5 Alasan Mengapa Manchester United Harus Mempertahankan Michael Carrick

Masa depan Michael Carrick di Manchester United masih buram menyusul tak adanya kesepakatan baru terkait kontraknya yang akan segera berakhir. Tapi mengapa United sebetulnya lebih baik mempertahankannya daripada melepasnya?

11 tahun yang lalu atau tepatnya pada 2006, Sir Alex Ferguson bersikeras mendatangkan gelandang Inggris yang bermain di Tottenham Hotspur dan mendapatkan perlawanan keras dari Martin Jol, manajer Tottenham kala itu yang juga ingin mempertahankannya. Siapa gelandang itu? Apa yang membuatnya spesial hingga kedua klub gontok-gontokkan menginginkan servisnya?

Tak lain tak bukan, dia adalah Michael Carrick, gelandang dengan tipe permainan yang langka untuk ukuran gelandang Inggris. Pada 2006, melalui negosiasi yang alot, Manchester United mampu merealisasikan transfer Carrick yang saat itu berusia 25 tahun dengan harga £18,6 juta. Ferguson menang, Jol kalah, dan barangkali Ferguson sudah dapat menerawang sinar kebintangan Carrick.

Setibanya di Old Trafford, Carrick langsung diberikan nomor punggung 16 yang sebelumnya dikenakan legenda klub dan juga berposisi sebagai gelandang, Roy Keane. Ferguson pun tak salah memberikan nomor tersebut karena Carrick mampu melanjutkan tradisi bagus nomor 16 dan mematenkan posisinya di lini tengah. Meski permainannya tidak seagresif Keane, Carrick punya cara mengukir sejarahnya sendiri.

Carrick pun memulai perjalanannya bersama Setan Merah, berduet sekaligus belajar langsung dengan Paul Scholes. Keduanya tak tergantikan, bahkan ketika Scholes pensiun dan pemain silih berganti masuk-keluar klub seperti Anderson, Darron Gibson, hingga Tom Cleverley, posisi Carrick sama sekali tak dapat diganggu gugat.

Salah satu rekrutan terbaik Ferguson

Kepercayaan Ferguson kepadanya pun berbuah lima trofi Premier League, satu Piala Liga, lima Community Shield, satu titel Liga Champions dan Piala Dunia Antar Klub.

Segala jasa dan pengabdian Carrick selama 11 tahun berkarir bersama Man United pun diganjar dengan laga testimoni, yang akan berlangsung pada 5 Juni 2017 di Old Trafford.

Pertandingan testimoni sedianya ‘hadiah’ klub untuk dedikasi pemain, tapi, bisa juga menjadi indikasi bahwa karir sang pemain akan segera berakhir. Apalagi hingga saat ini tak ada kabar bagus perihal perpanjangan kontrak Carrick.

Kendati demikian, Carrick masih dapat banyak berkontribusi untuk Man United. Usianya memang sudah berusia 35 tahun, betul, tapi Zlatan Ibrahimovic sudah membuktikannya, bahwa usia itu tak lebih dari angka di atas kertas. Pun demikian dengan Carrick. Staminanya memang jauh berbeda dari masa mudanya dulu, namun soal kualitas bermain, Anda tak perlu meragukannya lagi.

Ada lima alasan kuat mengapa Carrick masih harus bertahan dengan klubnya saat ini dan inilah lima alasan itu...

1. Pengalaman

Ilmuwan tenar Albert Einstein pernah berkata, “Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman. Anda butuh pengalaman untuk mendapatkan kebijaksanaan,” dan hal tersebut telah dimiliki Carrick dari pengalamannya bermain selama bertahun-tahun untuk Man United dari era Ferguson, David Moyes, Louis van Gaal, hingga kini bersama Jose Mourinho.

Pengalaman itu memberikannya ketenangan, kebijaksanaan, hingga ia tahu bagaimana cara membaca pertandingan tiap pekannya dan memberi ketenangan dengan pemain yang bermain di sekitarnya.

“Michael pemain yang fenomenal dan sangat profesional. Dia memberikan keseimbangan dalam permainan kami dan kebebasan mental bagi pemain yang bermain di sekitarnya untuk lebih bebas menyerang. Dia punya pemahaman hebat tentang permainan sepakbola dan panutan hebat untuk pemain muda kami,” tutur Mourinho.

Pengalamannya tidak tergantikan dan tidak dapat dibeli. Bersama Wayne Rooney, Carrick dapat menularkan pengalamannya kepada para pemain muda Man United dan menjadi penyambung lidah taktik bermain Mourinho di tiap pertandingan.

Klub memang telah memiliki Paul Pogba dan Ibrahimovic dengan pengalamannya masing-masing di klub sebelumnya, tapi pengalaman bermain untuk satu klub selama 10 tahun lebih tidak pernah mereka alami.

Rooney dan Carrick sama-sama berpengalaman meraih kesuksesan dengan trofi-trofi yang mereka berikan untuk klub. Peran keduanya di dalam tim pun berbeda, terutama dari segi posisi bermain. Pengaruh Rooney lebih ke posisi ofensif alias lini depan dan jadi motivator bagi rekan setim karena perannya sebagai kapten, sementara Carrick seperti halnya Robin bagi Batman, membantu tim dengan peran yang tidak terlihat secara kasat mata.

Rooney dan Carrick menjadi salah dua pemain yang tersisa dari era kejayaan Sir Alex Ferguson

Ketika Carrick bermain, lini tengah Man United terlihat lebih meyakinkan dalam menguasai bola dan juga saat menerima serangan balik. Pengalaman Carrick dalam membaca permainan membuatnya tak tergantikan dan untuk membuktikan peran besarnya yang masih sangat dibutuhkan tim, Anda bisa melihatnya dari contoh statistik sederhana yang dibuat ketika Man United melalui pekan 22 Premier League kontra Stoke City dengan skor 1-1.

Di laga itu Carrick tidak bermain dan Man United meraih hasil imbang. Ketika laga itu berakhir, Carrick baru bermain 10 kali untuk tim dan persentase kemenangan tim lebih baik saat ia bermain. Dari 10 laga Man United bersama Carrick, klub menang tujuh kali dan tiga kali imbang, lalu, saat Carrick tidak bermain klub menelan tiga kekalahan, lima hasil imbang, dan empat kemenangan.

Statistik sudah berbicara. Jadi, masih meragukan peran Carrick di Man United?

Pages