Analisa

7 Rivalitas Terpanas yang Tercipta di Ajang Liga Champions Eropa

We are part of The Trust Project What is it?

3. Manchester United vs Juventus

Sejak tahun 2003, pertandingan antara Manchester United dan Juventus masih terus ditunggu-tunggu setelah pertandingan-pertandingan yang terjadi di tahun 90an saat kedua tim diasuh oleh Alex Ferguson dan Marcello Lippi berlangsung sangat sensasional. Saat tahun 1996, skuat Old Lady mengamankan dua kemenangan pada babak grup yang membuat mereka memiliki kelebihan dibanding Manchester United. Kedua tim mengemas tiga poin saat berlaga di kandang masing-masing setahun berselang, tapi hal itu tak begitu relevan karena keduanya berhasil lolos pada babak gugur.

Pertandingan terpenting yang pernah berlangsung - yang bisa dibilang sebagai salah satu pertandingan yang terkenal dalam sejarah The Reds Devil - terjadi di semifinal Liga Champions tahun 1999.

Juventus kala itu difavoritkan setelah menahan imbang 1-1 di Old Trafford, walaupun Ryan Giggs berhasil membuat gol penyeimbang pada masa perpanjangan waktu pertandingan. Di leg kedua, Pippo Inzaghi berhasil membuat dua gol di 11 menit pertama pertandingan yang berlangsung di Stadio delle Alpi. Sepertinya saat itu tim Italia terlalu cepat merayakan kemenangan karena mereka kehilangan konsentrasi permainan, yang membuat lawan berhasil menciptakan kebangkitan yang luar biasa. Roy Keane, Dwight Yorke, dan Andy Cole berkontribusi pada kemenangan 3-2 bagi United. United pun akhirnya membawa pulang piala Liga Champions tahun itu dengan pertandingan yang lebih dramatis lagi.

Juventus pun masih menunggu saat mereka bisa membalaskan dendamnya, karena mereka dua kali kalah pada fase babak grup musim 2002-03 (meskipun Juve akhirnya sampai ke partai final musim itu). Kami pun tak sabar menunggu pertemuan kedua tim selanjutnya.

4. Barcelona vs Inter

Kedua tim belum pernah bertemu lagi setelah pertandingan yang krusial di tengah bulan April 2010. Namun pertandingan itu tak mudah untuk dilupakan. Rivalitas antara Barca dan Inter saat itu dipicu oleh Jose Mourinho.

Jose yang masih sakit hati setelah ditolak oleh Klub Katalunya menjadi pelatih di tahun 2008, posisi yang akhirnya diisi oleh Pep Guardiola, mendapat kesempatan emas untuk mengalahkan tim yang dulu menjadi impiannya itu. Zlatan Ibrahimovic yang pindah dari Inter ke Barcelona pada musim panas gagal menunjukkan performanya di tim barunya. Sedangkan, performa Samuel Eto’o saat itu berbanding terbalik dengan Zlatan. Menambah bumbu dari pertemuan yang aneh dari kedua tim  ini.

Kedua tim bertemu empat kali musim itu, dan Barca berhasil mengemas empat poin sembari unggul di atas Nerazzurri di babak grup. Namun, cerita berbeda terjadi pada babak semifinal. Inter berhasil merebut kemenangan 3-1 saat bermain di San Siro, dan mereka berhasil menahan lawan dengan hanya kalah 1-0 di leg selanjutnya meskipun saat itu pemain ex-Barcelona, Thiago Motta, diusir keluar lapangan setelah pelanggaran terhadap Sergio Busquets.

Petugas lapangan menyalakan air penyiram lapangan saat Mou berlari ke tengah lapangan pada saat peluit akhir pertandingan dibunyikan.