Top 10/50/100

25 Pertandingan Terhebat yang Pernah Terjadi di Liga Champions Eropa

As the Champions League knockout stage returns, we count down the greatest games since 1992. Can any rival a certain instant classic from last season?

We are part of The Trust Project What is it?

Oleh: Andrew Murray, Nick Moore, James Maw

25. Dinamo Zagreb 1-7 Lyon

Babak grup, 2011/12

Dejan Lovren, di masa-masa yang lebih baik

Tunjuk tangan jika Anda tahu siapa pencetak hat-trick tercepat di Liga Champions. Tunjuk tangan jika Anda adalah salah satu orang yang kedinginan di Stadion Maksimir pada sebuah malam di bulan Desember untuk menyaksikan pemain depan Lyon, Bafetimbi Gombis, menaklukan tuan rumah Dinamo Zagreb dengan skor 7-1. Ehm, kami rasa tidak.

Lyon membutuhkan Ajax, yang berada di peringkat dua grup, untuk kalah dari Real Madrid dan kemenangan tujuh gol untuk dapat melaju ke babak gugur. Namun, Lyon malah sempat tertinggal lebih dahulu dari gol Mateo Kovavic saat itu, sebelum kemudian memberikan respon yang luar biasa. Pertama, Gomis mencetak gol penyeimbang sebelum akhir paruh pertama pertandingan. Lalu Maxime Gonalons mencetak gol di menit ke-47, sebelum Gomis mencatatkan trigol dengan golnya di menit 48 dan 52. Lisandro Lopez, Jimmy Briand, dan satu gol tambahan dari Gomis melengkapi pesta gol pada pertandingan ini. Sementara di laga lainnya, Ajax kalah 3-0 dan Lyon pun berhak maju ke babak selanjutnya.

Dinamo kemudian memecat bos pelatih Krunoslav Jurcic. Ia meminta maaf kepada para fans “atas hal memalukan” tersebut. Daftar FFT baru saja dimulai.

24. Leeds 4-1 Stuttgart

Babak pertama, leg kedua, 1992/93

Eric Cantona menaklukkan calon kiper Manchester City di masa depan, Eike Immel

Kompetisi yang baru berganti nama ini dimulai dengan hal yang tak mengenakkan pada saat Leeds dan Stuttgart harus menjalani pertandingan ulangan di babak pertama turnamen setelah agregat keduanya seri 4-4.

Anda merasa bingung? Begitu pula perasaan jawara Bundesliga itu, yang sebelumnya menang 3-0 di Stadion Neckerstadion sebelum akhirnya kalah 4-1 di Yorkshire. Seharusnya Stuttgart menang dengan peraturan gol tandang, tapi, pelatih klub, Christoph Daum, tanpa sadar memainkan pemain bertahan asal Yugoslavia, Jovo Simanic, sebagai pemain pengganti di menit 83. Ini membuat Stuttgart memainkan lebih dari tiga pemain asing atau melebihi jumlah yang dibolehkan. Leeds pun diberikan kemenangan 3-0, dan menyamakan agregat dengan Stuttgart.

UEFA akhirnya mengadakan pertandingan ulangan di tempat netral, Camp Nou, akan tetapi pihak Jerman tidak senang akan hal tersebut. Mereka mengklaim bahwa Gary Speed, pemain Leeds kelahiran Wales, bukan pemain lokal (Home-grown player). UEFA tidak setuju dengan hal tersebut dan akhirnya Leeds menang 2-1 berkat gol dari Gordon Strachan dan Carl Shutt.

23. Inter Milan 2-5 Schalke

Babak perempat final, leg pertama, 2010/11

Benedikt Hôwedes dan Raul merayakan kemenangan timnya

Apakah itu burung? Ataukah pesawat? Bukan, itu adalah Manuel Neuer yang berhasil menghadang bola dengan gaya terbang ala Superman di detik ke 27 pertandingan. Sayangnya bagi kiper Schalke itu, Dejan Stankovic berhasil meneruskannya dengan tendangan voli dari tengah lapangan yang melewati kepala kiper Jerman itu.

89 menit setelahnya pun tak kalah menarik. Raul, yang saat itu sudah berumur 33 tahun, bahkan mampu mengulang masa-masa kejayaannya berkat performa buruk pertahanan lawan.

