50 Manajer Sepakbola Terbaik di Dunia 2016 versi FourFourTwo: 50-46

Dan daftar ini pun dimulai! Ada dua bos tersukses di Amerika Selatan pada tahun 2016 ini, ditambah tiga manajer yang sukses meraih pencapaian di atas ekspektasi

Ditulis oleh: Chris Flanagan, Marcus Alves, Martin Mazur, Michael Yokhin, Geoff Brown.

50. Chris Coleman (Wales)

Aktor pemenang Oscar, Adrien brody, pernah bergurau tentang ia membutuhkan 17,5 tahun untuk bisa sukses dalam semalam. Chris Coleman pasti mengerti perasaan itu.

Pelatih Wales ini pertama kali menjadi manajer ketika menangani mantan klubnya, Fullham, pada tahun 2003, namun baru ketika meraih kesuksesan brilian di Euro 2016 dia benar-benar mengumumkan bahwa dirinya adalah salah satu manajer paling impresif di Eropa.

Ia brilian, ia memastikan setiap hal telah disiapkan sebelum masuk ke lapangan. Pembuktian terbesar yang bisa diberikan padanya adalah bahwa semua orang senang bermain untuknya – kami benar-benar memberikan segalanya untuk manajer

- Joe Allen, Wales

Karier manajerial Coleman tidak selalu berjalan dengan baik. Pekerjaan keduanya di Real Sociedad hanya berlangsung selama enam bulan: di sebuah kesempatan ia telat 90 menit ke konferensi pers, berkata pada para wartawan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi di apartemennya. Pada kenyataannya, Coleman keluar kota di malam sebelumnya, dan dia terpaksa meminta maaf.

Kemudian ia juga pernah berkarier di Coventry dan karier yang buruk di sebuah klub Yunani, Larissa, sebelum akhirnya menerima pekerjaan di Wales setelah kematiannya temannya, Gary Speed. Karir kepelatihannya benar-benar dalam bahaya serius ketika dia kalah 1-6 dari Serbia pada 2012.

“Saya telah mencoba segalanya yang dilakukan Speed, karena saya diberitahu bahwa segalanya berjalan baik dan jangan mengubahnya,” akunya. “(Tapi) segalanya tidak berjalan baik untuk saya – segalanya kacau. Saya tidak akan membuat kesalahan itu lagi.”

Coleman kemudian memperkenalkan taktiknya sendiri, dengan menggunakan sistem tiga pemain di lini belakang, dan Wales pun berkembang. Pria 46 tahun itu menciptakan semangat di dalam tim nasional, melakukannya dengan kepercayaan diri yang tenang dan hal tersebut jelas menular ke para pemainnya.

Lolos ke turnamen besar pertama mereka sejak tahun 1958 saja merupakan sebuah pencapaian besar – bisa melaju ke babak semifinal adalah sebuah keajaiban. CF

49. Reinaldo Rueda (Atletico Nacional)

Belum pernah sebuah tim bisa menang di kandang tim-tim dari Brasil, Argentina, dan Uruguay di musim yang sama di Copa Libertadores. Atletico Nacional melakukannya dalam perjalanan mereka ke final di tahun 2016 – dan sekarang mereka menjadi favorit untuk meraih gelar tersebut.

Beberapa orang akan mengatakan bintang baru Kolombia, Marlos Moreno, menjadi faktor penting di baliknya dengan performa menawannya dalam kemenangan 2-0 di kandang Huracan di Buenos Aires. Atau penjaga gawang Franco Armani yang sukses mengamankan gawanya dari begitu banyak bahaya pada kemenangan 4-0 timnya atas Penarol di Montevideo. Atau bahwa para pemain bertahan Sao Paolo masih tidak bisa tidur setelah kebobolan gol-gol Miguel Borja di Estadio do Morumbi.

Sang 'guru' membaca, berbicara, dan makan sepakbola. Ia adalah seorang peneliti lawan-lawan yang akan ia hadapi, dengan mengunci dirinya di ruangannya dan bahkan lebih memilih untuk tidak meninggalkan hotel untuk melihat kembali detail-detail kecil

- Eks asisten Hector Fabio Baez

Orang-orang itu mungkin tidak salah – tapi sosok di belakang semua keberhasilan ini tentu saja Reinaldo Rueda.

