Analisa

7 Rivalitas Terpanas yang Tercipta di Ajang Liga Champions Eropa

Pertemuan yang sering terjadi di antara dua tim tertentu di kompetisi paling bergengsi di Eropa ini telah memunculkan rivalitas yang sengit. Sebelum pertemuan antara Barcelona dan Chelsea pada kompetisi tahun ini, Michael Yokhin membahas rivalitas terpanas antar tim yang sebagian besar terjadi setelah pertemuan di Liga Champions...

We are part of The Trust Project What is it?

1. Barcelona vs Chelsea

Kemungkinan, inilah rivalitas antar tim beda negara terpanas dan tersengit yang pernah ada. Pertandingan antara keduanya seolah memiliki rivalitas semacam yang ada di pertandingan derby.

Semuanya bermula di tahun 2005 saat The Blues berhasil mengalahkan Barca dengan dramatis di fase 16 besar. Klub Katalunya ini berhasil memenangi leg pertama yang digelar di Camp Nou dengan skor 2-1. Tim ini juga sempat membalikkan keadaan dengan keunggulan gol tandang setelah sebelumnya tertinggal 3-0 di awal pertandingan di Stamford Bridge berkat gol dari Ronaldinho, yang dikenang menjadi salah satu gol terindah di kompetisi ini. Namun, itu semua hanya sia-sia belaka. John Terry mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir pertandingan. Chelsea berhasil menang 4-2 di musim pertama Jose Mourinho sebagai pelatih.

Setahun berselang, dan Barcelona berhasil membalas dendam pada Chelsea di fase yang sama. Mereka menang 2-1 di London berkat dua gol bunuh diri dan keputusan kartu merah kontroversial untuk Asier del Horno setelah pelanggaran terhadap Leo Messi. Mulai saat itu, kedua tim menjadi musuh. Rivalitas antar kedua tim bahkan semakin panas di tahun 2009.

Barcelona menjadi tim yang disukai semua orang di musim pertama Pep Guardiola menjadi pelatih. Di lain sisi, Chelsea yang berada di bawah asuhan Guus Hiddink pun berhasil tidak kebobolan di pertandingan semi final leg pertama yang berakhir tanpa gol di Camp Nou. Chelsea sempat unggul di leg kedua yang berlangsung di Stamford Bridge berkat gol spektakuler Michael Essien.

The Blues kemudian tidak mendapatkan empat kesempatan penalti (dari berbagai jenis pelanggaran) dari wasit pertandingan asal Norwegia, Tom Henning Ovrebo. Saat itu, Andres Iniesta berhasil membuat gol penyeimbang pada masa perpanjangan waktu yang memaksa The Londoners harus tersingkir dari kompetisi tahun itu.

Kali ini, giliran Chelsea yang membalas dendam, setelah mereka harus menunggu tiga tahun lamanya, sebelum mereka merusak tahun terakhir Guardiola sebagai pelatih Barcelona pada fase pertandingan yang sama. Chelsea dianggap sebagai underdog saat itu meski berhasil menang 1-0 di leg pertama. Meski begitu, sistem pertahanan mereka di bawah asuhan manajer Roberto Di Matteo sangat luar biasa.

Saat itu, Barca unggul 2-0 dan Terry dikeluarkan dari lapangan, tapi, Ramires berhasil mencetak salah satu gol terpenting dalam kariernya pada babak pertama pertandingan. Messi pun gagal mengeksekusi penalti. Setelah itu, Fernando Torres - musuh besar publik Katalunya saat masih berseragam Atletico Madrid - memastikan tiket final untuk timnya. Roman Abramovich akhirnya bisa memenuhi mimpinya dengan cara yang tidak diduga. 

Sayangnya Barca tak sempat berhadapan dengan Chelsea saat masa trio MSN, tapi - enam tahun setelah pertemuan terakhirnya - kedua tim kembali bertemu dan rivalitas di antara keduanya paling ditunggu-tunggu.

2. Liverpool vs Chelsea

Chelsea dan Liverpool tak pernah menjadi rival yang serius ketika bertemu di pertandingan Premier League, sebelum akhirnya hubungan kedua tim berubah setelah beberapa kali bertemu di kompetisi tingkat Eropa. Faktanya, The Reds berhasil menghalangi Jose Mourinho memenangi Liga Champions bersama The Blues, dan Rafa Benitez sangat bangga dengan hal tersebut.

Sebagai permulaan, Rafa berhasil menghentikan Chelsea di kompetisi ini pada fase semifinal di tahun 2005 saat terciptanya 'gol hantu' oleh Luis Garcia. Selang dua tahun, keduanya kembali bertemu di fase yang sama. Masing-masing tim berhasil menang 1-0 hingga akhirnya Liverpool memenangi babak penalti.

Keberuntungan bagi The Blues baru tercipta setelah The Special One dipecat dan digantikan Avram Grant. Grant, yang selalu mendapatkan sepotong keberuntungan, diuntungkan dengan gol bunuh diri John Arne Riise di menit akhir leg pertama pertandingan perempat final di 2008. Chelsea kemudian mengalahkan Liverpool di waktu tambahan pada pertandingan yang berlangsung di Stamford Bridge dan mengakhiri kutukan kekalahan terhadap Liverpool.

Setahun kemudian, keduanya kembali bertarung di pertandigan menegangkan saat Chelsea menang 3-1 di Anfield berkat dua gol dari Branislav Ivanovic. Setelah itu, Liverpool pun hampir melakukan comeback hebat saat mereka memaksa Chelsea mengakhiri pertandingan dengan hasil seri 4-4 saat bermain di London. Sayang sekali, kedua tim ini belum pernah bertemu lagi di kompetisi tingkat Eropa setelah kepergian Benitez, namun, itu bukanlah hal yang tak mungkin terjadi suatu saat nanti.

Pages