88 Tahun Persija (Bag. 2): Gelar Juara 1954 dan Pertandingan ‘Gila’ dengan PSMS Medan

Pada tanggal 28 November 2016 ini, Persija Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-88. Untuk merayakannya, Gerry Putra membuka arsip-arsip lama untuk mengenang kembali perjalanan klub ibukota ini: bagaimana ia berdiri, dan posisi pentingnya bagi sepakbola Indonesia. Ini adalah bagian kedua dari tiga seri artikel 88 Tahun Persija...

SEBELUMNYA: VIJ, Berawal dari Diskriminasi Sepakbola Masa Kolonial

VIJ merubah namanya menajdi Persija pada tahun 1942. Meski sempat menggunakan nama PORI Sepak Bola Jakarta pada era Jepang, akhirnya nama Persija kembali dipakai pada tahun 1950. Menariknya klub-klub VBO menyatakan diri bergabung ke Persija agar bisa terus hidup dan mengikuti kompetisi sepak bola Jakarta.

Limpahan pemain dari VBO itulah yang membuat Persija kebanjiran pemain berkualitas. Persija pun menjelma menjadi tim elit sepak bola Tanah Air pada awal periode 1950-an.

Pasukan Tanah Betawi yang dimotori pemain-pemain berdarah Tionghoa hebat seperti Tan Liong Houw belum mampu membendung kedigdayaan Persebaya Surabaya yang diperkuat kapten pertama timnas Indonesia, M. Sidhi

Sayangnya, Persija hanya bisa nangkring di posisi dua besar saja pada musim perdana mereka setelah kembali di Kejuaraan Nasional PSSI 1951. Pasukan Tanah Betawi yang dimotori pemain-pemain berdarah Tionghoa hebat seperti Tan Liong Houw, Him Tjiang, Pesch, Mustika, dan Van der Vin belum mampu membendung kedigdayaan Persebaya Surabaya yang saat itu diperkuat kapten pertama timnas Indonesia, M. Sidhi.

Di Kejuaraan Nasional jilid berikutnya, tahun 1952, Persija masih belum bisa mengusik kemapanan Bajul Ijo. Pemain-pemain UMS (bekas anggota VBO) mendominasi skuat Persija kala itu. Selain UMS ada juga Chung Hua (Tunas Jaya), lalu BBSA, Hercules dan Vios yang juga menjadi penyumbang pemain untuk Persija.

Wim Pie, Hassan, Giok Po, Djamiat Dalhar, serta Mustika menjadi andalan untuk menggedor lawan. Belum lagi ditambah Tan Liong Houw, Chris Ong, dan Him Tjiang yang setia menjaga aliran bola dari belakang ke tengah dan berlanjut ke depan. Pemain-pemain yang berkiprah di Tim Merah-Putih tersebut menjadi momok bagi para pesaing.

UMS saat itu merupakan kiblat sepak bola Jakarta. Mereka menjadi jawara kompetisi 1A Persija musim 1952/53. Prestasi serupa dicapai pada musim berikutnya. Persija memang gagal jadi raja Tanah Air, tetapi begitu banyaknya pemain UMS masuk jajaran skuat timnas Indonesia, menjadi pengakuan tak terbantahkan kualitas Persija sebagai klub elit. Gelar juara pun bisa dibilang tinggal menunggu waktu saja.

Persija memang gagal jadi raja Tanah Air, tetapi begitu banyaknya pemain UMS masuk jajaran skuat timnas Indonesia, menjadi pengakuan tak terbantahkan kualitas Persija sebagai klub elit

Benar saja, setelah gagal di dua Kejuaraan Nasional, Persija mulai menunjukkan taji di kejuaraan tahun 1954. Pada 20 November 1954, Persija menggilas Persis Solo di Stadion Tambaksari, Surabaya. Persis Solo yang saat itu diperkuat oleh Darmadi (kakek salah satu kiper Persija saat ini, Adixi Lenzivio) kewalahan menghadapi permainan ofensif Macan Kemayoran. Kemenangan telak 13-0 adalah skor istimewa yang dicetak Persija.

Persija yang masih diperkuat oleh punggawa dua musim sebelumnya kerap dikritik oleh media lokal di Jakarta karena tidak pernah memainkan pola yang baku. Persija saat itu memang kerap mengganti susunan pemainnya. Saat bertemu PSM Makassar, permainan Persija tampak buruk. Mereka hanya menang tipis dengan skor 3-2 atas Juku Eja yang terhitung sebagai tim lemah saat itu.

Saat meladeni pesaing utama, PSMS Medan, dalam laga penentuan yang diadakan di Stadion IKADA, pelatih Persija secara mengejutkan kembali mengacak skuat utama. Harian Umum pada Desember 1954 yang membuat berita jalannya pertandingan menilai Persija telah melakukan keputusan kontroversial karena pertandingan itu merupakan penentuan gelar juara. Nyatanya memang Ayam Kinantan mendominasi jalannya laga. Berulang kali kiper Persija dibuat kerepotan menghadapi gempuran beruntun anak-anak Medan.

Kegugupan Persija terlihat jelas ketika Van der Berg hampir saja mencetak gol ke gawang sendiri. Kalau saja penjaga gawang Van der Vin tidak sigap menangkap bola hasil tendangan salah buang dari der Berg, akan dipastikan gol akan tercipta untuk lawan. Begitu pula bagi Medan, hampir saja Djamiat membuka skor pada menit-menit awal, andai kiper Medan, Kliwon, tidak cekatan menepis bola.