Analisa

5 Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Uji Coba Indonesia Senior dan U-23 vs Suriah U-23

Pekan lalu, Indonesia senior dan U-23 melakoni uji coba melawan Suriah U-23. Apa saja yang bisa kita ambil dari dua laga tersebut?

We are part of The Trust Project What is it?

Pekan lalu, pasca kompetisi Liga 1 musim 2017 akhirnya usai digelar, tim nasional Indonesia akhirnya mulai berkumpul dan menjalani uji coba Internasional. Jika mengacu pada jadwal kalender FIFA, tentu saja jadwal yang dibuat oleh PSSI ini sedikit melenceng karena jeda Internasional sudah terlebih dahulu berakhir di tengah pekan kemarin. Karena kompetisi Liga 1 harus memainkan laga pamungkasnya, terpaksa jadwal uji tanding ini mudur sedikit lebih lambat dari seharusnya.

Sesuai jadwal yang dibuat serta melihat mayoritas pemain yang dipanggil, uji tanding ini sudah bisa ditebak yaitu sebagai langkah awal menatap Asian Games yang akan dilaksanakan tahun  2018 mendatang. Indonesia yang bertindak sebagai tuan rumah jelas tak ingin kehilangan muka terutama di ajang sepakbola nanti. Suriah U-23 yang menjadi tim undangan di uji coba kali ini pun benar-benar dimanfaatkan sampai-sampai beruji coba dengan Indonesia U-23 sekaligus Indonesia campuran (senior) di akhir pekan lalu. Selain Suriah U-23, Indonesia (senior) pun akan menghadapi Guyana pekan ini.

Lalu, apa saja yang bisa kita pelajari dari laga melawan salah satu peserta Piala Asia U-23 kemarin?

Debutan yang belum maksimal

Tentu saja, banyak pemirsa yang menunggu-nunggu debut dari Egy Maulana Vikri dan juga Ilija Spasojevic. Egy yang bersinar bersama timnas U-19 sedangkan Spaso adalah penyerang tajam milik sang juara liga Bhayangkara FC yang baru saja resmi dinaturalisasi. Kedatangan dua nama pemain ini di skuat Luis Milla jelas menumbuhkan harapan baru bagi dimensi penyerangan tim nasional. Ah iya, sebagai tambahan juga ada nama M. Lutfi dan M. Rafli dari U-19 yang belum merumput serta ada satu debutan U-23 yang bermain yaitu M. Arfan yang merupakan pemain dari PSM Makassar.

 

A post shared by M.arfan (@marfan15) on

Pada laga pertama yang dikhususkan untuk timnas U-23, Egy memang sempat memulai debutnya di penghujung babak kedua sekitar 10 menit sebelum laga usai. Pemuda asal Medan tersebut tak mampu berbuat banyak dan masih terlihat gugup di depan para seniornya. Sedangkan Spaso memang sempat membuat beberapa ancaman bagi Suriah U23 di laga kedua, namun kerja sama Spaso dan pemain lainnya terlihat belum begitu memuaskan.

Egy mungkin saja cepat beradaptasi jika ia terus melakukan pelatihan bersama Luis Milla di skuat U-23 untuk Asia Games, sementara Spaso terlihat butuh pemain no.10 andal untuk menyuplai bola kepadanya di kotak penalti seperti yang dilakukan Paulo Sergio di klubnya sepanjang musim 2017 lalu.

Sosok Septian David memang cukup menjanjikan sebagai pemain no. 10 di level U23, namun jika harus mencari stok gelandang senior, mungkin Irfan Bachdim/Stefano Lilipaly bisa dicoba ketimbang memanggil dua nama gelandang tengah yang setipe secara bersamaan (M.Taufik/Bayu Pradana). Boaz Solossa yang ditempatkan di posisi no.10 kemarin pun tak bermain begitu maksimal karena Boaz lebih sering terlihat sejajar ataupun lebih bermain menyamping. Singkatnya, Boaz bukan tipikal pemain no.10 yang dibutuhkan untuk memaksimalkan Spaso – meskipun jumlah asis-nya di Liga 1 lalu begitu impresif.