5 Momen Terbaik dari Piala AFF 2016: Dari Gol Aneh Myanmar Sampai Aksi Abduh

AFF Suzuki Cup 2016 telah berakhir, tapi masih ada beberapa momen yang pantas untuk diingat kembali dari turnamen dua tahunan edisi tahun ini. Apa saja?

Gelaran Piala AFF 2016 telah berakhir. Di Stadion Rajamangala, Indonesia dan Thailand sama-sama memecahkan rekor baru. Apabila sang juara bertahan menjadi satu-satunya tim dengan lima titel AFF, tim satunya lagi menjadi yang paling banyak sebagai runner-up (dan, kemungkinan bakal bertahan untuk waktu yang lama). Berikut adalah momen-momen menarik yang mewarnai turnamen dua tahunan ini.

Fase Grup yang mengejutkan

Perjalanan Indonesia memang mencuri perhatian. Dengan kondisi yang dapat dikatakan seadanya, mereka berhasil melaju hingga partai puncak. Perlu diingat bahwa perjalanan (baca: keajaiban) itu dimulai dari babak penyisihan grup.

Tergabung di Grup A bersama Thailand, Singapura, dan tuan rumah Filipina, Indonesia tidaklah diunggulkan untuk melaju ke semifinal. Belum lagi, diperparah dengan kekalahan 4-2 pada laga pembuka dari Si Gajah Putih. Peruntungan Garuda mulai berubah sejak imbang 2-2 melawan Filipina. Kepercayaan diri mulai tumbuh dan dituntaskan lewat kemenangan 2-1 atas Singapura.

Kelolosan Indonesia ke fase semifinal adalah sebuah kejutan

Menariknya, di Grup B, kejutan yang sama besarnya juga terjadi. Myanmar, selaku tuan rumah, tidak lebih dijagokan lolos ketimbang Malaysia dan Vietnam. Kendati demikian, mereka berhasil memaksimalkan keuntungan bermain di kandang sendiri dengan memastikan Harimau Malaysia pulang kampung pada laga pamungkas.

Untuk pertama kalinya sejak turnamen ini digelar pada 1996, tidak ada Malaysia atau Singapura di empat besar. Sebuah “kemunduran” yang mungkin patut dirayakan bersama-sama oleh para pesaingnya karena ini berarti peta kekuatan telah semakin merata.

Myanmar, boleh juga...

Seperti yang telah dijelaskan di poin pertama, sepak terjang Myanmar pada AFF Suzuki Cup tahun ini patut mendapatkan perhatian khusus. Mereka bukanlah tim dengan tradisi sepak bola yang mengakar kuat. Alih-alih bersaing untuk memperebutkan trofi, mereka hanya pernah satu kali lolos dari penyisihan grup pada kompetisi-kompetisi sebelumnya.

Kendati demikian, para lawan di zona Asia Tenggara patut untuk mulai waspada. Myanmar mampu menunjukkan perkembangannya. Kekalahan dengan agregat 6-0 dari Thailand di babak semifinal tentu bukanlah hal yang diharapkan, tetapi perjuangan mereka dengan merepotkan Vietnam, serta menaklukkan Kamboja dan Malaysia di fase penyisihan grup tetap pantas mendapatkan apresiasi.

Yang lebih membahayakan sebenarnya adalah AFF Suzuki Cup 2016 bisa jadi hanya sekadar persiapan sekaligus pengenalan kepada khalayak sepak bola Asia Tenggara akan kekuatan The White Angels. Skuat mereka mayoritas diisi oleh para pemain muda. Hanya kapten Yan Aung Kyaw (27 tahun), David Htan (26), dan Win Min Htut (30) yang berusia di atas 25 tahun.

Aun Thu, salah satu bintang muda baru Myanmar (Foto: Federasi sepakbola Myanmar)

Jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin justru bisa mereka yang menjuarai AFF Suzuki Cup pertama terlebih dahulu ketimbang kita.

Istimewanya Teerasil Dangda

Gelar Pemain Terbaik boleh jadi jatuh ke tangan Chanathip Songkrasin, tetapi AFF Suzuki Cup 2016 menjadi bukti sahih ketajaman penyerang Thailand bernama Teerasil Dangda.

Sebelum turnamen digelar, semua pihak yang mengaku perhatian terhadap sepak bola Asia Tenggara pasti tidak sabar ingin melihat aksi Dangda. Sebagai mantan pemain klub La Liga, Almeira, Ia tentu diharapkan dapat menunjukkan kualitasnya, sekaligus meraih titel AFF untuk yang pertama kali baginya pribadi.

Piala AFF 2016 adalah ajang unjuk ketajaman Teerasil Dangda

Benar saja, Dangda mampu menjadi juru gedor yang begitu mengerikan untuk level ASEAN. Ia menyumbangkan enam gol dari enam pertandingan. Kendati tidak mencetak gol pada laga puncak di Stadion Rajamangala akhir pekan silam, pergerakannya mampu menarik perhatian beberapa pemain Indonesia sehingga menyediakan ruang kosong untuk dimaksimalkan oleh rekan-rekannya yang lain. Perlu diingat, adalah gol tandang yang Ia lesakkan di Pakansari yang membuat mental skuat Garuda begitu terjatuh ketika Siroch Chatthong mencetak gol kedua.

Dengan kemampuan penyelesaian akhir dan teknik mengolah si kulit bundar yang begitu baik, sudah dapat dipastikan Ia bakal menjadi buruan dari klub-klub elit di berbagai negara ASEAN, hanya saja rasanya sulit untuk mengajaknya pergi dari Liga Thailand yang semakin berkembang.

Sang pengadil

Selain pemain dan tim, kinerja para pengadil (wasit utama, hakim garis, dan wasit cadangan) juga perlu mendapatkan catatan tersendiri di AFF Suzuki Cup ini.

Salah satu yang hampir menjadi kesalahan fatal adalah dalam laga Kualifikasi Grup B antara Myanmar melawan Malaysia. Ketika pantulan bola yang mengenai pemain Malaysia mengarah ke Chan Vathanaka, yang sudah berada di belakang barisan pertahanan lawan, hakim garis langsung mengangkat bendera. Beruntung, wasit Yaqoob Abdul Baqi yang memimpin laga memilih untuk tak acuh dan membiarkan sang penyerang untuk melanjutkan permainannya. Kamboja berhasil unggul 1-0 berkat kejelian sang wasit, tetapi laga berakhir 3-2 untuk kemenangan Malaysia.

Jika ada pelajaran yang bisa diambil, maka teruslah berlari selama wasit belum menyuruh berhenti!

A(b)duh!

Kalah memang menyebalkan. Perasaan itu yang barangkali benar-benar menggelayuti Abduh Lestaluhu dalam menit-menit akhir leg kedua final AFF Suzuki Cup di Stadion Rajamangala. Tidak senang karena“diisengi” oleh anggota tim Thailand, Ia menendang (baca: gebok) bola ke arah bangku cadangan para pemain tuan rumah.

Matanya terlihat berkaca-kaca. Itulah barangkali perasaan hati Abduh yang sesungguhnya, karena tendangannya tidak mengenai siapa-siapa.