5 Alasan Mengapa Leicester BISA Menjuarai Premier League Musim Ini

Mereka telah sejauh ini, jadi mampukah Leicester City benar-benar menjadi juara pada Mei nanti? Mike Holden memiliki alasan untuk meyakinkan Anda mengapa mereka mungkin bisa melakukannya...

1. Belajar dari pengalaman Kelly Holmes

Dan strateginya untuk final 800m dan 1500m simpel: abaikan rival-rivalmu, dan berlari di setiap lap dengan cara yang sama. Berlarilah dengan konsisten di kecepatan yang sama dan lihat sampai mana itu bisa membawamu

Kelly Holmes adalah pelari jarak menengah yang biasa-biasa saja, tetapi sekarang ia dikenang sebagai salah satu yang terhebat. Ketika ia datang ke Olimpiade Athena 2014, ia berusia 34 tahun dan punya peluang 100/1 untuk menjadi atlet Britania pertama sejak 1920 yang merebut dua medali emas Olimpiade sekaligus, tetapi hanya sedikit orang yang tahu bahwa ia berada di kondisi puncak, bebas dari cedera untuk pertama kali dalam kariernya.

Dan strateginya untuk final 800m dan 1500m simpel: abaikan rival-rivalmu, dan berlari di setiap lap dengan cara yang sama. Berlarilah dengan konsisten di kecepatan yang sama dan lihat sampai mana itu bisa membawamu.

Ketika Holmes melewati garis finis 800m, ia benar-benar tidak sadar ia telah menang. Ketika ia mendekati bel untuk lap terakhir final 1500m lima hari kemudian, ia berada di posisi kedelapan dari 12 pelari. Namun visinya yang berlari dengan konsisten bekerja dengan baik.

Leicester mempunyai 19 poin setelah 10 pertandingan musim ini, 39 poin setelah 19 pertandingan, dan Claudio Ranieri memberi target akhir untuk para pemainnya 79 poin. Milestone berikutnya bagi The Foxes adalah 59 poin setelah pertandingan yang emosional melawan Watford di Vicarage Road pada 5 Maret. Jika mereka mampu menutup telinag dari semua kata-kata orang dan mempertahankan konsistensi dalam 15 pertandingan terakhir, mereka akan bisa berada di sana atau di sekitar angka itu.

2. Statistik memihak mereka

...dan itu karena kecepatan tim-tim di puncak klasemen Premier League musim ini adalah yang terendah dalam 17 tahun terakhir. Sejak pergantian abad, sebuah tim membutuhkan rata-rata 87,5 poin untuk menjadi juara.

Saat ini, Arsenal dan Manchester City, melihat penampilan mereka selama ini, maksimal hanya akan mengumpulkan 73 poin. Hanya dua kali dalam sejarah Premier League, rasio poin per pertandingannya lebih rendah di masa ini.

Tentu saja, kedua tim mampu mencari ide baru dan terus melaju seperti kesetanan, tetapi (sebagaimana digarisbawahi di atas), itu semestinya tidak jadi masalah Leicester. Mereka hanya bisa mengontrol yang bisa mereka kontrol, dan tahu bahwa dua klub besar tersebut kini telah melewati masa normal mereka.

Kecepatan standar sebuah tim yang memenangi gelar adalah 2,3 poin per pertandingan, namun jika pun The Gunners atau The Citizens akhirnya benar-benar berlari dengan meningkatkan rataan 1,91 poin mereka ke level yang normal dalam 15 pertandingan terakhir, mereka akan finis di posisi ke-79 - sama seperti target Leicester.

3. Tanpa manajer pembuat ulah

Leicester kekurangan orang-orang antik di depan media seperti Alex Ferguson atau Jose Mourinho, dan itu semestinya membuat mereka bisa terus melaju lebih lama tanpa merasakan hawa panas atau dipaksa untuk terlalu memikirkan konteks mereka dalam perburuan gelar di momen-momen penting

Poin terakhir menyentuh pada pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang metode yang digunakan oleh Arsene Wenger dan Manuel Pellegrini. Keduanya adalah manajer yang feminim dan berorientasi pada proses dan lebih berfokus pada performa ketimbang hasil akhir. Ini adalah pertama kalinya sejak tahun 1981 (ketika Aston Villa mengalahkan Ipswich di musim terakhir liga dengan dua poin untuk kemenangan) perburuan gelar tidak diikuti oleh satu klub besar yang maskulin dengan fokus merebut hasil akhir, dengan kultur menang dengan apapun caranya.

