5 Klub yang Menjual Bintang Mereka dan Justru Tampil Lebih Baik

Raheem Sterling mungkin jadi  topik perbincangan hangat sejak pindah dari Liverpool menuju rival mereka di Premier League Manchester City, kali ini Robert O'Connor telah memilih sejumlah klub yang menjual pemain kunci mereka...

1) Thierry Henry, Arsenal (2007/08)

Saat menjelang waktu terakhir Thierry Henry di Arsenal sebuah sundulan kepalanya melewati Edwin van der Sar di tambahan waktu untuk memberikan kemenangan Arsenal 2-1 atas Manchester United pada Februari 2007, yang ada dipikiran orang saat itu adalah ini akan jadi akhir bagi sejarah klub mereka. Enam bulan sebelumnya telah terjadi peresmian stadion klub baru di Emirates Stadium yang berarti, menurut Arsene Wenger dan badan klub, akan membuat mereka bisa mengumpulkan dana yang cukup untuk membentuk era baru bagi the Gunners yang selalu gagal pada musim-musim sebelumnya.  

HENRY SETELAH ARSENAL

  • Barcelona 2007-10 (121 apps, 49 gol)
  • New York Red Bulls 2010-14 (135 apps, 52 gol)
  • Arsenal (pinjam) (7 apps, 2 gol)
  • Trofi La Liga (2), Copa del Rey (1), Champions League (1), MLS Eastern Conference (1)

Namun pada bulan Juni sang kapten dan pemegang rekor pencetak gol terbanyak klub telah pergi, Barcelona nampaknya akan sangat beruntung dengan pembelian murah hanya sebesar 25 juta pound, dan sejumlah petinggi klub melihat upaya Henry di musim terakhirnya di London Utara jadi kado perpisahan terhadap klub yang dicintainya dan upayanya untuk meningkatkan penjualan tiket pada musim perdana stadion Emirates.

Apapun yang terjadi, Arsenal justru bangkit dan merubah pondasi tim mereka. Sebuah skuad muda baru muncul dari bayang-banyang yang ditinggalkan sang legenda Henry, dan tumbuh jadi sebuah individu juga kolektif yang kuat. Cesc Fabregas mengambil alih posisi barunya sebagai pemain kreatif utama di klub, dan juga William Gallas yang mewarisi ban kapten dan tampil mengesankan. Arsenal memenangi tujuh pertandingan awal musim mereka selepas kepergian Henry dengan tekad yang besar dan mereka berhasil unggul enam poin di puncak pada tahun baru.

Namun kontrovesi yang dilakukan Gallas serta cedera yang cukup parah diderita oleh Eduardo yang menderita patah kedua kakinya pada bulan Februari pertandingan melawan tuan rumah Birmingham menjadi bencana yang memulai kerapuhan tim dan pada akhirnya gagal untuk meraih gelar juara pada musim 2007/08. Sampai sekarang Arsenal tidak pernah sedekat itu lagi untuk meraih gelar Premier League.    

Kapten fantastis Gallas

2) Jimmy Floyd Hasselbaink, Leeds (1999/00)

JIMMY SETELAH LEEDS

  • Atletico Madrid 1999-00 (43 apps, 33 gol)
  • Chelsea 2000-04 (177 apps, 88 gol)
  • Middlesbrough 2004-06 (89 apps, 34 gol)
  • Charlton 2006-07 (29 apps, 4 gol)
  • Cardiff 2007-08 (44 apps, 9 gol)
  • Trofi Tidak ada

Jimmy Floyd Hasselbaink mungkin akan selalu menjadi kambing hitam pada tim David O'Leary musim 1999/00 bersama Leeds United. Dalam tim yang dipenuhi oleh wajah-wajah muda yang menghuni Elland Road, Hasselbaink yang sudah punya kualitas bintang membuat dirinya lebih mencolok dibanding pemain lain namun bukan dalam hal kemampuan di tim yang dipenuhi oleh pemain berbakat jauh dari usai mereka, manun lebih kepada kemampuan memanfaatkan peluang dan sentuhan akhir dimana bagi Hasselbaink terlihat mudah hingga bahkan terlihat tidak sengaja.

Akan tetapi, kepergian pemain yang punya rata-rata satu gol setiap dua pertandingan sejak dua musim berada di West Yorkshire musim panas 1999 jadi isu besar akan kegagalan ambisi tim O'Leary memobilisasi pemain mudanya, banyak yang khawatir dengan kepergian penyerang yang jadi pemain kunci itu membuat tim yang minim pengalaman akan rapuh saat menghadapi pertandingan yang berat.

Namun kekhawatiran tersebut tidak pernah terbukti. Hampir setahun setelah Hasselbaink mencetak gol kemenangan melawan Arsenal di Ellend Road, Michael Bridges mencetak gol melawan Everton yang memastikan diri mereka lolos ke ajang Champions League bagi Leeds setelah delapan tahun absen. Gol tersebut merukan gol ke 21 bagi Bridges di musim yang fantastis, selain itu rekor tersebut membuat dirinya unggul satu gol daripada jumlah gol Hasselbaink yang jadi musim terakhirnya sebelum hijrah ke Atletico Madrid, namun tim muda Leeds yang tidak kenal takut mencapai babak baru.

