Top 10/50/100

5 Pemenang Gelar Pemain Terbaik Piala Dunia yang Tidak Layak Mendapatkannya

Penghargaan pemain terbaik Piala Dunia dari FIFA sering membuat kita heran – termasuk kutukan tiga tahun untuk pemain yang masuk final...

We are part of The Trust Project What is it?

Menggunakan bandar judi sebagai barometer, Kylian Mbappe dan Luka Modric bersaing untuk mendapatkan Adidas Golden Ball Rusia 2018. Namun jika membaca sejarah penghargaan itu, jangan mengesampingkan anggota dari Technical Study Group FIFA (yang terdiri dari Emmanuel Amunike, Bora Milutinovic, Carlos Alberto Parreira, Andy Roxburgh, dan Marco van Basten), jika mereka memberikannya kepada pemain Jerman.

Sejak diperkenalkan di Piala Dunia 1982, ini adalah pemenang Golden Ball yang membuat kita mempertanyakan kelayakan mereka.

5. Paolo Rossi, Yang Lebih Layak Bruno Conti (1982)

Paolo Rossi membutuhkan lima pertandingan hingga akhirnya mencetak gol di Piala Dunia 1982 Spanyol. Pada saat itu, dia sedang menjadi bahan olok-olokan media Italia. Namun ketika 'Pablito' terbangun dari tidurnya, dia melesakkan hattrick yang mengejutkan Brasil - diikuti sepasang gol melawan Polandia – dan mencetak gol pembuka kontra Jerman Barat di final. Tapi lima dari enam golnya adalah tembakan dari jarak dekat dan ketika diberi kesempatan untuk memimpin lini depan racikan Enzo Bearzot, striker Alessandro Altobelli mungkin bisa mencetak gol seperti dia juga. 

Dino Zoff, Claudio Gentile, Gaetano Scirea dan otak permainan Brasil, Falcao adalah pemain superior. Namun sebenarnya yang terbaik adalah Bruno Conti. 

Pemain sayap mungil itu tampil menakjubkan layaknya pertunjukkan seni bersama Italia. Gerakan tipuan dan mampu mengisi kedua sisi sayap membuat beberapa pemain Polandia kepayahan. Conti mencetak gol cantik dalam hasil imbang 1-1 dengan Peru. Dia juga luar biasa melawan Brasil – "Kami bermain melawan 10 orang Italia dan satu pemain dari kami sendiri," kata Zico – dan memberikan Polandia kekalahan kedua di semifinal. Kemudian Conti terlibat dalam dua gol Italia di final. 

"Ada banyak yang dikatakan tentang Maradona, Platini dan yang lainnya, tetapi Conti adalah pemain terbaik di dunia," kata Pele.

4. Ronaldo, Yang Lebih Layak Lilian Thuram (1998)

Dunia lebih terobsesi dengan Ronaldo yang bermain di Prancis '98 daripada Pele ketika bermain di Meksiko '70 atau Diego Maradona yang bermain di Italia '90. Dia bermain apik dalam dua musim berturut-turut untuk Barcelona dan Inter. Dia berpotensi mengubah perdebatan siapa yang lebih baik di antara Pele dan Maradona menjadi debat yang melibatkan nama ketiga (dirinya). Pemain asal Brasil itu juga menjadi tokoh dalam iklan Nike yang terkenal di bandara dan dia memonopoli majalah FourFourTwo edisi Juli 1998. 

Ronaldo tampil bagus di babak penyisihan grup walaupun dia hanya sekali mencetak gol melawan Maroko. Dia bermain lebih baik di fase penyisihan, mengantongi dua gol saat menang 4-1 atas Chile, menjadi kreator dua gol ketika melawan Denmark dan menghasilkan penampilan semifinal yang luar biasa melawan Belanda di mana dia menempatkan Brasil unggul terlebih dahulu dan hampir mencetak satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

Namun ketika tiba momen dia sangat dibutuhkan, untuk alasan yang akan diperdebatkan selama beberapa dekade ke depan, Ronaldo tidak melakukan apapun saat Brasil diinjak-injak oleh Prancis 3-0 di final.

Lilian Thuram adalah alasan utama Prancis membuat rekor baru untuk tim juara Piala Dunia dengan kebobolan gol paling sedikit : dua gol (yang disamai oleh Italia pada 2006 dan Spanyol empat tahun kemudian). Bermain di posisi bek kanan, Thuram mengawal lawan tanpa sedikit pun kesalahan, memotong bola dan melakukan beberapa tekel sempurna – terutama pada Ibrahim Al-Shahrani, Alessandro Del Piero, Goran Vlaovic, dan Denilson. 

Dari babak perempat final dan seterusnya, ketika manajer Aime Jacquet mulai bermain dengan tiga gelandang bertahan, bukan dua, dan karena itu menugaskan Thuram dengan menyediakan ruang menyerang di sisi kanan, dan dia berhasil menjalankannya. Ketika pemain Parma yang lahir di Guadeloupe itu bertemu Davor Suker untuk mencetak gol di semifinal, Thuram membalas dengan mencetak dua gol – sekaligus yang terakhir – dari total 142 caps untuk merebut kemenangan 2-1.

Thuram hanya meraih 8,8% suara untuk membawa pulang Bronze Ball dengan Davor Suker 10,8% mendapatkan Silver Ball dan Ronaldo menang dengan 21,3%.