Analisa

5 Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Kekalahan 2-1 Bali United dari Chiangrai United

Bali United akhirnya harus takluk dari Chiangrai United dengan skor 2-1 di babak kedua kualifikasi Liga Champions Asia 2018. Zakky BM membahasnya lewat lima poin yang bisa kita pelajari dari laga tersebut...

We are part of The Trust Project What is it?

Menghadapi Tiga (Lima) Bek Itu Sulit

Absennya Tanaboon Kesarat, salah satu pemain berlabel tim nasional Thailand di kubu Chiangrai United, membuat pelatih Alexandre Gama memutar otak untuk mengakali skema timnya. Tak mengherankan jika akhirnya skema tiga bek yaitu 3-5-2 menjadi pegangan sang pelatih untuk mengakali kepincangan ini sekaligus menjadi solusi dan alternatif baru bagi timnya. Trio Shinnaphat Leeaoh, Artit Daosawang dan Victor Cardozo menjadi tembok terakhir tim asal Thailand tersebut untuk menghadapi sang tamu, Bali United.

Kami sendiri sebetulnya sempat memberikan preview tentang sulitnya menghadapi skema tiga bek ini saat Bali United menjamu Tampines Rovers karena Bali United terhitung jarang sekali berhadapan dengan klub lokal yang menggunakan pendekatan tiga bek. Namun Tampines ternyata mengubah skema tiga bek mereka menjadi empat bek sejajar dan Bali United tidak terlihat kesulitan, selain memang kualitas Tampines sendiri berada di bawah Bali United.

Tembok tiga bek Chiangrai ini juga dibantu dengan dua full back yaitu Chaiyawat Buran di kiri dan Piyaphon Phanichakul di kanan untuk membantu bek mereka dan akhirnya membuat barikade lima bek sejajar. Hal ini jelas ini mempersulit Ilija Spasojevic cs untuk masuk ke area final third mereka. Akibatnya, tak banyak peluang bersih yang bisa dimanfaatkan Bali United sepanjang laga tersebut. Gol Spaso di penghujung laga pun bisa dibilang cukup ajaib karena tendangan spekulasinya berhasil masuk ke gawang yang dijaga oleh Chatchai Budprom.

"Kami datang kesini (Thailand) pastinya ingin memenangkan pertandingan. Kami juga sudah berusaha namun hasil berkata lain. Secara keseluruhan bisa saya katakan bila pertandingan sangat seru. Chiangrai berhasil memanfaatkan peluang yang didapatkan. Saya ucapkan selamat untuk Chiangrai United," ujar coach Widodo Cahyono Putro seperti yang dilansir laman resmi klub.

Tidak Agresif Seperti Biasanya

"Laga nanti tandang dan kami tidak akan bermain terbuka seperti ini. Kami akan mempelajari lagi perkembangan lawan sebelum mengatur strategi. Yang terpenting adalah kami harus kuat dan konsisten," ucap Widodo setelah laga melawan Tampines lalu.

Bali United yang kita kenal sepanjang musim 2017 lalu adalah Bali United yang agresif dan produktif di depan gawang lawan; 76 gol berhasil mereka cetak dan merupakan tim paling subur di kompetisi sepakbola Indonesia musim lalu. Bahkan pada saat melawan Tampines Rovers pekan kemarin pun di ajang yang sama, Bali United bermain cukup agresif di kandangnya sendiri.

Namun jika merujuk perkataan Widodo di atas, cukup difahami karena Bali United akan bertandang ke markas tim yang kualitasnya sedikit di atas skuat Serdadu Tridatu. Maka tak heran pendekatan ‘bermain tidak terbuka’ kemudian benar-benar diaplikasikan oleh coach WCP kepada anak buahnya di laga kemarin. Salah satunya adalah memindah posisikan Nick van der Velden sebagai gelandang petarung, padahal sebelumnya ia bermain apik sebagai penyerang sayap kiri.

Perpindahan posisi ini jelas mengharuskan Stefano Lilipaly bergerak di sayap kiri, mengisi kekosongan yang ditinggalkan VdV sepanjang laga. Padahal, Fano sendiri terlihat lebih baik bergerak di tengah dan masuk ke area kotak penalti lawan dari second line. Indikasi lainnya dari ‘bermain tak terbuka’ ala coach WCP ini adalah tak membiarkan dua bek sayapnya untuk melakukan overlap jauh ke garis pertahanan lawan, terutama di awal-awal laga.

Kebobolan dengan cara yang sama

Strategi bermain tertutup ala coach Widodo ini memang berhasil, setidaknya di waktu normal 90 menit laga berlangsung. Jika saja ini partai dua leg, tentu saja BU sedikit diuntungkan karena akan bermain di kandang nantinya. Namun kenyataannya, ini adalah laga satu leg yang memaksa laga akan berlanjut ke babak tambahan dan ke babak adu penalti jika hasilnya masih tetap imbang sama kuat setelah 120 menit.

Gol Chiangrai United yang tercipta dari kaki pemain pengganti yaitu Akarawin Sawasdee dan Pathompol Charoenrattanapirom, terjadi di babak perpanjangan waktu. Kedua gol tersebut juga dihasilkan lewat tendangan di luar kotak penalti, yang artinya pertahanan Bali United yang digalang Demerson cs mulai kehilangan konsentrasi untuk membatasi pergerakan Cleiton Silva, yang berperan dalam dua gol tersebut sebagai pemberi assist.

Chaingrai memahami jika menembus kotak penalti Bali United cukup sulit sehingga mereka mulai melancarkan serangan dari luar kotak penalti. Startegi ini padahal dipakai Bali United saat menaklukkan Tampines Rovers yang juga memberikan celah di depan area bek mereka. Bedanya, Tampines memang memiliki kelemahan di area tersebut, sedangkan kebocoran Bali United ini terletak pada hilangnya fokus dan stamina pemain di perpanjangan waktu.