Pelatih berusia 59 tahun itu telah bekerja untuk sejumlah tim nasional dari tahun 2004 sampai 2014 dan memimpin Honduras dan Ekuador ke Piala Dunia. Namun dia masih harus membuktikan dirinya di level klub – dan ia telah melakukannya dengan cara yang mengesankan. Rueda menciptakan klub yang berorientasikan papa serangan yang – menurut kata-katanya sendiri – prioritas utamanya adalah memberikan tontonan menarik bagi para penggemar.

Dia mungkin akan segera menjadi sexagenarian (berusia 60 tahun), namun pria 59 tahun ini terus belajar dan telah bekerja sebagai instruktur FIFA pada sekolah sepakbola nasional Kolombia. Mimpinya adalah melatih di Bundesliga suatu hari nanti – dia bisa berbicara bahasa Jerman setelah mengambil gelar master di Cologne. MA

48. Pablo Repetto (Independiente del Valle)

Orang Uruguay ini telah menjadi sosok ‘setengah dewa’ di Ekuador: dia ditunjuk sebagai pelatih pada tahun 2012 dan membawa sebuah klub kecil, yang didirikan pada tahun 1958,ke peringkat kedua di Primera A untuk kali pertama.

Namun ledakan sebenarnya terjadi di level internasional, di mana Independiente bersaing untuk pertama kalinya di ajang Copa Sudamericana (2013, 2014) dan Copa Libertadores (2014, 2015, 2016).

Dengan skuat yang hanya seharga £16 juta, Independiente asuhan Repetto sukses mencapai final Libertadores di mana mereka berhadapan dengan Atletico Nacional asuhan Rueda dengan keadaan imbang 1-1 di leg pertama. Anda bisa mengatakan bahwa mereka telah membuktikan diri mereka sebagai Leicester-nya Amerika Selatan, dengan menjadi klub pertama yang mengeliminasi Riverplate dan Boca Juniors di turnamen yang sama dan di tahun yang sama.

Menjelang pertandingan, selalu ada tim favorit, tetapi tim yang lebih baik lah yang menjadi juara. Kami bukan tim yang lebih besar daripada tim lain, tetapi kami juga bukan tim yang lebih kecil. Mereka mengatakan Bombonera akan membuat kami tegang, tetapi kami bermain seperti biasanya

- Pablo Repetto

Sebelumnya, pria 42 tahun itu hanya menukangi klub-klub kecil di Uruguay. Kini dia adalah salah satu manajer yang disegani di benua tersebut dan menjadi studi kasus untuk klub-klub kecil. “Pertama yang terpenting (bagi saya) adalah keluarga saya, kemudian tim saya. Semakin banyak waktu yang saya habiskan di klub, semakin saya merasa bahwa keluarga dan tim adalah hal yang sama,” katanya.

Repetto menggunakan 30% dari biaya klub untuk akademi dan mencetuskan ide solidaritas, di dalam dan luar lapangan: gaji semua pemain hampir sama, dengan gaji tertinggi pemainnya adalah £6.000 per bulan. “Kami punya skuat muda yang lebih mengkhawatirkan soal olahraga ketimbang ekonomi. Bahkan dengan semua kelemahan ini kami dibandingkan dengan klub-klub besar lainnya, kami punya kepercayaan dan keyakinan dalam diri kami. Dan saya berasal dari Uruguay jadi saya menyukai ide untuk membuat kejutan ketika semua orang meremehkan Anda. Dengan cara itulah kami memiliki kekuatan untuk terus berjalan.” MM

47. Janne Andersson (Timnas Swedia)

Kesabaran dan kerja keras memang selalu terbayar – Andersson mengerti hal itu lebih baik dari siapapun. Penunjukkannya di IFK Norrkoping di tahun 2011 dimulai dengan keraguan oleh penggemar dan media, dan timnya pun hampir terdegradasi, namun pihak klub yakin dan memberikan tanggung jawab penuh dengan mendapuknya sebagai pelatih dan manajer.

