5 Alasan Mengapa Donnarumma Sebaiknya Bertahan di Milan

Pindah ke Real Madrid (atau klub besar lainnya) memang terdengar menggiurkan, tapi ada alasan-alasan mengapa Gianluigi Donnarumma sebaiknya bertahan di Milan...

Gianluigi Donnarumma belum menapaki tangga kesuksesan yang tinggi-tinggi amat saat semua orang yang doyan mengamati dunia lapangan hijau membicarakannya musim panas ini. Dia sedang menapaki tangga popularitas karena bakatnya di bawah mistar AC Milan dalam dua musim terakhir, bakat yang jika diabdikannya untuk klub yang tahu betul bagaimana cita rasa juara, besar kemungkinan akan membawa Donnarumma mewujudkan mimpi semua pesepakbola di bumi ini. Donnarumma kini diperhatikan setiap gerak-geriknya, dihakimi tindak-tanduknya, dirundung banyak pihak karena berani bermimpi mengenakan seragam Real Madrid, saat remaja-remaja lain seusianya sedang menikmati masa-masa cinta monyet dan dipusingkan tugas-tugas sekolah atau kuliah. 

Donnarumma tak mau menjadi (remaja bertubuh) raksasa yang tertidur seperti klubnya yang lelap dalam kejayaan di masa lalu. Pria kelahiran 25 Februari 1999 ini memilih untuk membuka matanya lebar-lebar, memahami bahwa dunia terus berputar, kehidupan terus berjalan, dan klub-klub lain sedang berlomba menjadi yang terdepan. Dia bisa memilih bersikap pasrah seperti kebanyakan suporter Milan yang sudah jarang menepuk dada dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, Donnarumma tidak begitu.

Dia teramat mencintai Milan hingga tampil sepenuh hati saat Sinisa Mihajlovic memberinya kesempatan emas dua tahun lalu dan Tuhan mencintainya dengan bakat yang diberikan kepadanya. Perpaduan yang menjadikannya bintang baru di kota Milan dan akhirnya malah membuat cinta Donnarumma pada Rossonerri goyah, berharap ada cinta lain yang membawanya pergi dari San Siro. Pria yang mengatur kariernya, Mino Raiola, tahu bahwa kliennya itu berhak berharap lebih dari apa yang dimilikinya saat ini. Dia pun terus berbisik di telinga Donnarumma, menyerukan bahwa loyalitas tak akan membawanya ke manapun yang diinginkannya. 

Tapi, dengan rayuan maut Real Madrid mulai mengusik batin sang kiper bertinggi 1,96 meter, inikah waktu yang tepat baginya untuk menyeberang ke barat menuju Spanyol? Benarkah semua mimpinya akan terwujud di Santiago Bernabeu? Donnarumma boleh menanggalkan loyalitasnya pada Milan suatu saat nanti, tapi untuk saat ini, angkat kaki dari San Siro bukanlah pilihan yang tepat dan ada alasan-alasan masuk akal mengapa seperti itu. 

1). Berpikir semuanya akan indah di Real Madrid? Tunggu dulu... 

Real Madrid sejauh ini adalah klub yang dikabarkan sangat ngotot mendatangkan Donnarumma di musim panas ini. Tak peduli seberapa besar kontribusi Keylor Navas dalam mengawal gawang mereka, Madrid butuh sosok yang lebih memikat, lebih memiliki nilai jual di setiap posisi, dan Donnarumma sebagai seorang penjaga gawang memilikinya. 

Tapi, layakkah mimpi anak muda berbakat Donnarumma dihancurkan oleh petimbangan-pertimbangan materialistis Madrid? Navas, kiper yang mungkin akan menikmati bangku cadangan jika Donnarumma datang, dua tahun lalu menangis di bandara Madrid karena luar biasa lega tak perlu pindah ke Manchester United setelah klub asal Inggris itu sukses mengacaukan proses transfer David de Gea ke Santiago Bernabeu. Status sebagai ben serep karena gagalnya perekrutan De Gea, tak membuat Navas surut performanya.

Keylor Navas sudah merasakan betapa 'kejamnya' Real Madrid

Dia adalah kiper pertama Real Madrid yang sukses tidak kebobolan di delapan laga pertamanya di Liga Champions pada musim 2015/16 yang ditutup dengan perayaan Los Galaticos sebagai juara. Dia juga sukses mengantar Real Madrid menjadi juara kembali tahun ini. Sampai di sini yang harus dipahami Donnarumma adalah Real Madrid bukan klub yang mudah dipuaskan oleh kontribusi seorang pemain, mereka selalu menuntut lebih dan lebih. Minimnya pengalaman Donnarumma dalam mencicipi situasi penuh tekanan dalam tim bisa merusak mentalitasnya sebagai anak muda. 

Pages