3) Kieron Dyer, Ipswich (1999/00)

DYER SETELAH IPSWICH

  • Newcastle 1999-07 (250 apps, 36 gol)
  • West Ham 2007-11 (34 apps, 0 gol)
  • Ipswich (pinjam) 2011 (4 apps)
  • QPR 2011-13 (8 apps, 1 gol)
  • Middlesbrough 2013 (9 apps, 2 gol)
  • Trofi N/a

Pada akhir tahun 1998, Ipswich berjuang mati-matian untuk bisa kembali bersaing di Premier League, tidak ada komoditi yang lebih hagat saat itu selain pemain Divisi Utama Kieron Dyer. Pemain muda berusia 20 lulusan akademi mereka menjadi sosok kunci bagi tim yang kemudian memutuskan untuk bergabung dengan klub Premier League setelah beberapa kali gagal dalam play-off. Namun yang menyedihkan ada wartawan lokal yang tidak memberikan sedikit penghargaan kepada bintang Tractor Boys itu, yang meragukan jika timnya akan bisa promisi dengan mewawancarai orang dijalan akan prospek mereka meraih promosi.

Mungkin wartawan tersebut tidak terlalu merindukan Dyer saat dirinya berlabuh ke Newcastle pada musim panas 1999 setelah Ipswich kembali gagal meraih promosi, tapi cara mereka yang mampu beradaptasi dengan baik meski ditinggal oleh pemain bintang mereka jauh lebih mudah dari dugaan. Tiga musim kegagalan di play-off terbayar sudah saat penyerang asal Belanda Martijn Reuser mencetak gol pada final ke-empat mereka di Wembley melawan Barnsley pada Mei 2000, hasil tersebut membuat orang bertanya, mungkin lebih tepatnya: 'Kieron siapa?'       

Dyer keluar dari Ipswich dan sukses bersama tim-tim barunya

4) Patrick Vieira, Arsenal (2005/06)

VIEIRA SETELAH ARSENAL

  • Juventus 2005-06 (42 apps, 5 gol)
  • Inter 2006-10 (91 apps, 9 gol)
  • Man City 2010-11 (46 apps, 6 gol)
  • Trofi Serie A (1 bersama Juve, 3 dengan Inter), Piala FA (1)

Sangat sulit menerima keputusan saat Patrick Vieira lebih memilih untuk meninggalkan Highbury ke Juventus pada musim panas 2005. Setelah sepanjang karirnya di Arsenal banyak diterpa isu yang mengaitkan kapten mereka dengan salah satu klub terbesar di Eropa, dan Gunners sendiri tampak semakin memperbaiki penampilan mereka di Champions League namun lagi-lagi mereka kembali tersingkir, kali ini ditangan Bayern Munich pada bulan Maret di tahun yang sama, Vieira akhirnya merasa tidak puas dan mengatakan kepada klub jika dirinya ingin mencari klub lain. Dengan ini, pintu Arsenal untuk bisa sukses di Eropa tampaknya akan semakin tertutup rapat.

Akan tetapi, ternyata pintu tersebut justru semakin terbuka penampilan mereka justru jauh lebih baik di Eropa ketimbang di liga, mungkin yang paling membuat mereka semakin bersemangat adalah saat mereka bertemu lagi dengan Vieira bersama Juventus dan berhasil mengalahkan mereka di Highbury pada babak perempat final dan melaju hingga ke final Champions League melawan Barcelona di Paris, sebuah prestasi terbaik mereka di Eropa sampai saat ini karena saat itu mereka adalah tim London pertama yang mencapai partai puncak Champions League, dimana mantan kapten mereka justru memimpikan hal tersebut dengan klub lain dan tidak pernah terwujud.    

5) Roy Keane, Man United (2005/06)

KEANE SETELAH UNITED

  • Celtic 2005-06 (13 apps, 1 gol)
  • Trofi SPL (1), Piala Liga Skotlandia (1)

Pada lima tahun terakhir Roy Keane mengabdi sebagai kapten Manchester United ditandai dengan kembalinya era suram di Premier League bagi Red Devils ini merupakan salah satu kesalahan pada masa kepemimpinan Sir Alex Ferguson. Dimana United mengalami kegagalan pada Arsenal dan kemudian pada awal era Chelsea bersama Abramovich, Keane melampiaskan kekesalannya pada MUTV dan mengkritik tajam skuad daripada merangkul mereka kembali dan membantu mereka kembali ke jalur yang benar seperti sebelumnya dia lakukan saat menderita cedera parah pada tahun 1999. 

Dia telah memainkan pertandingan  terakhirnya bagi klub saat dia mencibir penampilan Rio Ferdinand usai penampilan buruk saat melawan Middlesbrough pada wawancara di TV yang kemudian akhirnya ditarik oleh pihak manajemen klub, hal ini membuat hubungan pemain asal Irlandia tersebut dengan manajemen United semakin memburuk. Saat dia bergabung dengan Celtic, banyak orang yang telah melihat hal ini terjadi.

Celtic menyelamatkan karir Keane dari Old Trafford

Tidak lama setelah itu United diprediksi untuk bisa kembali mendominasi jauh lebih cepat saat mereka melepas Keane. Mereka berhasil meraih tiga gelar secara berturut-turut, disamping itu mereka juga mampu meraih lima gelar Premier League dalam tujuh tahun, ini memberikan tanda tanya apa yang terjadi dengan kapten tersukses klub sepanjang masa mereka selama lima tahun tersebut.      

Baca artikel pilihan seperti ini setiap harinya hanya di FFT.com