‘Party-Janne’ – julukan yang ia dapatkan setelah pertemuan tengah malam dengan seorang agen sebelum sebuah pertandingan IFK Norrköping – masuk ke sebuah ballroom yang benar-benar sepi bersama Swedia. Tanpa Zlatan

- Johan Croneman, DN.Sport

Proyek jangka panjang Andersson adalah menaikkan para pemain muda dari akademi, dan dia benar-benar sukses dengan sebagian besar dari para pemain muda tersebut, khususnya Christoffer Nyman dan Alexander Fransson. Sejumlah pilihannya memang cemerlang, seperti mengganti posisi sang kapten, Andreas Johansson, dari gelandang menjadi bek tengah.

Pada 2015, Norrkoping sudah siap untuk menantang perebutan gelar juara yang yang sensasional, dan memiliki mental dan taktik yang cukup kuat untuk menghadapi semua rintangan dan memenangkan gelar juara. Gelar juara ini merupakan yang pertama kali bagi klub tersebut sejak 1989, dan manajer 52 tahun itu akhirnya mendapatkan pengakuan yang memang pantas ia peroleh.

Itulah mengapa ia terpilih untuk menggantikan Erik Hamren sebagai pelatih tim nasional setelah Euro 2016, meski Norrkoping ogah melepasnya. Swedia harus membangun dari awal seiring dengan pensiunnya Zlatan Ibrahimovic, Kim Kallstrom, dan Andreas Isaksson, tetapi itu justru di situlah kekuatan Andersson. Ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan dirinya di panggung internasional. MY

46. Kurban Berdyev (FC Rostov)

Bukan sebuah nama yang menjadi bagian dari dongeng sepakbola, baik masa sekarang ataupun masa lampau, namun Berdyev benar-benar layak mendapatkan posisi di daftar manajer terbaik dunia tahun ini. FC Rostov memang baru dua musim tidak bermain di Premier League Rusia, tapi mereka tidak pernah mampu menggulingkan raksasa-raksasa abadi di puncak piramida sepakbola Russia. Bahkan, posisi lima teratas selalu berada di luar jangkauan mereka.

Gaya Berdyev jarang spektakuler, tetapi tak ada orang yang akan berekspektasi Rostov akan bermain seperti Barcelona atau bahkan Leicester. Mereka setia dengan cara yang akan memberikan mereka tiga poin

- Michael Yokhin, ESPN

Rostov kemudian menggunakan jasa Berdyev dua tahun lalu. Musim pertamanya hampir menjadi bencana: selisih gol akhirnya menyelematkan klub dari degradasi. Keyakinan manajemen atas Berdyev dibayar lunas dengan keberhasilan Rostov menjadi runner-up di bawah CSKA Moscow yang diasuh Leonid Slutsky, dengan selisih hanya dua poin.

Pelatih 63 tahun tersebut mengubah pertahanan yang lemah menjadi lini belakang yang paling sedikit kebobolan di liga, dan Stadion Olimp-2 mereka menjadi benteng yang kokoh di mana setiap tamu yang datang akan selalu gagal pulang dengan kemenangan. Bahkan CSKA dan Zenit St Petersburg sekalipun merasakan kekalahan yang tak terduga di stadion yang biasanya bisa mereka taklukan.

Perubahan prestasi yang dramatis dari kandidat kuat terdegradasi menjadi penantang gelar juara jelas memunculkan perbandingan dengan Leicester. Tapi Berdyev sebetulnya tidak asing dengan perubahan signifikan tersebut: dia pernah membawa Rubin Kazan menjadi juara liga untuk pertama kalinya di 2008 dan mengulanginya lagi bahkan dalam kondisi yang tak terduga di musim berikutnya. Faktanya, Kazan juga mengalahkan Barcelona di bulan Oktober 2009 di Camp Nou – sebuah pencapaian Berdyev lainnya yang layak dicatat. GB

50-46 • 45-41 • 40-36 • 35-31 • 30-26 • 25-21

50 Manajer Sepakbola Terbaik Dunia 2016 versi FourFourTwo