Tim-tim feminim memang memenangkan gelar, tetapi biasanya hanya ketika didorong oleh rival maskulin yang menggunakan berbagai cara sehingga memberikan mereka sisi terang, memberikan mentalitas baik-versus-buruk, kami-versus-mereka. Hal itu tidak terjadi pada Wenger atau Pellegrini.

Leicester kekurangan orang-orang antik di depan media seperti Alex Ferguson atau Jose Mourinho, dan itu semestinya membuat mereka bisa terus melaju lebih lama tanpa merasakan hawa panas atau dipaksa untuk terlalu memikirkan konteks mereka dalam perburuan gelar di momen-momen penting. Kondisi yang biasanya bisa merugikan mereka tak ada saat ini.

4. Kepribadian Ranieri bisa membantu mereka

Menurut Myers-Briggs Type Indicator, Ranieri adalah seorang dengan kepribadian ESFP - seorang penghibur dengan skill menghadapi orang lain yang hebat dan mampu memperhatikan perubahan-perubahan yang subtil di sekelilingnya, namun berani dan bisa tampil orisinal. Singkatnya, ia mungkin merupakan sosok yang ideal untuk menghadapi tekanan yang muncul bagi Leicester.

Dalam hal mempertahankan hal yang bagus untuk terus bertahan, tidak ada tipe kepribadian yang lebih baik. ESFP tak memiliki kecenderungan melakukan sabotase-diri dan pendekatan Ranieri bisa membuat mood timnya tetap tinggi, sementara tipe Pemikir Intuitif lebih condong melihat segalanya sebagai proses logis dan kurang melihat dinamika grup.

Dilihat sebagai seorang yang aneh oleh beberapa orang, 30 tahun Ranieri di dunia manajemen adalah gabungan antara 'lumayan sukses' dan beberapa kesalahan, tetapi ini bisa dikatakan sebagai momen yang menentukan dirinya.

Mengutip Marilyn Monroe (yang juga seorang ESFP): “Jika Anda tidak bisa menghadapi kondisi terburuk saya, Anda jelas tidak pantas mendapatkan kondisi terbaik saya.” Musim ini, jelas, Ranieri berada di kondisi This season is, without doubt, Ranieri at his best.

Leicester boss Claudio Ranieri jokes about ‘killing’ Watford coach Quique Flores

5. Hal-hal yang tak terduga memunculkan hasil tak terduga

Komunitas analitis tidak memberikan The Foxes kesempatan yang besar - estimasinya antara 0-13%  - tetapi model statistik seperti ini hanya bisa mencerminkan situasi umum dan situasi Leicester saat ini sudah di luar normal, unik dan belum terjadi sebelumnya. Tim-tim yang sebelumnya tak terlalu diperhitungkan memang pernah juga ikut memperebutkan gelar juara liga sebelumnya, tetapi tidak pernah dengan perbedaan bujet yang begitu besar dan ekspektasi yang begitu rendah.

Dengan cara apapun Anda melihatnya, skenario ini berbeda dengan perbandingan yang Anda harap bisa Anda buat. Lupakan proyeksi poin biasanya untuk tim dengan rasio tendangan 54% - sekitar 61 poin - sepakbola Inggris di era modern tak pernah memberikan kesempatan yang besar bagi tim-tim kecil.

Hanya karena bola di papan rolet berakhir di warna hitam 17 kali dari 23 kesempatan tidak berarti 11 dari 15 kesempatan berikutnya tidak akan berakhir sama. The Foxes melepaskan lebih banyak tendangan daripada lawannya, jadi mereka berada di posisi yang bagus untuk memenangi pertandingan - dari pertandingan ke pertandingan lain.

Lebih banyak fitur lain setiap harinya di FFT.com