Inilah 10 Pelatih Terbaik Dunia 2017 Versi FourFourTwo!

Akhirnya kita sampai juga di garis finis: siapa saja yang masuk dalam 10 besar daftar 50 pelatih terbaik dunia versi FourFourTwo 2017?

10. Peter Bosz

Saat pria 53 tahun yang merupakan seorang mantan pelatih Vitesse, Peter Bosz, untuk pertama kalinya ditunjuk duduk di kursi panas milik Ajax, reaksi yang muncul adalah sinis, skeptis, dan bahkan penolakan secara terang-terangan. Sebagian besar kelompok fans fanatik Ajax di Amsterdam, dan bahkan salah satu kelompok suporter resmi, secara terang-terangan menunjukkan ketidaksenangan mereka pada sosok yang akan memegang klub kesayangan mereka ini, terutama karena masa lalunya terikat erat dengan Feyenoord, sang rival abadi.

Setahun berselang, rasanya lucu melihat bagaimana justru seorang mantan pemain Feyenoord inilah yang bisa memberikan gaya sepakbola yang begitu dekat dengan masa-masa kejayaan Ajax dulu, dibandingkan sosok sebelumnya, yang notabene adalah legenda mereka, Frank de Boer, dimana de Boer tidak memberikan sesuatu yang spesial selama empat setengah tahun menukangi Ajax. Ia berhasil membuat para fans terkagum-kagum, terpesona, dan bisa menyatukan diri kembali dengan klub legendaris ini.

Mengukir Jalan-nya Sendiri

Bosz selalu terlihat sebagai sosok yang tidak biasa. Bermain sebagai gelandang bertahan yang tangguh di sepanjang kariernya, di masa-masa sebelum peraturan Bosman berlaku, ia mengurus dan menegosiasikan sendiri kontraknya, sehingga tidak ada satupun klub yang bisa mengikatnya tanpa izin dirinya.

Saat Vitesse menolak, ia memilih untuk pindah ke klub amatir AGOVV dan memanjat sendiri ke puncak. Akhirnya ia berhasil, bermain selama enam musim di Feyenoord dan menjadi bagian dari skuat Belanda di Piala Eropa 92.

Ia kemudian menjadi direktur teknis di Feyenoord, di antaranya ia juga sempat dua kali secara sukses menjadi manajer Heracles, di mana ia memberikan hadiah promosi pada mereka di masa perdana dan kemudian membawa tim ini lolos ke Eropa.

Di tahun 2013, Bosz pindah ke Vitesse dan menghabiskan dua setengah tahun di Arhnem sebelum 18 bulan kemudian membuatnya berpetualang dari Vitesse ke Maccabi, ke Ajax, dan sekarang menjadi manajer Borussia Dortmund.

Pengaruh Besar Cruyff

Bosz, meski memiliki sejarah dengan Feyenoord, adalah pengagum Johan Cruyff dari masa mudanya, dan sebagai pemain Vitesse, ia bahkan punya tiket musiman Ajax. Saat ia menjadi bagian dari skuat Belanda di Piala Eropa 92, di bawah Rinus Michels yang legendaris, kabarnya ia akan berlari kembali ke kamar setelah pertemuan tim untuk mengisi buku catatan kecilnya dengan apa yang disampaikan sang manajer, dan memfokuskan diri pada persiapan untuk pertandingan.

Semenjak muda, Bosz tahu persis ia ingin menjadi pelatih. "Bukan sebuah rahasia saya ingin melatih di tim besar. Saya dulu bermain untuk tim besar di Feyenoord. Saya bahkan membela Belanda," ucapnya. "Tapi saya tidak pernah melihat diri sebagai pemain papan atas, saya hanya cukup bagus di lapangan. Tapi sebagai pelatih, saya sangat ingin bisa jadi yang terbaik."

Tim Barcelona milik Guardiola di musim 2009/11 yang memenangkan segalanya tetap menjadi tim ideal Bosz, seperti juga tim Piala Dunia Belanda di tahun 1974, terutama dengan energi luar biasa mereka dan usaha super keras saat melakukan pressing.

Saat mengadaptasi filosofi miliknya sendiri, Bosz mengandalkan permainan yang berpusat pada menggerakkan bola dengan cepat, dan membuat para pemainnya hanya berlari kencang di jarak pendek. Ia juga menjalankan 'peraturan lima detik' dalam hal pressing. Karena ini adalah waktu yang kira-kira dibutuhkan untuk sebuah tim berubah/transisi dari bentuk serangan ke bertahan saat kehilangan bola, maka sangat ideal untuk menyerang mereka di periode transisi ini, di mana mereka sedang sangat rapuh dan tidak tertata rapi. Karena itu, pemainnya  sesegera mungkin setelah kehilangan bola,  harus bisa menekan dengan tinggi  dan keras ,lalu mencoba untuk memenangkan bola lagi dalam waktu lima detik saja.

Akhir yang Terlalu Dini

Bosz menyandarkan diri pada prinsip tua nan fundamental ala Total Football, dan menegaskan pentingnya ruang di lapangan pada pemainnya. Saat Anda menguasai bola, Anda harus membuat lapangan sebesar mungkin dan membuat lawan berpencar. Saat kehilangan bola, Anda tidak mundur, namun menyusut untuk membentuk pola yang rapi dan mencegah lawan maju ke depan.

Ini jelas adalah sepakbola gas-tinggi, tempo tinggi, dan pressing tinggi, yang mengembalikan aura Ajax yang sempat hilang selama beberapa tahun. Memang butuh waktu untuk semuanya menyatu dan bergerak kencang, tapi saat ini terjadi, Ajax sangatlah mempesona.

Tidak diragukan lagi banyak fans -bahkan yang sebelumnya menolak dirinya- kecewa dengan fakta bahwa setelah hanya satu tahun, 'Bosz Project' di Ajax harus berakhir secara dini.

Dari jauh, tampak sangat logis bagi seorang pelatih di Ajax untuk melangkah ke klub yang memiliki sumber daya lebih baik, dan di liga yang lebih sulit semacam Borussia Dortmund. Meski begitu, perselisihan internal dengan asisten pelatihnya, Dennis Bergkamp dan Hennie Sijkerman tampaknya memuluskan kepergiannya ini, terutama karena segalanya tampak begitu dramatis dan pahit.

Bosz seringkali mendapat kritik karena keras kepala dan idealis dengan gaya sepakbola-nya -sesuatu yang juga dilemparkan ke nama-nama semacam Guardiola dan Cruyff. Ini bisa jadi muncul juga karena rekor miliknya yang meski selalu memberikan hiburan luar biasa, Bosz masih belum mendapatkan trofi penting sebagai pelatih hingga saat ini.

Bersama Dortmund, Bosz sekarang punya skuat yang memiliki materi yang sama dengan tim Ajax yang ia butuhkan untuk bermain maksimal: talenta muda, mau bermain dengan ataupun tanpa bola, dan mampu berpikir cepat. Apakah ia mampu menciptakan tantangan yang cukup hebat bagi Bayern Munich di musim baru nanti dan lolos jauh di Eropa akan menjadi dasar penting ke kisahnya -cerita seorang pelatih yang dengan sabar menanti waktu, dan sekarang tampak siap untuk meledak ke angkasa.

Pages