50 Manajer Sepakbola Terbaik di Dunia 2016 versi FourFourTwo: 45-41

Dalam daftar ini terdapat calon pelatih Barcelona, Klopp dari Prancis dan Dexter Fletcher yang gemuk.

Penulis: Andrew Murray, James Eastham, Gary Parkinson, Marcus Alves

45. Ernesto Valverde (Athletic Bilbao)

Pelatih-pelatih sepakbola sering menggambarkan diri mereka sebagai tipe orang yang terpelajar, cerdas, dan sadar budaya. Jose Mourinho, misalnya, pernah menghentikan konferensi pers Real Madrid dan menyuruh Rui Faria, asistennya, menelponnya, hanya untuk membuktikan bahwa bunyi ringtone-nya merupakan lagu Puccini Italia 90 – diadaptasi dari Nessu Dorma – yang dinyanyikan oleh Pavarotti.

Berbeda dengan Mourinho, pelatih-pelatih lainnya lebih memilih menggunakan kepekaan kreatifnya untuk diri mereka sendiri. Ernesto Balverde contohnya, seorang fotografer amatir yang menyukai karya hitam putih. Kadang-kadang dia sering menggunakan foto aneh tentang sepakbola untuk menginspirasi timnya – foto tentang para penggemar Olympiakos yang berdiri di atas bus tim – tetapi Bos Atlheltic Bilbao tersebut lebih sering menggunakan keterampilannya yang membuatnya terus melangkah sejauh ini: pemahaman akut tentang para pemainnya dan apa yang diinginkan oleh para pemainnya.

Saya ingin menekankan bahwa ia adalah sosok yang sangat normal, ia adalah seorang pemain sampai beberapa waktu yang lalu dan ia tahu pasti apa yang kami butuhkan. Ia sangat pengertian dan banyak berbincang dengan kami.

- Ander Herrera

Dirinya juga membutuhkan itu. Kebijakannya yang hanya menggunakan pemain asli Basque, merupakan salah satu tradisi terbesar dalam sepakbola Eropa, walaupun itu membatasi pilihan Valverde, tetapi usaha tak kenal lelahnya untuk mendapatkan hasil maksimal dari para pemainnya sangat cocok dengan julukannya, Txingurri (Sang Semut).

Setelah membawa Bilbao ke Liga Champions pada tahun 2014, Valverde membawa timnya meraih posisi kelima pada musim lalu dan juga berhasil memenangi Supercopa setelah mengalahkan Barcelona dalam pertandingan dua leg. Kejeliannya membuat Aymeric Laporte berkembang menjadi salah satu bek paling dicari di Eropa; dia bahkan mengubah posisi Oscar de Marcos dari seorang playmaker penjelajah menjadi seorang full-back yang sering menyerang secara mengejutkan.

“Dia adalah seorang pelatih teknikal dan selalu menanamkan karakter di dalam timnya untuk mendominasi permainan. Dia pelatih yang mirip dengan Del Bosque,” kata Mikel San Jose, center-back Bilbao.

Dirinya sangat dihormati di Barcelona, di mana dirinya pernah menghabiskan dua musim sebagai penyerang haus gol pada akhir 80an, Valverde akan berada di urutan teratas dalam daftar calon pelatih Barcelona saat Luis Enrique memutuskan bahwa hasil yang diperoleh di Camp Nou tidak setimpal. AM

44. Jocelyn Gourvennec (Bordeaux)

Setelah enam tahun yang biasa saja, Guervennec mengakhiri kariernya sebagai manajer Guingamp pada bulan Mei, tetapi dirinya kemudian mendapatkan kesuksesan hanya dalam waktu setahun. Mantan playmaker Rennes yang sekarang berusia 44 tahun tersebut, memang belum banyak dikenal di luar tanah airnya, tetapi reputasinya terus berkembang di Prancis setelah melakukan pekerjaan bagus pada debut profesionalnya.

Setelah ditunjuk pada tahun 2010, dirinya memimpin Guingamp dari divisi tiga ke Ligue 1. Dirinya bahkan berhasil meraih piala – Guingamp sukses menjuarai Coupe de France pada tahun 2014, dan mereka lolos ke fase sistem gugur Liga Europa pada tahun berikutnya.

