10 Pemain Top Yang Tampil Luar Biasa Setelah Berganti Posisi

Alih-alih membuat mereka kesulitan, perubahan posisi justru membuat pemain-pemain ini membuka level permainan baru yang lebih luar biasa. Siapa saja yang pernah mengalaminya?

Nemanja Matic 

Nemanja Matic sepertinya tak memiliki masa depan yang cerah saat Chelsea memilih untuk 'mengasingkan' dirinya ke Benfica pada Januari 2011, sebagai bagian dari kesepakatan pembelian David Luiz. Sampai detik itu, pria Serbia dengan tinggi badan mencapai 1,94 meter itu hanya bermain tiga kali (total 65 menit) untuk Chelsea di bawah komando Carlo Ancelotti sejak 2009.

Cedera menjadi faktor utama minimnya kesempatan bermain yang didapatkan Matic di era pertamanya bersama Chelsea, namun kualitasnya saat itu juga dinilai belum memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari lini tengah The Blues. Sebagai seorang gelandang tengah, Matic dinilai kalah bersaing dari Michael Essien, John Obi Mikel, Frank Lampard, dan Michael Ballack. Itu deretan nama yang sangat kuat di tahun 2009, hingga membuat Barcelona dengan Andres Iniesta dan Xavi Hernandes saja butuh bantuan wasit Tom Heening Ovrebo saat berjumpa dengan Chelsea untuk bisa merebut tiket ke final Liga Champions 2009.

Namun, Matic menemukan pencerahan di Benfica. Tak cuma karena Portugal umumnya adalah negeri yang lebih hangat ketimbang Inggris, tapi keputusan Jorge Jesus, pelatih Benfica saat itu, untuk menariknya sedikit lebih ke dalam sebagai gelandang bertahan menjadi awal melejitnya karier Matic hingga dia memenangi gelar Pemain Terbaik Primeira Liga pada musim 2012/13. Jose Mourinho yang kembali ke Chelsea pada musim panas 2013 merasa terusik dengan ketiadaan pemain yang mampu melindungi empat beknya. Frank Lampard dan Michael Essien mulai menua, John Obi Mikel tidak dalam kondisi bagus, Ramires tidak bisa diandalkan bermain di posisi itu dan ia mulai mendengar orang-orang di negerinya bicara soal Matic. 

Mourinho memilih mengangkat teleponnya, menghubungi nomor Matic, dan berbicara selama satu menit untuk meyakinkan dirinya bahwa ia membutuhkannya, bahwa ia akan menjadi bagian penting tim kali ini. Matic mengiyakan, dan sukses mengantar The Blues juara Premier League 18 bulan setelahnya, dengan menjadi penyaring serangan terbaik di Inggris yang lekat dengan permainan elegan di lini tengah.

Di bawah kepelatihan Antonio Conte, Matic tetap sukses mempertahankan posisinya di tengah kritikan setelah melewati musim 2015/16 yang tak hanya buruk untuknya, tapi juga tim secara keseluruhan. Tapi, Conte mengabaikan itu semua, tak peduli betapa statisnya lini tengah Chelsea dengan keberadaan dirinya di lapangan dan meski Fabregas menawarkan kreasi permainan yang menawan. Kini, ia dikabarkan menjadi salah satu buruan Jose Mourinho di Manchester United yang ingin mengulang kesuksesan bersamanya. Bisa dibilang, Jorge Jesus adalah juru selamat bagi Matic.

Sinisa Mihajlovic 

Kita bicara soal (mantan) pesepakbola Serbia lainnya, Sinisa Mihajlovic. Pria yang sekarang mengarsiteki Torino ini mengawali kariernya di Borovo dan kemudian melejitkan namanya bersama Red Star Belgrade saat mengangkat trofi Piala Champions pada 1990/1991 sebagai seorang gelandang serang dan pemain sayap. Posisi ini terus ia pertahankan sampai di awal kariernya bersama AS Roma, klub Italia pertamanya setelah meninggalkan Belgrade pada 1992. 

Di Roma, pelatih Carlo Mazzone melakukan eksperimen dengan menempatkan Miha sebagai gelandang bertahan. Sayangnya, tugas di posisi ini tak mampu diterjemahkan dengan baik oleh Miha di atas lapangan, hingga pelatih baru Vujadin Boskov mengalihkan posisinya sebagai bek kiri. Tapi, masa keemasan Miha sebagai pemain dimulai ketika ia hijrah ke Sampdoria pada 1994 dan berjumpa Sven Goran-Eriksson. Juru taktik asal Swedia itu menempatkan pria kelahiran 20 Februari 1969 sebagai bek tengah, posisi yang kemudian menjadi permanen hingga akhir kariernya.

Pada musim panas 1998, Miha mengikuti jejak Eriksson yang direkrut Lazio sebagai pelatih anyar klub asal Roma tersebut. Bersama dengan Alessandro Nesta sebagai palang pintu Biancoceleste, Miha sukses mengantar timnya meraih trofi Serie A dan Coppa Italia di musim 1999/2000.

Berbekal kekuatan fisik, disiplin, dan akurasi umpan-umpan panjang, Miha menjadi salah satu pemain yang sangat dipuja di Olimpico. Dia juga dikenal memiliki tendangan bebas yang mematikan. Ia mencatatkan diri sebagai top skorer tendangan bebas di Serie A bersama Andrea Pirlo dengan 28 gol, rekor yang bertahan hingga saat ini. Ia juga menjadi satu di antara dua pemain yang berhasil mencetak hat-trick dari tendangan bebas di Serie A saat Lazio sukses menggulung mantan klubnya, Sampdoria, dengan skor 5-2.

Pages