7 Pelatih yang Berkelahi dengan Pendukungnya Sendiri

Nigel Pearson, Leicester

Setelah Carlo Ancelotti memberikan jari tengahnya ke hadapan pendukung Hertha Berlin, Tim Ellis memberikan daftar pelatih mana saja yang pernah bersitegang dengan pendukung...

1. Perkelahian Lombardi di Pom Bensin

Perselisihan pun langsung terjadi dan Lombardi dengan senang hati mencoba membela dirinya sendiri.

Para fans Sarmiento yang sedang kesal bertemu dengan manajer Ricardo Caruso Lombardi yang sedang mengisi bensin mobilnya setelah kekalahan terakhir yang membuat timnya terperosok ke posisi terbawah di Liga Argentina tahun lalu. Perselisihan pun langsung terjadi dan Lombardi dengan senang hati mencoba membela dirinya sendiri.

“Satu orang mulai mengatakan hal-hal pada saya,” ia menjelaskan. “Saya melihat dirinya dan bertanya apa yang salah dengan dirinya. Ia berkata saya ketakutan dan kami akan degradasi. Segalanya kacau. Saya tidak mengerti.”

Pria 54 tahun ini akhirnya mundur dua bulan kemudian, walaupun ia setidaknya tetap berhasil mempertahankan Sarmineto di kasta teratas.

Ricardo Caruso Lombardi

Lombardi bertengkar dengan para fansnya di pom bensin

2. Pearson Meladeni Cacian Para Fans

“Ini klub kami, bukan milikmu,” salah satu fans berteriak, dilanjutkan dengan: “kamu akan segera dipecat, dan kamu tahu persis.”

Nigel Pearson mengalami masalah setelah Leicester kalah 3-1 dari Liverpool pada bulan Desember 2014, yang membuat The Foxes terdampar di posisi terbawah klasemen. “Ini klub kami, bukan milikmu,” salah satu fans berteriak, dilanjutkan dengan: “kamu akan segera dipecat, dan kamu tahu persis.”

Pearson pun langsung membalas fans ini dengan “f*** off dan mati saja.”, walaupun pernyataan resmi (dan sudah diedit) darinya kemudian lebih halus. “Saya menjalani perselisihan dengan fans di akhir pertandingan,” ucapnya. “Jika mereka tidak bisa melihat para pemain berusaha dengan benar di lapangan, mungkin mereka sebaiknya di rumah saja.”

Untungnya, para fans tetap mau datang dengan jumlah besar untuk menyaksikan Leicester menjalani usaha luar biasa untuk tetap bisa bertahan di Premier League.

3. Omelan Mick McCarthy

Mick McCarthy meluncurkan serangan pada fans the Town yang “naik turun seperti siku”.

Setelah hasil imbang dengan rival Anglian Timur mereka, Norwich, di awal musim 2016, bos Ipswich Mick McCarthy meluncurkan serangan pada fans the Town yang “naik turun seperti siku”. Tipe yang menyenangkan.

Orang Yorkshire ini pun terus menunjukkan ketidakpuasan dirinya pada satu fans secara khusus, menunjukkan bahwa orang ini akan dengan senang hati diladeni jika mereka berada di posisi yang tidak berjauhan. Semacam itulah.

“Saya sangat kesal,” McCarthy menggerutu. “Kami menjalani satu babak yang buruk dan kami semua S*** dan kami tidak bisa bermain. Manajer tidak peduli. Cari seseorang yang peduli.

I’m a boring c***, seseorang meneriakkan itu pada pekan lalu. Saya harap mereka mengatakan ini langsung di depan muka saya karena ia akan tahu sendiri akibatnya.”

Mick McCarthy

Dibutuhkan keberanian besar atau kebodohan untuk berkelahi dengan Big Mick

Ipswich mengalahkan Preston sepekan kemudian, dengan McCarthy menjelaskan penampilan mereka sebagai “penampilan dari pria yang sesungguhnya”. Pasti ia memikirkan seseorang...

4. Mantan Pemain Arsenal, Nelson Vivas, Halu

Di 2013, Nelson Vivas dipecat dari posisi manajernya di klub Divisi Primere Argentina, Quilmes karena meninju seorang fans yang menyerang di kepalanya setelah hasil imbang 1-1 dengan Atletico Rafaela.

Di tahun 2013, Nelson Vivas dipecat dari posisi manajernya di klub Divisi Primere Argentina, Quilmes karena meninju seorang fans yang menyerang di kepalanya setelah hasil imbang 1-1 dengan Atletico Rafaela.

Fans Quilmes yang menerima bogem mentah ini, dikenal dengan nama Carlos di media, secara mengejutkan melihat insiden ini dengan penuh simpati. “Ia seharusnya tidak perlu meminta maaf karena emosi sesaat,” ucapnya di depan media. “Saya rasa Vivas harus tetap berlanjut.”

Meski begitu, presiden klub, Anibal Fernandez, tidak setuju dan menegaskan bahwa mantan pemain Arsenal ini harus pergi. “Profesional seperti Vivas tidak boleh marah hanya karena hal-hal ini; mereka harus bisa menunjukkan ketenangan,” jelasnya. “Apa yang terjadi sangatlah gila.”

Semenjak itu, Vivas menjalani karirnya dengan baik: ia sekarang menjadi bos di raksasa Argentina, Estudiantes dan pemain yang sudah berusia 41 tahun, Juan Sebastian Veron.