4 Alasan Mengapa Piala Dunia Antarklub Tidak Populer di Kalangan Pecinta Sepakbola

Meski mempertemukan juara kompetisi di setiap benua, kehadiran Piala Dunia Antarklub rupanya tak pernah menyedot perhatian yang terlalu besar. Arief Hadi memberikan analisisnya mengenai hal ini...

Beberapa hari lalu, masyarakat Dubai kedatangan tamu agung yang berasal dari Spanyol, Real Madrid. Los Blancos datang bukan untuk melancong atau sekedar bersapa dengan para sheikh yang ada di sana, melainkan untuk memainkan turnamen buatan FIFA, Piala Dunia Antarklub.

Turnamen itu mempertemukan para jawara di ajang: Liga Champions Asia, Liga Champions Afrika, Liga Champions CONCACAF, Copa Libertadores, Liga Champions Oseania, Liga Champions Eropa, serta perwakilan tim tuan rumah yang menjuarai liga domestik. Melihat format tersebut, seharusnya Piala Dunia Antarklub bisa menyedot perhatian pecinta bola di dunia. Tapi, faktanya tidak demikian.

Publik masih memandang sebelah mata perhelatan yang sudah dimulai sejak tahun 2000 itu. Padahal, jika dilihat dari laga semifinal yang baru ini berlangsung antara Madrid kontra Al-Jazira, pertandingannya tidak buruk-buruk amat. 

Memang, Al-Jazira asuhan pelatih asal Belanda, Henk ten Cate, bermain super defensif menghadapi kualitas pemain yang dimiliki Madrid. Namun, fakta bahwa mereka sempat memimpin 1-0 melalui gol Romarinho, sebelum keunggulan berbalik menjadi 2-1 untuk Madrid - melalui gol yang diciptakan Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale, cukup menggambarkan tingkat kesulitan turnamen tersebut.

Al-Jazira, dengan status mereka sebagai klub Asia yang level bermainnya jauh di bawah Madrid, sanggup memaksa Marcelo dan kawan-kawan banting tulang untuk memenangi laga. Intinya, tak mudah bagi Madrid meraih kemenangan di Piala Dunia Antarklub dengan status mereka sebagai jawara Eropa.

Lantas, dengan pertandingan yang berjalan cukup sengit tersebut, mengapa popularitas Piala Dunia Antarklub tak seheboh Liga Champions Eropa atau Piala Internasional yang biasanya dijadikan turnamen pramusim? Terutamanya di Indonesia. 

1. Stigma Kedigdayaan Klub Eropa

Ketika perhelatan Piala Dunia Antarklub dimulai, acapkali publik berpikir, "Ah, paling klub Eropa yang menang," atau mereka berpikir, "Klub Eropa lah juaranya, toh level mereka sudah jauh banget". Benarkah begitu? benar, opini itu tidak salah.

Level klub-klub Eropa memang setingkat-dua tingkat dari klub yang berada di benua lainnya. Ini merupakan fakta yang tak lagi dapat dipungkiri. Tapi, jangan lupa, sepak bola di atas lapangan bukan sekedar statistik atau individu pemain dengan teknik tinggi, melainkan determinasi bermain. Sudah cukup banyak cerita cinderella ketika sebuah tim meraih kesuksesan karena memiliki kolektivitas, semangat juang, saat bermain. 

Corinthians wakil non Eropa terakhir yang berhasil mengangkat trofi Piala Dunia Antarklub

Namun, sayangnya, barometer pemikiran publik sudah kadung menganggap klub-klub Eropa sebagai 'juara' dibanding klub di belahan benua lainnya sehingga mereka malas menonton pertandingan. Alhasil, banyak yang sudah menjagokan klub Eropa yang memenangi Liga Champions ketika Piala Dunia Antarklub akan dimulai. Tak peduli siapa lawan-lawannya di semifinal atau final.

Padahal, jika ditelisik lebih mendalam, Piala Dunia Antarklub tak melulu dijuarai klub-klub Eropa. Sejak dimulai pada tahun 2000, lalu sempat vakum, hingga dimulai lagi tahun 2005 sampai tahun ini, sudah empat kali klub-klub Eropa gagal menjadi juara.

Pada tahun 2000, Madrid hanya menempati tempat keempat di bawah Vasco da Gama, Necaxa, dan Corinthians yang muncul sebagai juara. Lalu, pada tahun 2005, Sao Paulo mengalahkan Liverpool dengan skor 1-0 di laga final, dilanjutkan di tahun berikutnya, Barcelona bertekuk lutut dengan skor 0-1 melawan Internacional. Enam tahun berselang, ganti Chelsea yang kalah 0-1 dari Corinthians.