berhasil masuk ke Piala Dunia, dan dengan jumlah sebanyak ini, ada ketakutan bahwa tim-tim asal Kuwait, Honduras, dan El Salvador hanya akan menjadi tim-tim juru kunci. Format baru dibutuhkan untuk mengakomodasi mereka semua dengan adil: fase grup berurutan dipertahankan untuk ketiga kalinya, tapi sistem gugur di semifinal akhirnya diperkenalkan kembali untuk pertama kalinya sejak tahun 1970.  

Brasil juga sudah tampil buruk sejak tahun 1970, namun keberhasilan mereka melumat Republik Irlandia 7-0 di laga akhir babak kualifikasi memang sudah terprediksi.  Dengan kehadiran Zico, Socrates, Falcao, dan Junior, timnas Brasil dipenuhi oleh bakat-bakat alam yang membuat mereka sulit untuk tidak dibanding-bandingkan dengan tim yang berhasil menjuarai Piala Dunia tahun 1958 dan 1970. Namun, mereka juga kekurangan penyerang, penilaian yang dikeluarkan Maradona dengan berapi-api kala pertukaran pra-turnamen.

"Saya akan menyerang Anda dalam satu menit, pipi tembem!"

Tim juara Argentina biasanya juga masuk dalam jajaran tim-tim favorit, namun kedatangan mereka di Piala Dunia saat konflik Falklands tengah memuncak, membuat mereka dirundung kontroversi. Pada era lain langkah menurunkan tim untuk berlaga di Piala Dunia sementara serdadu mereka habis-habisan bertempur di medan perang mungkin merupakan sesuatu yang tak masuk akal. Namun, itu bisa dianggap sebagai tanda bahwa ajang akbar ini begitu pentingnya, sampai-sampai  Argentina dan tiga negara Britania Raya: Inggris, Skotlandia, dan Irlandia Utara tetap ingin berpartisipasi meski sedang berperang.

Bayang-bayang perang dan keluhan soal jadwal dan pemesanan tiket menyelimuti turnamen ini, namun di dalam lapangan, Piala Dunia 1982 menuai sukses besar, di mana Rossi mampu menghiasi kompetisi itu dengan kisah kemenangan yang mematahkan semua anggapan miring tentang dia dan kemampuannya.

Dari bukan siapa-siapa menjadi sosok yang diperhitungkan hanya dalam sebulan, inilah Piala Pablito.

Piala Dunia 1982: Interviews, features, top 10s, videos