Salah satu pemain paling cerdas di generasinya, Gourvennec telah menjadi salah satu pelatih tercerdas

- Michael Yokhin, ahli sepakbola Eropa

Musim lalu mungkin lebih biasa bagi Guingamp, mengingat prestasi bagus mereka baru-baru ini, tapi dengan mengakhiri posisi di liga di peringkat 16, sebuah pencapaian yang dianggap sebagai sebuah prestasi mengingat bahwa mereka – menjadi korban kesuksesan mereka sendiri – kehilangan dua penyerang andalan mereka, Claudio Beauvue (Lyon) dan Christopher Mandanne (Al Fujairah), musim panas lalu.

Kendati berada di peringkat rendah, Guingamp tidak benar-benar berada dalam ancaman degradasi; Para penggemar Guingamp yang mengucapkan salam perpisahan pada akhir musim lalu menyadari kemampuan Sang Manajer  untuk membuat timnya tetap stabil. Gourvennec telah bergabung bersama Bordeaux, di mana harapan dan anggaran akan lebih besar. Bukti menunjukkan bahwa dia akan mengambil tantangan baru  ke dalam langkahnya. JE

43. Leonid Slutsky (CSKA Moscow)

Ada satu fakta yang semua orang ketahui tentang Leonid Slutsky. Dia tampak seperti  Dexter Fletcher yang kurang tidur, yang menghabiskan terlalu banyak hari Minggu hanya untuk duduk-duduk di sofa terkemuka dengan sepiring sosis.

Karier manajer berusia 45 tahun tersebut berakhir saat berusia 19 tahun karena terjatuh saat menyelamatkan kucing tetangganya dan membuat lututnya mengalami cedera yang tidak bisa disembuhkan.

“Dia selalu tersenyum saat Anda berbicara tentang hal itu,” kata Artem Dzuyba, penyerang Rusia yang bermain di bawah asuhan Slutsky di Euro 2016, kepada FFT awal tahun ini. “Kami tertawa tentang bagaimana batang-batang pohon tidak mampu menahan berat badannya! Ini takdir, karena Slutsky kemudian dapat berkonsentrasi pada karier kepelatihannya.”

Mourinho dari Rusia

- Yuri Belous,pemilik klub FC Moscow

Dan dia memang dapat berkonsentrasi. Meskipun pada 12 bulan terakhir dirinya mampu mendapatkan paling banyak trofi selama tujuh tahun kariernya bersama CSKA, gelar ketiga Liga Russia dalam empat tahun yang diraih Slutsky adalah kemenangan yang mengesankan,  mengingat kekayaan yang dihabiskan oleh Zenit St Petersburg. 12 gol dari Ahmed Musa, pemain baru Leicester, mendukung keberhasilan dari sayap, sementara Igor Akinfeev merupakan kiper utama bagi klub maupun bagi negaranya.

Seperti kipernya, Slutsky mengemban dua pekerjaan, dan berhasil memenangkan empat pertandingan di babak kualifikasi setelah menjadi pengganti sementara Fabio Capello pada bulan Agustus 2015. Benar, Russia memang berhasil membuat Inggris frustasi di Euro 2016, tetapi Anda tidak bisa menyalahkan pelatih yang menyortir kekacauan yang disebabkan oleh orang lain. Musim depan mungkin menjadi musim yang sulit dengan perginya Mousa dan penuaan di lini belakang yang terlihat di Prancis, tetapi itu tidak akan menjadi pertama kalinya bagi Slutsky untuk mengatasi kemustahilan.

“Saya akhirnya menjadi pahlawan di desa saya karena menyelamatkan kucing,” Slutsky suatu waktu bercanda tentang kejadian yang berhasil membentuk hidupnya. “Sayangnya, saya juga jatuh dari pohon dan membuat lutut saya cedera.” Bagi CSKA Moskow, mungkin dia akan melakukannya lagi. AM

42. Manuel Pellegrini (Tidak Ada Klub)

Kasihan Manuel Pellegrini. Pada dua tahun pertamanya bersama Manchester City, Manuel Pellegrini berhasil mencatat rekor kemenangan hingga 63%, berhasil meraih gelar Liga Inggris dan kemudian menjadi runner-up – tapi segera setelah Pep Guardiola memutuskan tidak memperpanjang kontraknya di Jerman yang dimana dirinya jelas melebihi persyaratan dan kemudian menyingkirkannya.

