Analisa

8 Pelatih Asing Terbaik Yang Pernah Mengadu Nasib di Indonesia

We are part of The Trust Project What is it?

Antun "Toni" Pogačnik

"Nanti malam Anda bersedia mati di lapangan untuk negara? Jika tidak saya tidak akan memainkan Anda," kata Pogacnik kepada para pemainnya menjelang final Pesta Bola Merdeka 1961 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Apa yang dikatakan pelatih kurus asal Yugoslavia tersebut ternyata manjur. Para pemain Indonesia bermain kesetanan pada pertandingan final. Melawan tuan rumah Malaysia di Stadion Merdeka, Kuala Lumpur, yang dipadati oleh 35.000 penggemar tuan rumah, timnas Indonesia berhasil menang, 1-2.

Nanti malam Anda bersedia mati di lapangan untuk negara? Jika tidak saya tidak akan memainkan Anda

- Toni" Pogačnik

Saat pertandingan selesai, para pemain langsung berlari menuju ke arah Toni Pogacnik. Sambil menangis, mereka memeluk pelatih asal Yugoslavia tersebut. Bagaimana tidak, melalui tangan dingin Pogacnik, Indonesia akhirnya berhasil meraih gelar juara pertamanya di ajang Internasional.

Pogacnik sendiri mulai melatih timnas Indonesia pada tahun 1954. Awal mulanya, Maladi, ketua PSSI pada waktu itu, terkesima ketika menyaksikan gaya main timnas Yugoslavia yang diasuh Pogacnik pada ajang Olimpiade Helsinki 1952. Menurutnya, gaya main Yugoslavia arahan Pogacnik tersebut cocok untuk diterapkan di Indonesia. Dan setelah melalui beberapa proses yang rumit - hingga melibatkan Presiden Soekarno - Pogacnik akhirnya bersedia menjadi pelatih timnas Indonesia.

Pada awal masa kepelatihannya, Pogacnik sadar bahwa pemain-pemain Indonesia mempunyai kelemahan pada postur tubuh. Selain itu, dia juga sadar bahwa banyak pemain-pemain Indonesia yang mempunyai bakat besar tapi gagap masalah taktis karena tidak mempunyai kecerdasan dalam bermain sepakbola. Pogacnik pun kemudian memperbaikinya. Secara perlahan, pemain-pemain Indonesia berhasil menggunakan kepalanya untuk memahami taktik. Kelemahan pada postur tubuh berhasil ditutupi dengan kecepatan yang dimiliki pemain-pemain Indonesia, terutama dengan gerakan kejutan saat pertama kali menerima bola. Dan yang terjadi selanjutnya adalah sejarah besar.

Pogacnik sukses membawa Indonesia melaju hingga ke babak semifinal Asian Games 1954 dan 1958 ( Indonesia berhasil meraih perunggu pada Asian Games 1958). Bahkan, pada gelaran Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia, Indonesia sukses menahan imbang Juara Eropa, Uni Soviet, 0-0, meski akhirnya kalah pada 0-4 pada pertandingan ulang. Dan gelar juara Pesta Bola Merdeka 1961 adalah puncak prestasi Pogacnik bersama timnas.

Sayang, karier cemerlang Pogacnik di Indonesia dinodai oleh para pemainnya sendiri. Dalam sejumlah pertandingan banyak pemain andalan Pogacnik yang disetir oleh para penjudi. Mereka menerima suap untuk mengatur hasil pertandingan. Konon, Pogacnik sampai menangis saat mengetahui hal tersebut. Sang Jedi hanya bisa pasrah saat mengetahui murid-murid terbaiknya terjerumus ke "lembah hitam" karena ulah Sith yang tidak bertanggungjawab.