7 Alasan Pemain Muda Berbakat Lebih Memilih Berkarier di Bundesliga Ketimbang Liga Lainnya

Bundesliga memang tidak seglamor Premier League Inggris atau sesengit duopoli Barcelona dan Real Madrid di La Liga, tapi ada banyak alasan mengapa sebagian pemain muda lebih memilih Bundesliga sebagai pelabuhan karier mereka ketimbang liga lainnya. Apa saja?

“Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia.”

Sejak dulu, para pemuda turut terlibat dalam membentuk sejarah bangsa Indonesia. Mereka dianggap memiliki semangat juang tinggi, energi yang meletup-letup, serta kreativitas tanpa batas, sehingga sangat mungkin pemuda menjadi salah satu agen perubahan bangsa. Ikrar Soempah Pemoeda merupakan bukti sahih andil besar para pemuda bangsa ini. Maka, saya kira ungkapan Soekarno, Presiden Indonesia pertama, pada awal tulisan ini tidaklah berlebihan.

Tim-tim Bundesliga tentu tidak berangkat dari kutipan fenomenal Presiden Indonesia pertama. Toh, mereka barangkali memang tidak mengenal Soekarno dan tentu saja tidak pernah mendengar kutipan itu. Meski begitu, mereka sendiri sudah sadar dan tahu betul bahwa pemuda memiliki sesuatu yang membuatnya berbeda. Makanya pada tiap musim, rataan usia pemain di Bundesliga selalu mengalami penurunan. Musim lalu saja, liga teratas sepakbola Jerman ini menjadi liga dengan rataan usia termuda di antara lima liga top Eropa (25,5 tahun).

Pemuda, dalam hal ini pemain sepakbola, oleh tim-tim Bundesliga dianggap menawarkan tenaga, semangat, dan ide-ide segar yang dapat membuat tim mereka lebih baik. Mereka dianggap mampu menjadi pondasi yang dapat memperkokoh tim di masa depan. Tengok aja apa yang dihasilkan Jerman dengan proyek jangka panjang pengembangan pemain muda: Juara Dunia! Atau, lihat bagaimana Hoffenheim dan RB Leipzig menembus empat besar Bundesliga musim lalu, juga mengandalkan pemain muda.

Usaha tim-tim Bundesliga untuk mengandalkan para pemain muda juga seolah sejalan dengan keinginan para pemain muda tersebut untuk berkarier di Bundesliga. Tercatat, di musim 2016/17 saja, ada lebih dari lima pemain muda potensial yang memilih Bundesliga sebagai labuhan mereka, misalnya Renato Sanches, Ousmane Dembele, Emre Mor, Embolo, dan beberapa pemain lain.

Sementara untuk musim 2017/18, sejauh ini sudah ada beberapa pemain muda yang memilih hijrah ke Bundesliga. Sebut saja Corentin Tolisso (Lyon) yang memilih Bayern Muenchen atau Mahmoud Dahoud (Borussia Monchengladbach) yang alih-alih menerima tawaran klub-klub luar Jerman, justru memilih bertahan di Bundesliga dengan pindah ke Borussia Dortmund.

Lalu, apa saja yang membuat para pemain tersebut lebih memilih Bundesliga ketimbang liga-liga top Eropa lain?

Sistem Pembinaan Pemain Muda

Hingga awal 2000-an, tim nasional Jerman masih dikenal sebagai tim yang kerap mengandalkan para pemain berumur. Kebiasaan itu membuat mereka harus terdampar di peringkat terendah klasemen grup A Euro 2000 di Belanda-Belgia. Pada turnamen itu, mereka hanya berhasil meraih satu poin dan mencetak satu gol. Sungguh hasil yang dapat dianggap sebagai bencana untuk ukuran tim yang ketika itu telah meraih tiga gelar Piala Dunia.

Pasca tragedi memalukan di Belanda dan Belgia, Jerman mulai berbenah. Hasil turnamen itu membuat mereka sadar bahwa meskipun pernah berstatus tim elit, para pemain mereka yang sudah kelewat uzur sudah tidak bisa diandalkan. Maka DFB pun mulai memfokuskan diri pada pengembangan pemain muda. Mereka menganggarkan tak kurang dari €20 juta untuk membangun ratusan pusat latihan para pemain muda. Selain itu, DFB juga mewajibkan klub-klub Bundesliga untuk berperan aktif dalam program ini.

Apa yang ditunjukkan Jerman merupakan bentuk keseriusan dan keyakinan, bahwa pengembangan pemain muda merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya pun kini terlihat menjanjikan. Belum habisnya masa para pemain seperti Mesut Ozil, Thomas Muller, hingga Toni Kroos, sudah muncul lagi bintang baru dalam diri Julian Weigl, Joshua Kimmich, Leroy Sane, hingga Timo Werner. Bahkan, mayoritas skuat yang dibawa Joachim Loew pada Piala Konfederasi adalah para pemain muda debutan.

Menariknya, sistem pembinaan usia muda di Jerman tidak hanya menarik dan berhasil mengorbitkan para pemain lokal. Para pemain asing pun juga ikut merasakan dampak dari proyek jangka panjang ini. Sebut saja Hakan Calhanoglu yang menjadi andalan di Bayer Leverkusen, David Alaba yang tiap musim semakin mantap di sisi kiri Bayern Munchen, atau Christian Pulisic yang giringan bolanya selalu mendapat decak kagum.

Maka tak heran jika para pemain muda seperti Ousmane Dembele dan Corentin Tolisso memilih Bundesliga sebagai labuhan mereka.

Pages