5 Solusi yang Bisa Dipilih Mourinho untuk Memperbaiki Lini Depan United

Manchester United jelas dalam masalah saat ini. Menghabiskan begitu banyak uang, tapi lini depan mereka tak begitu mengerikan. Apa yang bisa Mourinho lakukan? Zakky BM memberikan lima opsi di antaranya...

Masih ada 28 pekan lagi untuk menentukan siapa yang paling pantas dan konsisten untuk menjuarai Premier League Inggris. Masih terlalu dini juga jika baru pekan kesepuluh, kita sudah mencoret nama Manchester United dari perburuan mahkota juara – meski kini mereka terdampar di posisi kedelapan dengan rincian empat kali menang, tiga kali imbang dan tiga kali kalah. United-nya Mou baru mengumpulkan 15 poin saja sampai awal November ini.

Musim lalu, saat masuk pekan ke sepuluh, Louis Van Gaal mampu menempatkan United di posisi keempat dengan raihan 20 poin. Namun, sepuluh pertandingan musim pertama LVG (2014/15) bisa dibilang lebih buruk daripada sepuluh pertandingan musim pertama Mou di United dan musim pertama David Moyes di United pada 2013/14 lalu.  Rinciannya, pada muim 2014/15 lalu (LVG) hanya mampu berkutat di posisi kesepuluh klasemen dengan raihan 13 poin saja dan musim 2013/14 lalu, Man United berada di posisi kedelapan dari 10 pekan berjalan dengan 14 poin.

Atau, mau ditarik lebih jauh lagi? Pada awal Sir Alex Ferguson menjabat pada November 1986 lalu, raihan United mirip dengan apa yang Mou capai yaitu hanya memenangkan empat pertandingan, tiga kali imbang dan tiga kali kalah. Bedanya hanya di posisi klasemen saat itu, karena Fergie tidak memulai kariernya di Old Trafford dari awal musim 1986/87. Perlu dicatat juga, gelar pertama United di bawah rezim Fergie baru muncul tahun 1990 yaitu Piala FA (saja).

Peluang, bagi Mourinho, tentu belum benar-benar tertutup. Ia hanya perlu membenahi sektor penyerangan United yang memang sedang bermasalah. Sebetulnya selalu ada opsi untuk memecahkan masalah ini bagi Mourinho asal dirinya tak keras kepala. Lalu apa saja opsi itu?

Memasang dua penyerang dalam formasi 4-3-1-2 atau 4-4-2 klasik

Sejak menangani Real Madrid, Chelsea jilid ke-2, dan kini Manchester United, Jose Mourinho selalu identik dengan formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3 defensif dengan menempatkan target man di dalam kotak penalti. Karim Benzema, Diego Costa dan kini Zlatan Ibrahimovic adalah nama-nama yang diandalkan Mou sebagai ujung tombak timnya. Ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Mou saat menangani Porto, Chelsea jilid ke-1 dan Inter Milan di mana ia kerap kali memainkan formasi dasar 4-4-2 ataupun 4-3-1-2 dengan dua penyerang secara sekaligus. Derlei dan Edgaras Jankauskas adalah andalan Mou di Porto, duet Samuel Eto’o dan Diego Milito saat Inter meraih trigelar, serta Didier Drogba dan Eidur Gudjohnsen saat Chelsea pertama ditangani Mourinho.

Jadi tak ada salahnya ia mencoba menduetkan Ibrahimovic dengan Rashford ataupun Rooney sekalipun dalam formasi 4-3-1-2 ataupun 4-4-2 klasik. Khusus untuk formasi 4-3-1-2, Pogba mungkin akan tampil leluasa sebagai gelandang kiri seperti ia di Juventus dulu. Juan Mata di gelandang kanan, dan Bastian Schweinsteiger/Michael Carrick di gelandang tengah. Sementara posisi trequartista bisa diisi oleh Henrikh Mkhitaryan. Duet penyerang tentu saja oleh Zlatan dan Rashford, misalnya.

Kedua pemain ini (abaikan yang kiri belakang) mungkin harus ditandemkan

Opini ini juga diperkuat dengan pendapat Alan Shearer. Pada acara Match of The Day beberapa hari yang lalu, ia menyebutkan bahwa “Ia (Zlatan) terlihat lebih baik ketika Rashford menjadi duet penyerang secara bersamaan di lini depan pada babak kedua (vs Burnley). Itu akan menambahkan irama yang lebih dinamis dalam permainan terutama di lini depan.”