Analisa

8 Pelatih Asing Terbaik Yang Pernah Mengadu Nasib di Indonesia

We are part of The Trust Project What is it?

Miroslav Janu

Mendiang Miroslav Janu memang tidak pernah membawa klub yang diasuhnya menjadi juara di negeri ini, tetapi dia adalah juara bagi sepak bola Indonesia. Kerja kerasnya demi kemajuan sepak bola Indonesia tak perlu diragukan lagi. Pelatih asal Ceko yang memulai karier kepelatihannya di Indonesia bersama Persigo Gorontalo ini, tak pernah mundur saat menghadapi sepak bola Indonesia yang selalu penuh dengan masalah-- Miro, sapaan akrabnya, hanya bisa kalah terhadap serangan jantung yang menerpanya pada awal tahun 2015 lalu.

Miro dikenal sebagai seorang pelatih yang disiplin dan kharismatik. Di atas lapangan tak jarang dia marah-marah terhadap para pemainnya apabila mereka melakukan kesalahan. Namun di luar lapangan, sikapnya bisa berubah total. Dia adalah figur bapak sekaligus teman bagi para pemainnya. Selain itu, Miro juga seorang pelatih yang percaya pada kemampuan para pemain muda. Dia tak ragu menjadikan pemain muda menjadi tulang punggung tim yang diasuhnya jika pemain tersebut memang mempunyai kapasitas tersebut.

Saat Miro mangkat, dia sedang menjabat sebagai pelatih Persebaya DU. Namun, bukan hanya publik sepakbola Surabaya saja yang berduka. Sepakbola Indonesia juga berduka, karena merasa kehilangan salah satu pelatih asing terbaik yang pernah dimilikinya.

Alfred Riedl

Kesempatan emas Indonesia untuk meraih Piala AFF pertama kalinya muncul lagi pada tahun 2010. Permainan ciamik dengan formasi 4-4-2 yang dipadukan antara pemain muda, pemain senior sekaligus pemain naturalisasi membuat Indonesia dijagokan untuk juara saat itu. Dengan segala polemiknya di partai final, Indonesia takluk dari Malaysia.

Tahun 2014 lalu juga, pria asal Austria ini menjadi pelatih timnas di ajang Piala AFF. Edisi 2014 ini, timnas benar-benar hancur lebur di fase grup karena disinyalir berangkat dengan persiapan yang minim. Kemudian pasca vakumnya sepakbola Indonesia karena sanksi FIFA, Riedl lagi-lagi menjadi pelatih tim nasional untuk gelaran Piala AFF 2016.

Kini skenarionya berbeda. Jika 2010 lalu Indonesia adalah favorit juara, maka 2016 lalu tim guard hanya berstatus kuda hitam saja. Dengan berbekal kepercayaan diri, Indonesia mampu merusak prediksi banyak orang hingga akhirnya melaju ke babak final. Namun, sayangnya, seperti yang sudah kita ketahui bersama; Indonesia cuma runner-up lagi saja.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com