Dengan bisikkan yang kemudian memekakan telinga, pelatih asal Chili tersebut dipaksa memberikan pengumuman pada 1 Februari lalu bahwa dia akan meninggalkan City pada akhir tahun ketiganya; dipimpin oleh orang yang berjalan menuju kematiannya, City turun dari peringkat kedua, tiga angka di belakang Leicester, untuk kemudian berakhir di peringkat keempat, tertinggal 15 angkat dari pemuncak klasemen.

Semua orang tahu filosofi Pellegrini dan sejarah kariernya, tetapi ia adalah seorang yang sangat memberikan Anda kepercayaan diri, yang bersikap begitu sederhana dan bisa selalu mengeluarkan yang terbaik dari setiap pemain: ia adalah potongan penting dari puzzel ini

- Joaquin

Tetapi itu bukan hal baru bagi Pellegrini yang pernah menghabiskan musim 2009/2010 di Real Madrid, sebuah klub yang bisa kita ibaratkan sebagai rumah sakit jiwa yang penuh ekspektasi. Musim itu Pellegrini berhasil meraih 96 angka, yang merupakan rekor klub, tapi hanya finis di peringkat kedua di bawah Barcelona yang tak terbendung kala itu – tentu saja yang dilatih oleh Pep Guardiola – dan Pellegrini selalu berjalan mengarah ke luar. Lalu,  Itu mungkin hal muram yang lucu, pria sopan tersebut berhasil membawa City ke semifinal liga Champion, prestasi terbaik yang pernah diraih sepanjang sejarah City – menjadi menjengkelkan ketika mereka kemudian menyerah dari (tentu saja) Real Madrid.

Seorang pria poluer yang berhasil membuat timnya tampil menarik, Pellegrini layak mendapatkan hasil yang baik di klub yang lebih nyaman – perkerjaan yang layak untuk seorang pria yang layak. Ini akan menarik untuk dilihat di mana dia akan akhirnya bisa mendapatkan itu; setelah memiliki karier mengesankan di Chili, Argentina, Spanyol, dan Inggris, bisakah anak imigran asal Italia ini mengarahkan perhatiannya pada Serie A? GP

41. Tite (Brasil)

Kebangkitan Joga Bonito telah menjadi pusat perdebatan di Brasil selama bertahun-tahun. Bagi kebanyakan penggemar, menyewa pelatih asing adalah solusi. Pep Guardiola pernah mengakui minatnya untuk mendapatkan pekerjaan ini, Jose Mourinho adalah favorit di kalangan penggemar, sementara Jorge Sampaoli juga menawarkan diri untuk posisi ini.

Tak satu pun dari mereka yang akhirnya dipekerjakan setelah Dunga mengundurkan diri karena bencana yang dialami Brasil dalam gelaran Copa America Centenario. Pilihan federasi Brasil akhinya jatuh kepada Tite, satu-satunya orang yang tidak akan dikritik oleh 200 juta “pelatih” lainnya di negaranya.

Tite adalah sosok yang tepat untuk pekerjaan ini. Ia tahu bagaimana mengatur ego-ego pemain, seperti yang ia tunjukkan ketika membuat Ronaldo bermain baik dalam karier pendeknya di Corinthians. Ia juga merupakan pilihan populer bagi fans dan media

- Fernando Duarte, ahli sepakbola Brazil

Bukan hal yang sulit untuk memahami mengapa bisa seperti itu – dia dikenal karena karakternya, etika dalam profesinya, dan hubungannya dengan para pemainnya. Prestasi terbaiknya muncul saat dirinya membawa Corinthians menjadi juara Copa Libertadores dan Piala Dunia antar klub pada tahun 2012. Dia kembali melatih Corinthians untuk ketiga kalinya pada tahun 2015 dan memimpin mereka untuk meraih gelar Liga Brasil.

Meski telah kehilangan sebagian besar pemain bintangnya yang pergi ke China pada awal musim, dia berhasil membangun kembali timnya dan sisi lamanya kini sekali lagi berjuang untuk meraih posisi teratas di Serie A Liga Brasil. Pelatih berusia 55 tahun tersebut biasanya tidak memiliki rasa malu dengan kemenangan 1-0 asalkan itu bisa membimbing timnya ke arah juara – jadi, untuk sementara, lupakan permainan indah. Orang-orang Brasil tidak akan bisa menunggu itu. MA

50-46 • 45-41 • 40-36 • 35-31 • 30-26 • 25-21

50 Manajer Sepakbola Terbaik Dunia 2016 Versi FourFourTwo