50 Derby Terbesar di Dunia versi FourFourTwo: 10. Al Ahly vs Zamalek

Memasuki 10 besar dan dibuka dengan derby terbesar di Mesir...

Al Ahly vs Zammalek adalah di mana sepakbola bertemu dengan sejarah dan politik, sebuah alasan yang benar-benar digunakan oleh Mesir untuk sedikit menggila.

Dibentuk di tahun 1911, Zamalek mewakili para ekspat kaya raya Kairo: nama awal klub ini adalah Al Mukhatalat (‘Campuran’) menunjukkan kombinasi dari pemain asli Mesir dan pemain Eropa bergabung dan bermain bersama. Kebalikannya, Al Ahly berarti ‘Nasional’ dan sejak dibentuk pada tahun 1909, klub ini mewakili kebangkitan nasionalisme dan keinginan untuk merdeka dari gangguan para penjajah.

Derby edisi tahun 2014 ketika Walid Soliman dari Al Ahly, kiri, ditekel oleh pemain Zamalek, Ibrahim Salah

Derby perdana terjadi pada tahun 1917, tapi segalanya mulai semakin memanas di pertengahan abad terakhir ini. Di lapangan, Liga Premier Mesir lahir di tahun 1948; di luar lapangan, Raja Farouk mendukung Mukhalatat – tapi ia diturunkan paksa pada tahun 1952, dan Ahly dengan cepat menjadikan penguasa baru Jenderal Nasser sebagai presiden klub mereka. Dengan kedua klub engan jelas terlihat sebagai perwakilan royalisme dan juga nasionalisme, pertandingan derby menjadi momen di mana perkelahian dan kekerasan muncul. Pada tahun 1966, derby dihentikan saat pihak militer memasuki stadion dan kerusuhan besar terjadi; Liga Mesir kemudian tidak benar-benar dimulai lagi hingga lima tahun kemudian.

Kematian dan kehancuran

“Rivalitas keduanya berkembang hingga ke bangku penonton di awal tahun 70an, saat pertarungan penuh kekerasan berakhir dengan kehancuran dan kematian,” kenang Youssef Khalifa, salah seorang jurnalis sepakbola Mesir. “Sebagai hasilnya, liga dihentikan pada tahun itu. Bom Molotov di pertarungan panas dan laga penuh ledakan selalu terjadi semenjak saat itu.”

Di luar semua itu, ada juga sisi sepakbola yang sukses. Meski memiliki beban sejarah yang berat, bagi banyak warga Mesir modern, menyaksikan dua klub paling sukses di Afrika ini adalah sebuah kesempatan untuk melarikan diri dari kehidupan sehari-hari. Selain ditonton oleh 50 juta penonton televisi domestik, laga ini juga juga merupakan laga besar di nyaris seluruh Afrika Utara dan Timur Tengah.  

Ultras Ahlawy, basis fans garis keras Al Ahly, sedang menyaksikan sesi latihan

Fakta bahwa kedua klub menikmati kondisi nyaris duopoly di sepakbola Mesir hanya menambah ketertarikan (dan intentistas) derby ini. Dari 56 gelar liga, Al Ahly memenangi 37 dan Zamalek punya 12 gelar. Selain itu Al Ahly sudah menjadi juara Afrika delapan kali sementara Zamalek lima kali. Bukan tanpa alasan jika laga ini disebut Likaa El Kemma: “Pertemuan antara yang Terbaik”.