Analisa

5 Pelajaran Penting dari Indonesia 3-0 Malaysia: Debut Impresif Pemain Muda dan Gebrakan di Awal Laga

Renalto Setiawan memberikan lima poin pelajaran penting yang bisa diambil dari kemenangan 3-0 Indonesia atas Malaysia dalam laga uji coba malam tadi...

We are part of The Trust Project What is it?

Malam tadi, Selasa (6/9/2016), di Stadion Manahan, Solo, setelah menyimpan tenaganya lebih dari satu tahun karena sanksi FIFA, Indonesia berhasil mencurahkannya dalam pertandingan uji coba menghadapi Malaysia, rival abadinya. Begitu wasit meniup peluit sebagai tanda dimulainya pertandingan, diiringi oleh semangat juang puluhan ribu penggemar Indonesia yang memadati tribun Stadion Manahan, Indonesia langsung tancap gas untuk menjawab pertanyaan banyak orang: seperti apa kualitas timnas Indonesia yang sudah cukup lama tertidur ini?

Indonesia memang tampil bagus pada pertandingan tersebut. Tapi tidak cukup untuk dikatakan hebat, karena maasih ada banyak kekurangan yang harus dibenahi. Meski demikian, tak sedikit dari penggemar Indonesia yang merasa puas, dan tak sedikit pula yang mempunyai harapan besar bahwa Indonesia akan mampu berbuat banyak di ajang AFF Suzuka Cup 2016 November nanti. Setidaknya, kemenangan tiga gol tanpa balas yang diraih Indonesia atas Malaysia pada pertandingan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memulai kehidupan yang baru sekaligus untuk mengobati kerinduan penggemar Indonesia terhadap penampilan timnas sepakbolanya.

Lalu, apa saja yang dapat dipelajari dari kemenangan Indonesia atas Malaysia tersebut?

Gebrakan Indonesia pada awal pertandingan mengakibatkan pertandingan selesai lebih awal

Bermain dengan formasi 4-4-2, Indonesia langsung mengambil inisiatif sejak menit awal-awal pertandingan. Alfred Riedl, pelatih Indonesia, mengingkan timnya bermain cepat, tidak bertele-tele, saat melakukan serangan. Singkatnya, Riedl menginginkan Indonesia bermain direct.

Jika mempunyai kesempatan, kalau tidak langsung memberikan umpan kepada Boaz Solossa dan Irfan Bachdim, duet penyerang Indonesia, pemain-pemain Indonesia sering memberikan bola ke arah sayap, baik kiri maupun kanan, yang ditempati oleh Andik Vermansah dan Zulham Zamrun. Hal ini terjadi karena pemain-pemain tersebut mempunyai kecepatan yang mumpuni untuk bisa diandalkan untuk melancarkan keinginan Riedl.

Menariknya, lini belakang Malaysia seperti tak siap untuk menghadapai cara bermain Indonesia tersebut. Mereka tampak kikuk dan tidak terkoordinasi dengan baik saat menghadapi serangan-serangan cepat yang dilakukan Indonesia. Alhasil, gawang sudah jebol saat pertandingan baru berjalan selama enam menit. Bermula dari umpan jauh dari lini belakang, Boaz Salossa berhasil mencuri bola dari Mohammad Fadhli, bek tengah Malaysia, yang gagal mengamankan bola dengan baik. Boaz kemudian dengan tenang berhasil menaklukkan Khairil Fahmi, kiper Malaysia, untuk membuat Stadion Manahan bergetar hebat.

Beberapa menit kemudian, bewaral dari agresivitas Irfan Bachdim dalam mengganggu pertahanan Malaysia, Indonesia berhasil menggandakan keunggulan. Dan setelah Boaz mencetak gol ketiga Indonesia pada menit ke-22, Indonesia tampak sudah memenangkan pertandingan. Setelah itu, Indonesia mengendurkan tempo permainan. Sayangnya, timnas Malaysia sepertinya tidak tahu harus berbuat apa untuk mengejar ketertinggalannya.

Permainan cepat sepertinya akan menjadi ciri Indonesia pada AFF Suzuki Cup 2016 November nanti.

Indonesia masih memiliki beberapa kelemahan

Menariknya, meskipun berhasil menang besar, Indonesia sebetulnya tak benar-benar mendominasi jalannya pertandingan. Berdasarkan data statistik pertandingan, Indonesia hanya unggul soal jumlah tembakan yang mengarah tepat sasaran, lima berbanding tiga. Sementara tingkat penguasaan bola Indonesia dan Malaysia berimbang, 50:50. Selain itu, Indonesia juga kalah dalam tingkat akurasi operan dan percobaan tembakan ke arah gawang.

Bayu Pradana dan Evan Dimas, dua gelandang tengah Indonesia, beberapa kali kecolongan saat menghadapi serangan balik yang dilakukan oleh Malaysia

Setidaknya ada dua kekurangan yang harus diperbaiki dari penampilan timnas Indonesia pada pertandingan tersebut. Pertama, Bayu Pradana dan Evan Dimas, dua gelandang tengah Indonesia, beberapa kali kecolongan saat menghadapi serangan balik yang dilakukan oleh Malaysia. Hal ini terjadi karena mereka harus menutup ruang yang terlalu luas di lini tengah saat Zulham Zamrun dan Andik Vermansyah sering terlambat dalam melakukan track back. Mereka berdua sering out of position dan membuat pemain-pemain tengah dan depan Malaysia sering berhadapan langsung dengan pemain belakang Indonesia. Dari 12 kali percobaan tembakan ke gawang yang dilakukan oleh pemain Malaysia, beberapa di antaranya berawal dari kegagalan Bayu dan Evan dalam melindungi daerahnya.

Kedua, Indonesia masih tampil kurang padu. Organisasi permainan dan koordinasi antar lini belum mampu berjalan dengan baik. Pun demikian dengan transisi dari menyerang ke bertahan yang diperagakan oleh anak asuh Alfred Riedl tersebut. Selain itu, Indonesia masih terlihat kesulitan dalam melakukan build-up serangan. Tidak ada permainan kombinasi apik yang dilakukan pemain Indonesia untuk menembus pertahanan Malaysia. Dari 10 percobaan tembakan ke arah gawang dilakukan Indonesia, hampir semuanya terjadi karena kesalahan pemain-pemain belakang Malaysia dan aksi-aksi individu yang dilakukan pemain-pemain Indonesia.