Kisah

Dua Tahun yang Sia-Sia? Tentang Kegagalan Indonesia di Piala AFF 2018

Sepakan bola yang melayang ke arah bangku cadangan Thailand oleh Abduh Lestaluhu pada final leg kedua Indonesia vs Thailand di Piala AFF 2016 silam menjadi rangkuman keruwetan sepakbola negeri kita yang baru bebas dari sanksi FIFA saat itu. Lelah dan frustrasi seakan bersatu menjadi emosi. Saat itu, perilaku Abduh memang sangat ‘sepakbola Indonesia’ sekali.

We are part of The Trust Project What is it?

Memang tak elok menggeneralisir bahwa sepakbola Indonesia seluruhnya sedang dalam masa kegelapan. Buktinya, adik-adik kita di tim nasional junior bertindak layaknya lilin dalam kegelapan. Mereka menerangi sepakbola Indonesia meski akhirnya mungkin bisa bernasib seperti lilin; hancur perlahan digerus waktu. Tentu saja, kita semua tak berharap adik-adik ini akan menghilang begitu saja di level senior nanti.

Ratusan atau bahkan mungkin ribuan tulisan tentang kebobrokan sepakbola Indonesia di berbagai media memang sudah menjadi bacaan pokok rekan-rekan pecinta sepakbola lokal. Para pembaca mungkin bosan, pun juga bagi para penulisnya. Menyuarakan kritik di tengah kebebalan federasi ini tampak takkan menemukan ujungnya.

Sejak kejadian tersebut, Thailand menegaskan diri mereka sebagai raja sepakbola ASEAN dengan lima gelar AFF. Sedangkan di saat bersamaan, Indonesia adalah raja dalam urusan tempat kedua di kompetisi yang sama dengan lima kali masuk final dan berakhir sebagai runner-up saja. Semenyedihkan itu memang sepakbola kita.

Ada jarak dua tahun menuju 2018 dari 2016 untuk memupuk kembali mimpi menjuarai Piala AFF untuk pertama kalinya. Luis Milla datang dan diproyeksikan sebagai pelatih tim nasional U23 untuk ajang SEA Games 2017 dan Asian Games 2018 lalu. Targetnya cukup tinggi; emas di SEA Games dan masuk semi final Asian Games. Bayangkan saja, pembinaan di level junior yang megap-megap saat itu ditargetkan tinggi oleh federasi. Bermimpi besar boleh, realistis juga perlu, bung!

Kontrak dua tahun Luis Milla tersebut, uniknya tak menyebutkan bahwa Piala AFF masuk dalam jangkauan pelatih berkebangsaan Sapnyol tersebut. Silakan koreksi jika kami salah, namun seingat kami, Luis Milla hanya dikontrak untuk dua ajang sepakbola yang hanya menjadi bagaian di event multi-olahraga. Asian Games memang levelnya tinggi sampai-sampai Son Heung Min rela cuti meninggalkan Tottenham Hotspur untuk hanya sekadar bermain di Soreang hingga Pakansari. Namun bagi sepakbola Indonesia, ketimbang Asian Games, Piala AFF adalah gerbang besar untuk lebih berprestasi.

Tak mengherankan jika saat konferensi pers terakhirnya pasa laga Indonesia U23 vs Uni Emirat Arab U23  di Wibawa Mukti beberapa waktu lalu, Milla berkata bahwa pihak federasi, dimatanya, tampak belum ada niat keinginan untuk meneruskan kinerjanya di tim nasional. Terlepas dari masalah profesionalisme, gaji yang ditunggak dan hingga gagalnya membujuk balik Milla ke timnas pasca ia pulang kampung, namun federasi selayaknya mengontrak pelatih hingga penghujung kalender 2018 ini yang masih menyisakan ajang seperti Piala AFF.

Kami jelas saja bingung kemana harus menyalahkan kondisi ini selain kepada PSSI? Toh, federasi sepakbola kita, kan, yang mengurusi semuanya. Mengurusi tim nasional, mengurusi kompetisi, mengurusi suporter hingga mengurusi pembinaan sepakbola dini. Kita tak tutup mata bahwa PSSI sedang berupaya mengedukasi lewat kurikulum Filanesia dan program lainnya. Namun hal itu saja tak membuat borok lainnya tertutupi begitu saja.