8 Penyerang Terbaik yang Pernah Membela Timnas Indonesia

Siapa yang pantas mendapatkan gelar penyerang terbaik yang pernah membela timnas Indonesia? Nanda Febriana dan Arief Hadi memberikan delapan jawabannya...

Posisi penyerang adalah posisi yang paling diapresiasi dalam dunia sepak bola. Nilai pemain di posisi ini begitu berharga jika harus dicairkan dalam uang dan diterjemahkan untuk kepentingan sepak bola itu sendiri.

Dari posisi inilah kerap lahir momentum gol yang dibutuhkan sebagai penentu hasil pertandingan, karena mereka-mereka yang berdiri sebagai penyerang bisa dilihat sebagai pemain yang paling sering mendekati gawang lawan dan melakukan penyelesaian dari sebuah proses serangan, terlepas dari fakta apakah mereka terlibat dalam proses itu sendiri atau 'hanya' seseorang dengan satu dua sentuhan terakhir yang akurat dan berada di waktu dan posisi yang tepat.

Indonesia sendiri sudah pernah memiliki banyak penyerang handal. Ada yang namanya masih begitu melekat di benak pecinta sepak bola Asia Tenggara meski sudah satu dekade pensiun dari dunia internasional, ada juga seorang legenda dengan status pencetak gol terbanyak timnas Indonesia. Kembali pada fakta bahwa penyerang adalah posisi yang memungkinkan pemerannya mendapatkan apresiasi lebih mudah dan lebih tinggi dibanding posisi lainnya, maka untuk masuk dalam kategori terbaik si penyerang harus memiliki faktor pembeda yang menonjol dibanding nama-nama lainnya.

Lantas siapa saja yang masuk dalam kategori penyerang terbaik yang pernah membela timnas Indonesia?

1. Adityo Darmadi

Sepakbola Indonesia di era 1980an juga mengenal sosok Adityo Darmadi, yang dikenang sebagai legenda Persija Jakarta dan timnas Indonesia. Gaya mainnya yang konvensional ala striker klasik nomor 9 terbukti efektif bagi Macan Kemayoran dan juga Merah Putih. Permainan Darmadi juga menghibur pecinta sepakbola Indonesia kala itu.

Mengawali karier di Persija pada 1985 bersama kakak kandungnya, Didik Darmadi, Adityo bergabung dengan tim besutan Reni Salaki dari klub Indonesia Muda yang bermain di kompetisi Galatama. Keduanya bermain di posisi yang berbeda: Didik seorang full back, sementara Adityo penyerang, dengan kontribusi yang sama baiknya untuk Persija.

Bak Tachibana Bersaudara di anime “Tsubasa”, keduanya bekerja sama menyelamatkan Persija dari jurang degradasi pada 1985 saat melakoni play-off melawan Persema Malang, Persiba Balikpapan, dan PSIM Yogyakarta.

Adityo Darmadi dijaga ketat dalam pertandingan melawan Persib Bandung (Foto: bola.com)

Sejak saat itu, Adityo terus mengukir sejarah di sepakbola Indonesia dengan klimaks penampilannya terjadi di SEA Games 1987. Jika di tahun sebelumnya membawa timnas Indonesia menduduki peringkat empat Asian Games, kali ini Adityo membantu tim asuhan Sinyo Aliandoe menjuarai SEA Games 1987 di Jakarta. Adityo memang tidak mencetak gol karena gol tunggal kemenangan 1-0 Indonesia atas rival bebuyutan, Malaysia, dicetak oleh Ribut Waidi kala itu, namun kontribusinya tak kalah hebat dari Waidi atau bahkan Ricky Yakobi.

Striker kelahiran Solo 12 November 1961 merupakan top skorer Perserikatan Divisi Utama pada 1986 dan masuk ke timnas di era yang sama dengan Ricky, yang menjadi pemain terbaik di Galatama. Menjuarai SEA Games 1987 pun jadi salah satu momen yang dikenang Adityo, “Itu pencapaian terbaik saya bersama timnas Indonesia, selain peringkat keempat Asian Games 1986.”

2. Risdianto

Bersanding dengan nama-nama besar seperti Iswadi Idris, Sutan Harhara, dan Anjas Asmara, Risdianto juga pernah mengukir sejarah melalui momen-momen keemasannya di era 1970an. Beliau merupakan penyerang kelahiran Pasuruan, Jawa Timur pada 3 Januari 1950 yang mengawali kariernya di Persekap Pasuruan sebelum akhirnya pindah ke Jakarta pada 1971.

Risdianto muda kala itu bermain untuk UMS dan bersaing di kompetisi internal Persija, sebelum akhirnya Persija merekrutnya di tahun yang sama. Baru berusia 21 tahun, Risdianto sudah harus menanggung beban sebagai pengganti legenda Persija dan timnas Indonesia, Soetjipto Soentoro. Kendati demikian, Risdianto yang dikenal sebagai striker lincah dan tajam di dalam kotak penalti, mampu menjawab ekspektasi yang membandingkannya dengan Soetjipto.

Ricky Yakobi bersama timnas Indonesia (Foto: Dokumentasi Bola)

Tak ayal nama Risdianto selalu menghiasi timnas Indonesia sejak 1971. Bersama Skuat Garuda, Risdianto pernah menjuarai Anniversary Cup 1972, meraih medali perak di SEA Games 1981 dan perunggu di SEA Games 1981. Bahkan, Risdianto termasuk dalam skuat pra Olimpiade 1976 Indonesia yang berada di grup yang sama dengan Korea Utara, Malaysia, Singapura, dan Papua Nugini.

Risdianto turut mencetak gol kemenangan 2-1 Indonesia atas Malaysia sebelum akhirnya kalah di laga terakhir kontra Korea Utara (Korut). Indonesia yang dilatih Wiel Coerver saat itu, kalah via drama adu penalti dengan Korut setelah imbang tanpa gol di waktu normal. Meski begitu, nama Risdianto selalu ada dalam sejarah sepakbola Tanah Air sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah memperkuat timnas Indonesia.

Kesuksesan dirasakan Risdianto di level klub dan timnas, namun, selain itu ada juga momen-momen berkesan darinya ketika beliau bermain melawan Santos, Manchester United, dan Ajax Amsterdam. Risdianto membobol gawang Santos yang diperkuat Pele dan juga Ajax Amsterdam yang kala itu jadi kekuatan mengerikan di Eropa.

Pages