Analisa

8 Pelatih Asing Terbaik Yang Pernah Mengadu Nasib di Indonesia

We are part of The Trust Project What is it?

Robert Rene Alberts

Jika Aremania mempunyai mobil DeLorean DMC-12 yang sudah diubah menjadi mesin waktu oleh Dr. Emmet Brown dalam trilogi fim Back to The Future, mungkin mereka ingin kembali ke tahun 2010, tahun di mana Arema berhasil meraih gelar ISL.

Saat itu, Arema yang sebagian besar dihuni oleh pemain muda berhasil menggagalkan prediksi banyak orang. Di bawah asuhan Rene Alberts, pelatih mereka asal Belanda, Arema yang sebetulnya diterpa banyak masalah, justru mampu keluar sebagai juara. Bahkan, jika langkah mereka tidak digagalkan Sriwijaya FC pada babak final Piala Indonesia 2010, mereka bisa meraih double winner.

Kredit tersendiri memang layak diberikan kepada Rene Albert. Semula, mewarisi skuat Gusnul Yakin yang ala kadarnya, Alberts tidak memberikan target begitu tinggi pada asuhnya. Dia hanya menginginkan Arema jangan sampai terpuruk di ajang ISL pada musim tersebut.

Saat itu, Hal pertama yang dilakukan Alberts adalah memilih asisten pelatih yang bisa menerjemahkan bahasanya kepada para pemain - Alberts menggunakan bahasa Inggris. Dia ingin para pemain Arema segera paham dengan keinginannya dan mampu menerapkannya dengan sebaik mungkin - sosok Liestiadi kemudian diangkat menjadi asisten pelatih karena memenuhi kriteria yang diinginkan mantan pelatih Serawak tersebut. Setelah itu, Alberts mendatangkan Noh Alam Syah, M. Ridhuan, dan Pierre Njanka, pemain-pemain asing yang menurutnya bisa membantu pemain-pemain muda Arema berkembang.

Dengan pendekatan tersebut, Arema mampu tampil atraktif. Permainan mereka begitu cair, sangat enak ditonton. Selain itu, mereka juga berani bermain terbuka saat bermain tandang menghadapi tim-tim besar. Tak heran, meski Arema pada akhirnya keluar sebagai juara, mereka kalah sebanyak tujuh kali -- 3 kali lebih banyak daripada Persipura yang menjadi runner-up.

Karena prestasi yang berhasil diraih Arema pada musim tersebut, Arema menjadi sangat terkenal. Aremania akhirnya ada di mana-mana -- tidak hanya di Malang. Tak sedikit orang-orang dari kota selain Malang dengan bangga menyebut diri mereka adalah Aremania.

Sampai sekarang Alberts tidak hanya dihormati oleh Aremania. Dia juga dirindukan. Sayangnya saat ia kembali ke Indonesia tahun 2016 lalu, ia tidak kembali ke Arema yang saat itu sudah memiliki Milomir Seslija. Ia berlabuh ke PSM Makassar, membangkitkan klub tersebut di ISC A 2016, dan kini kembali membawa PSM ke papan atas dalam gelaran Liga 1 2017.