Top 10/50/100

7 Pesepakbola Top Eropa yang Memiliki Gelar Sarjana

We are part of The Trust Project What is it?

3. Vincent Kompany

Vini, Vidi, Vici. Kompany datang ke Manchester City, mematenkan tempatnya sebagai bek dan kapten tim, lalu membawa The Citizens meraih dua titel Premier League, Piala FA, dua Piala Liga, dan Community Shield. Ia dianggap salah satu bek terbaik dunia karena lugas dalam menjaga lini belakang dan bisa mencetak gol dari situasi bola mati.

Cedera kambuhan memang membuatnya frustrasi belakangan ini, dan membuat pemain berusia 30 tahun itu jarang bermain, tapi Kompany seharusnya tak perlu khawatir jika kelak ia harus pensiun karena cedera yang tak kunjung sembuh. Sebab, naluri bisnis Kompany tak kalah hebat dengan kegarangannya saat bermain.

Darah pengusaha sudah mengalir di darah mantan pemain Anderlecht itu karena orang tuanya merupakan aktivis Kongo dan pengusaha uni dagang Belgia. Pesan orang tua kepada Kompany jelas, ‘Jangan pernah melupakan pentingnya pendidikan, seberapa pun suksesnya kamu.’

Ucapan orang tuanya itu terpatri di benak pikiran Kompany yang telah menyelesaikan studinya di administrasi bisnis di Manchester Business School. Bergelut di bidang bisnis pun bisa jadi solusi bagi Kompany jika kelak ia gantung sepatu.

4. Simon Mignolet

Inkonsistensi kerap menjadi masalah bagi kiper kelahiran 6 Maret 1988 ini di Liverpool. Mignolet bisa tampil bagus di satu laga, lalu tiba-tiba tampil buruk di laga berikutnya hingga fans sempat menuntut Liverpool untuk mencari kiper anyar, kendati saat ini juga telah memiliki Loris Karius.

Penampilan Mignolet boleh dikritik, tapi, sang kiper tak banyak bicara dan lebih banyak menunjukkan aksinya ketika bertanding. Belakangan, mantan kiper Sint-Truiden ini menunjukkan aksinya ketika dipercaya Jurgen Klopp mengawal gawang The Reds. Teranyar, aksi penyelamatannya membawa Liverpool menang 2-1 kontra Stoke City di Premier League.

Kegemilangannya itu pun mengingatkan masa-masa terbaiknya ketika ia membela panji Sunderland pada periode 2010-2013. Tiga tahun di Tyne and Wear, Mignolet belajar banyak dari Craig Gordon (mantan kiper Sunderland) dan di sana juga, ia menghabiskan waktu luangnya untuk belajar ilmu politik di Catholic University of Leuven.

Tak butuh waktu lama baginya lulus dan meraih gelar sarjana. Mignolet merupakan salah satu pesepakbola top yang cepat lulus karena ia fokus belajar di sela-sela aktivitasnya sebagai kiper The Black Cats, ia sampai harus rela membuang banyak waktu luang, terutamanya ketika pemain lain bermain, Mignolet fokus belajar.

Gelar sarjana bukan satu-satunya kelebihan yang dimiliki Mignolet dibanding pemain lainnya, karena ia juga fasih menguasai empat bahasa: Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda.

Jadi, Anda tak perlu khawatir, Mignolet. Jika kelak Anda pensiun nanti, Anda bisa menjadi penerjemah, politisi, atau sekadar menjadi pengusaha yang mengurus kedai kopi di Belgia (ya, Mignolet punya kafe di kampung halamannya).

5. Andrei Arshavin

Nama Arshavin mulai beken ketika ia memimpin timnas Rusia ke semifinal Euro 2008 dan di tahun berikutnya, bergabung dengan Arsenal dan mencetak empat gol ke gawang Liverpool. Semua itu merupakan momen yang paling diingat jika membicarakan pemain kelahiran Leningrad, 29 Mei 1981 ini.

Karirnya memang tidak terlalu gemilang bersama The Gunners, namun tidak bersama klub masa kecilnya, Zenit Saint Petersburg. Arshavin memiliki seluruh kehidupannya di sana, dari kenangan masa kecil, kesuksesan dari segi trofi, hingga keberhasilannya meraih gelar sarjana teknologi dan desain di St Petersburg State University.

Uniknya, pada awalnya Arshavin tidak memilih jurusan desain melainkan teknologi kimia, namun, ketika ia lebih sibuk berlatih dengan Zenit dan sering absen kuliah, Arshavin pun pindah jurusan ke desain.

“Ketika berusia 17 tahun saya harus memilih universitas. Teman saya dan saya mencoba fakultas teknologi and desain karena banyak perempuan di antara mahasiswa, dan Anda tak perlu belajar mati-matian,  paling tidak begitulah pikiran kami. Saya mendaftar di jurusan teknologi kimia,” kenang Arshavin.

“Tapi ketika saya mulai berlatih dengan Zenit, saya banyak absen kuliah. Saya lalu pindah ke jurusan desain pakaian, saya bahkan mendesain sendiri beberapa bahan baju.”

Pilihan Arshavin pun tidak salah dan keinginannya saat itu jadi kenyataan. Ia memiliki merek pakaiannya sendiri di Rusia dan populer di kalangan wanita, bahkan pemikiran cerdas Arshavin menuntunnya dalam pembuatan tesis tentang pakaian yang juga bisa berfungsi sebagai pakaian olahraga. Ia juga pernah membuat buku berjudul “555 Questions and Answers on Women, Money, Politics, and Football”.