22. Borussia Dortmund 3-1 Juventus

Final, 1996/97

Ricken merayakan gol ketiga Dortmund

“Masuklah dan cetak gol penentu,” perintah pelatih Ottmar Hitzfeld pada gelandang Dortmund, Lars Ricken, sebelum sang pemain masuk menggantikan Stephane Chapuisat di laga final tahun 1997. Ia hanya butuh waktu 16 detik untuk mengeksekusi perintah pelatihnya itu, setelah sentuhan pertamanya di pertandingan ini, sebuah tendangan cungkil yang cantik, mengantarkan klubnya pada kemenangan 3-1 yang terkenal itu.

Ini adalah pertandingan yang ditentukan oleh para pemain pengganti: Alessandro Del Piero masuk menggantikan Sergio Porrini setelah jeda pertandingan untuk memberikan energi baru bagi Si Nyonya Tua setelah Karl-Heinz Riedle mencetak dua gol di babak pertama. Riedle sendiri sudah memiliki firasat sebelum pertandingan, ketika ia terbangun jam 3.30 dini hari dengan keringat dingin di hari pertandingan. “Saya bermimpi akan mencetak dua gol,” katanya.

21. Hamburg 4-4 Juventus

Babak grup, 2000/01

Zidane mendapatkan kartu merah

Apa saja syarat-syarat untuk jadi pertandingan klasik di babak grup? Gol cepat? Kiper mencetak gol? Sebuah comeback yang mendebarkan? Sebuah gol balasan di menit-menit terakhir pertandingan yang kontroversial? Tony Yeboah?

Lima alasan itulah yang membuat hasil imbang 4-4 antara Hamburg dan Juventus asuhan Carlo Ancelotti layak mendapat status mitos. Sundulan Igor Tudor di menit ke enam, dan juga selebrasi maniaknya hingga ke tengah lapangan, memulai laga penuh kejutan ini. Mantan pemain andalan Leeds, Yeboah punya peran besar di laga ini.

Ketika kiper Hamburg, Hans-Jorg Butt, berhasil menyamakan skor pertandingan menjadi 3-3 dengan sisa waktu 18 menit – setelah ancang-ancang yang aneh dari kiper yang mencetak sembilan gol di musim sebelumnya – drama ternyata masih belum selesai.

Kejutan pun belum juga usai ketika Niko Kovac mencetak gol dari jarak enam yard di menit ke 82. Untungnya, Juventus mendapatkan tendangan penalti setelah Filippo Inzaghi dijatuhkan dengan tarikan baju di kotak penalti dua menit sebelum laga usai. Penyerang itu kemudian bangkit dan mengeksekusi penalti dengan baik, dan menyeimbangkan skor menjadi 4-4, yang pertama kalinya terjadi di Liga Champion.

Bos Hamburg, Frank Pagelsdorf, bicara usai pertandingan, “Jarang Anda berada dalam posisi untuk membalikkan skor 3-1 saat melawan klub seperti Juventus. Tapi, para pemain sudah tampil hebat dan mereka tidak akan melupakan pertandingan ini dengan cepat.”

20. Barcelona 0-4 Dynamo Kiev

Babak grup, 1997/98

Pada tahun 1986, seorang bocah berusia sembilan tahun harus dievakuasi dari rumahnya di pedesaan di Kiev setelah sebuah reaktor nuklir di Chernobyl meledak 80 mil utara rumahnya, yang sampai menghasilkan awan radioaktif di atmosfer.

Sebela tahun kemudian, Andriy Shevchenko mencetak trigol ke gawang Barça yang saat itu dihuni oleh Rivaldo dan Luis Figo. “Di Kiev, kami berhasil mengungguli Barcelona dengan skor 3-0 dan seorang kawan berkata, ‘Coba kita lihat apa yang akan kamu lakukan di leg selanjutnya,” kata Sheva tertawa. “Dia bertaruh bahwa aku tak akan mencetak tiga gol. Akhirnya ia membayarku dengan makan malam.”

Kiev lolos ke semifinal pada musim berikutnya, sebelum Shevchenko pindah ke Milan.

Pages