5 Hal yang Bisa Dipelajari dari Kemenangan Perdana Manchester City Bersama Guardiola

Manchester City era Pep Guardiola telah memulai perjalanannya di Premier League Inggris akhir pekan kemarin. Lalu apa saja yang bisa dipelajari dari laga perdana ini? 

Fans Manchester City harus siap dengan kejutan-kejutan Guardiola

Sepanjang karirnya sebagai pesepakbola dan pelatih/manajer, Josep Guardiola tak sekalipun pernah mencicipi ketatnya persaingan kompetisi Premier League. Mudahnya, ia adalah debutan di kasta teratas kompetisi sepakbola Inggris ini, dan sebagai debutan, ia menyajikan kejutan-kejutan untuk para penggemar Manchester City selaku kesebelasan yang kini ia tangani.

Aleksandar Kolarov ia tempatkan sebagai bek tengah, David Silva ia tempatkan sebagai pivot dan tak lupa jua ia mencadangkan Joe Hart, kiper andalan City selama beberapa musim terakhir, yang juga merupakan kiper utama tim nasional Inggris. Meski tim nasionalnya tak mentereng-menterang amat prestasinya dalam satu dekade terakhir, ia tetaplah berstatus kiper utama tim nasional Inggris…

Manchester City memang mengemas tiga poin penuh, namun tak lupa juga Guardiola membikin penggemar City harap-harap cemas sampai akhirnya Paddy McNair menyundul bola ke gawang sendiri di sisa sepuluh menit akhir pertandingan. “Menang dengan gol bunuh diri, nih? Yang benar saja?” Mungkin begitu isi gumaman pendukung City yang “tidak sabaran”.

Jadi bersiaplah dengan kejutan-kejutan lainnya dari Guardiola, fans City… kejutan tak lolos zona Liga Champions di akhir musim, misalnya.

Two banks four ala Sunderland yang menyulitkan

Melihat jadwal, tentu pertemuan perdana sekaligus laga tandang ke Etihad Stadium tak begitu menyenangkan buat David Moyes, manajer anyar Sunderland. Melawan pelatih “anak kemarin soore Premier League”, sudah sepatutnya Moyes memberi salam selamat datang di Premier League dan ia hampir saja berhasil menyukseskannya. Hampir saja…

Sebetulnya bukan hal yang mengherankan jika tim yang menjadi lawan Guardiola memainkan sepakbola yang cenderung bertahan dan Moyes paham itu. Empat pemain bertahan dan empat pemain tengah Sunderland membentuk garis pertahanan sejajar (two banks four) di kotak penalti mereka sendiri hingga memaksa The Citizens harus berusaha lewat kedua sisi sayapnya.

Ini menjadi semacam petunjuk bagi tim-tim Premier League lainnya ketika akan menghadapi Manchester City arahan Guardiola. Memang tak akan berlaku lama, karena kemungkinan besar Pep akan mengotak-atik lagi strateginya. Namun, setidaknya, dalam beberapa pertandingan awal Premier League, strategi ala Moyes ini bisa diadaptasi oleh kesebelasan lain yang akan menghadapi Man City-nya Pep di beberapa pekan ke depan. Karena, jika Pep dan skuat Man City sudah mulai saling mengerti dan beradaptasi, maka akan lain lagi ceritanya.

Sayap-sayap yang bekerja keras

Tanyakan saja kepada pemain dan penyerang sayap Bayern Munich musim lalu bagaimana mereka harus bekerja keras menyisir lebar lapangan di kedua sisi sekaligus membuat alur operan dan transisi menjadi lebih cepat. Jawabannya sudah jelas, jago berlari saja tak cukup. Butuh inteligensi tinggi untuk menerapkan keinginan skema ala Pep ini.

Sepanjang pertandingan kemarin lusa, mayoritas peluang Manchester City diawali dari sektor sayap, khususnya sayap kanan. Terhitung tujuh percobaan peluang Manchester City muncul dari sisi lapangan. Lahan milik Sterling di sayap kanan memang terlihat lebih aktif ketimbang Nolito yang menyisir sayap kiri. Ini bisa dimaklumi karena Nolito adalah pemain baru. Kedua gol Manchester City juga ada andil dari pemain sayap mereka; Sterling yang melakukan akselerasi di sayap kanan lalu dijatuhan di kotak penalti dan Jesus Navas yang mengirimkan umpan silang mendatar yang akhirnya menghasilkan gol bunuh diri Paddy McNair.