88 Tahun Persija (Bag. 3): Era Keemasan yang Dirindukan

Pada tanggal 28 November 2016 ini, Persija Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-88. Untuk merayakannya, Gerry Putra membuka arsip-arsip lama untuk mengenang kembali perjalanan klub ibukota ini: bagaimana ia berdiri, dan posisi pentingnya bagi sepakbola Indonesia. Ini adalah bagian terakhir dari tiga seri artikel 88 Tahun Persija...

SEBELUMNYA:

Persija mengalami banyak perubahan memasuki era 1960-an. Dari mulai pemain wajah baru hingga hingga perpindahan markas dari Stadion IKADA ke Stadion Menteng. Pelan tapi pasti Macan Kemayoran kembali menjadi kekuatan elit di persaingan kompetisi Perserikatan Tanah Air.

Pada awal 1960-an, Persija mulai berbenah dalam hal pembinaan. Kompetisi klub-klub internal menggeliat dan melahirkan pemain-pemain bertalenta

Pada awal 1960-an, Persija mulai berbenah dalam hal pembinaan. Kompetisi klub-klub internal menggeliat dan melahirkan pemain-pemain bertalenta. Lahirnya pemain-pemain seperti Soetjipto Soentoro dan Kwee Tik Liong mengawali perubahan di tubuh Si Merah-Putih. Khusus untuk Soetjipto, dirinya seperti ditakdirkan menjadi legenda sepak bola Indonesia dan Persija.

Persija mulai kembali menyusun tim dengan pemain-pemain senior yang dipadukan pemain usia muda. Hasilnya, Persija hampir saja meraih gelar juara tahun 1961 jika tidak dikalahkan oleh Persib Bandung dalam pertandingan penentuan juara pada tanggal 1 Juli 1961.

Belajar dari kegagalan tahun 1961, pengurus Persija pun akhirnya menunjuk Liem Soen Joe atau yang lebih dikenal dengan nama drg. Endang Witarsa. Endang Witarsa memang seorang dokter gigi dan merupakan dosen di Unviersitas Trisakti dan Universitas Indonesia. Namun kecintaannya terhadap sepak bola memaksanya untuk terus turun ke lapangan. Dokter merupakan pelatih jenius yang percaya dengan kekuatan pemain muda. Idealismenya tak bisa dibeli, meski oleh ‘orang besar’ sekalipun.

Dokter, sapaan akrab Soen Joe, menjadi primadona di kompetisi Persija kala itu. Dokter yang saat itu melatih UMS memang menjadi salah satu pelatih hebat Persija. Lewat tangan dinginnya dia membawa UMS menjuarai kompetisi internal Persija tahun 1959/60 tanpa terkalahkan.

Saat ditunjuk menjadi nakhoda Persija, Dokter merombak total tim Persija. Di tangan Endang, sudah tidak ada lagi pemain-pemain senior macam Tan Liong Houw, Paidjo, Wim Pie, San Liong, Bob Amanupunjo, dan Chris Ong. Pak Dokter lebih suka dengan anak-anak muda yang mempunyai skill tinggi serta tenaga yang kuat.

Konsep memberdayakan pemain muda sudah diterapkan Endang saat menukangi UMS. Ia bereksperimen memasukkan pemain usia 16-19 tahun dalam skuat utama UMS, hal yang pada saat itu dinilai berisiko tinggi. Endang menjadi bulan-bulanan kritik. Namun, prestasi pada akhirnya menjadi bukti bahwa konsep yang ia tawarkan berbuah prestasi.

Revolusi ala sang dokter gigi pun dimulai. Nama-nama pemain pemain muda macam Sinyo Aliandoe, Yudo Hadiyanto, Reni Salaki, Fam Tek Fong, Dominggus, Supardi, Didik Kasmara, Soegito, Tahir Yusuf, dan Liem Soe Liong (Surya Lesmana) masuk dalam barisan skuat Persija bentukan Dokter. Mereka dikolaborasikan dengan Kwee Tik Liong dan Soetjipto Soentoro, pemain yang usianya kala itu masih muda tapi jam terbangnya di pentas sepak bola nasional sudah tinggi. Di tangan Dokter, Persija pun tak terbendung di kompetisi tahun 1964.