5 Trio Penyerang Paling Menakutkan di Eropa Musim Ini

Setelah Trio MSN bubar jalan dan trio BBC kurang jelas kelanjutannya, sebetulnya sepakbola Eropa masih punya trio-trio lain, baik baru maupun sudah bermain bersama musim lalu, yang perlu ditakuti keberadaannya. Ini dia daftarnya!

Sebelum tren tiga bek kembali semarak berkat kesuksesan Antonio Conte membawa Chelsea menjuarai Premier League 2016/17 dengan rekor 30 kemenangan sepanjang musim, ada tren lainnya yang sudah berkembang terlebih dahulu di sisi lain lapangan. Demi menambah daya gedor dan merepotkan barisan pertahanan lawan, tim-tim top Eropa banyak yang menggunakan formasi tiga penyerang sebagai andalan.

Sebelum musim 2017/18 bergulir, atau lebih tepatnya sebelum Neymar hengkang ke PSG pada Agustus lalu, La Liga dihiasi dengan aksi-aksi trio penyerang top dari dua tim raksasa di sana, Real Madrid dengan trio BBC dan Barcelona dengan trio MSN. Dua kombinasi trio itu menghasilkan empat gelar Liga Champions dalam empat tahun terakhir dengan sejumlah rekor terus dipecahkan Cristiano Ronaldo (BBC) dan Lionel Messi (MSN). Kesuksesan PSG merekrut Neymar dan Kylian Mbappe membuat peta kekuatan trio penyerang paling menakutkan di Eropa diprediksi mengalami sedikit pergeseran. Kontribusi gol Neymar, Mbappe, dan Edinson Cavani sejauh musim ini membuat mereka menjadi salah satu dari deretan trio penyerang yang paling ingin dihindari semua tim di Eropa.

Tapi, trio penyerang PSG bukan satu-satunya yang membuat barisan pertahanan lawan merasa terancam dengan kehadiran mereka. Kami menyajikan kombinasi tiga penyerang terbaik di Eropa saat ini dan siapa yang menjadi pengganti posisi Neymar dalam trio lini serang Barcelona. 

1). Kylian Mbappe, Edinson Cavani, dan Neymar (PSG)

Pembelian Neymar senilai £198 juta, dan kemungkinan mahar sebesar €180 juta yang harus dirogoh PSG musim depan untuk mempermanenkan status Mbappe dari Monaco, tampak seperti sebuah perjudian besar yang juga dinilai membawa dampak buruk untuk bursa transfer sepakbola Eropa. PSG dianggap terlalu berani jika tidak bisa dibilang ceroboh untuk menghambur-hamburkan uang sebanyak itu demi mengikat dua nama saja.

Lalu, datanglah keduanya dengan seragam PSG dan beraksi di atas lapangan. Menyebut total 16 gol dan delapan assist yang lahir dari trio Mbappe, Cavani, dan Neymar sejauh ini adalah sebuah pembuktian bahwa PSG tidak salah langkah sepertinya terlalu dini. Kompetisi masih terlalu panjang dan PSG punya beban yang sangat besar untuk melangkahkan kaki mereka lebih jauh dari perempat final Liga Champions dan untuk tidak mengulang gelontoran enam gol ke gawang mereka di fase bergengsi seperti itu. Tidak untuk sebuah tim sekaliber mereka saat ini, tim dengan kemampuan finansial mencengangkan dan memiliki dua bintang masa depan sepakbola.

Tapi, sayangnya trio MCN terancam tak bakal bertahan lama. Sebuah keributan yang terjadi di antara Dani Alves, Edinson Cavani, dan Neymar saat PSG menggulung Lyon 2-0 dalam dua momen berbeda; pertama ketika PSG mendapatkan tendangan bebas, dan kedua menjelang eksekusi tendangan penalti pekan ini setidaknya menggambarkan dua hal. Pertama, kegagalan Unai Emery dalam mengelola sumber daya manusia (pemain) sampai-sampai dia mengaku setelah laga bahwa memang ada dua eksekutor penalti dalam timnya dan baru akan menentukan siapa di antara Neymar dan Cavani yang bakal menjadi eksekutor utama setelah insiden tersebut, dan yang kedua adalah ego dari para pemain bintang PSG, terutama Neymar, yang berpotensi merusak suasana internal tim.

Adegan pertengkaran dengan dengan rekan satu tim sebenarnya sudah memalukan untuk para pemain selevel Neymar dan Cavani, apalagi ketika Dani Alves ikut campur dengan menunjukkan keberpihakannya pada Neymar alih-alih menjadi penengah. Rumor bahwa Cavani bakal angkat kaki terus beredar sejak kemenangan atas Lyon dan jika hal itu terjadi PSG mungkin harus menghamburkan uang lebih banyak lagi musim panas tahun depan.

Pages