50 Pelatih Terbaik Dunia 2017 Versi FourFourTwo: 35-31

Ahli taktik yang dingin tetapi bisa membuat hati para fansnya hangat dan pelatih asal Perancis yang bisa membuat perbedaan menjadi keunggulan...

35. Senol Gunes

Senol Gunes

Bisa dibilang dia adalah penjaga gawang terbaik sepanjang sejarah Turki, Gunes juga menjadi salah satu pelatih terbaik saat ini. Pria dari Trabzon ini selalu dilihat sebagai sosok asing di Istanbul, dan tidak mendapatkan pujian yang layak bahkan setelah membawa tim nasional-nya meraih posisi ketiga di Piala Dunia 2002 silam.

Namun belakangan ini, ia mulai mendapatkan kehormatan yang sangat layak setelah berhasil memenangi dua gelar juara Liga bersama Besiktas secara berurutan. Ia memang menghabiskan masa-masa bermainnya di bawah mistar gawang, namun Gunes adalah pelatih yang sangat mengandalkan serangan, sosok yang sangat bagus dalam hal membantu striker memenuhi potensi maksimal mereka.

Setelah berhasil meningkatkan rasa percaya diri Shota Arveladze, Fatih Tekke, dan Burak Yilmaz dalam beberapa tahun belakangan, ia mengirimkan keajaiban miliknya ke striker pinjaman Mario Gomez di musim 2015/16. Besiktas sempat nyaris sekali lolos ke babak 16 besar Liga Champions musim lalu –dan seharusnya bisa kembali lagi mendapat banyak sorotan di Eropa musim mendatang.

Penulis: Michael Yokhin

34. Thomas Tuchel

Thomas Tuchel

Jika menyertakan Tuchel di daftar ini tampak aneh –ia kehilangan pekerjaan-nya di Borussia Dortmund hanya beberapa pekan silam, coba pikirkan masa-masa sukses dan menyenangkan dirinya di Mainz (dari 2009 hingga 2014) dan juga di Dortmund. Sederhana saja, ia layak mendapatkan tempat sejajar dengan para manajer papan atas Dunia.

Menyebut gaya memimpin Tuchel inovatif rasanya cukup adil: sesi latihan bisa termasuk menambahkan barang ke pemain saat mereka berlatih teknis, gaya bermain yang sangat sempit ataupun ala berlian, dan evaluasi diri yang menyeluruh dengan menggunakan analisis data.

Ia adalah idola para hipster sepakbola di seluruh dunia; manajer kelas atas yang benar-benar tertarik dan terpengaruh besar dengan fenomena analisis semacam ‘Expected Goals’ atau ‘Packing’. Tuchel mengharapkan pemainnya mampun berfungsi di berbagai formasi dan sistem, dan selalu menjaga gaya permainan menyerang dengan tekanan secara tim tanpa henti di lapangan.

Saat ia berhasil menjalankan prinsipnya, tim miliknya sangatlah menyenangkan untuk disaksikan siapapun.

Penulis: Sam Planting

33. Rafa Benitez

Untuk seseorang yang seringkali digambarkan sebagai sosok berhati dingin, layaknya robot taktik di lapangan, Benitez jelas tahu bagaimana caranya memenangkan hati para fans setia klub. Di Liverpool, ia tetap menjadi salah satu manajer kesayangan para pengunjung setia Anfield. Rasa sayang ini tidak hanya karena keberhasilan mereka di Istanbul pada tahun 2005, dan tim luar biasa yang-sangat-nyaris juara di musim 2008/09, tapi juga cara Benitez memuja klub dan kota-nya (termasuk juga siap berperang demi LFC menghadapi rezim pemilik layaknya parasit dan berakhir  dengan kehilangan pekerjaan-nya di klub ini).

Di Newcastle, kisah yang sama sudah berjalan; sebuah klub di pusat industri lama Inggris Raya, tertinggal dalam hal finansial dan uang di era Premier League, berhasil dihidupkan kembali oleh sosok manajer pinggir lapangan yang gempal ini. Apatisme berubah menjadi antusiasme. Melihat bagaimana ia dihajar dalam dunia ini –bagaimana ia diperlakukan di Inter, Chelsea, dan klub masa kecilnya Real Madrid sangatlah brutal- cukup menyenangkan melihat sisi romantis yang berada di dalam diri Benitez tidak hanya tetap bertahan dalam beberapa tahun terakhir, namun bisa tumbuh menjadi lebih baik lagi.

Dan ia jelas adalah seorang pelatih yang hebat dan berkelas. Promosi musim lalu di usaha perdana-nya adalah apa yang pasti Anda harapkan dari manajer yang memiliki delapan gelar turnamen besar di tiga negara. Jika tidak ada masalah meja/lampu yang muncul dalam waktu dekat (selalu menjadi bahaya laten dengan Mike Ashley), kita bisa berharap menyaksikan Newcastle mencoba menerobos papan atas Premier League.

Penulis: Alex Hess