9 Final, 7 Kali Gagal: Juventus Memang Tak Cukup Bagus Untuk Menjadi Juara Liga Champions

Pertahanan Juventus tidak bisa memilih waktu yang lebih buruk untuk hancur lebur.

Sejarah tak memihak Juventus menjelang pertandingan: delapan final, dan hanya dua kali juara. Tak ada tim lain yang pernah gagal sebanyak ini di final Piala/Liga Champions sepanjang masa. Buffon merasakan dua di antara final itu, dan gagal di keduanya. Dan pagi ini, rekor itu semakin buruk: sembilan final, dua kali juara.

Mereka hanya kebobolan tiga gol di sepanjang perjalanan mereka menuju Cardiff, namun kebobolan empat dalam 90 menit. Mereka berpeluang mencatatkan diri menjadi tim pertama yang mampu menjadi juara tanpa terkalahkan sejak Manchester United di 2007/08, namun rekor itu harus sirna karena kekalahan itu akhirnya datang di laga terakhir.

Dua final dalam tiga tahun, dan keduanya berakhir dengan kegagalan.

Ini adalah narasi yang begitu buruk untuk sebuah tim yang berinvestasi begitu banyak untuk meraih mimpi mereka di Eropa, untuk mengopi dominasi mereka di level domestik ke level yang lebih tinggi. Dan ini akan menjadi noda besar bagi karier seorang Buffon, yang sebelum pertandingan dijagokan untuk meraih juara dan, bahkan, meraih gelar Ballon d’Or.

Adalah sesuatu yang tak terpikirkan melihat trio Bonucci-Barzagli-Chiellini dan Buffon harus kebobolan empat gol dalam satu pertandingan, tapi itulah kenyataannya.

Satu dari empat gol tercipta karena tendangan yang terdefleksi, dua karena kelengahan pemain belakang Juventus, dan satu karena… mereka seperti sudah pasrah dengan apa yang terjadi.

Narasi ‘tim defensif vs tim ofensif’ yang banyak dibicarakan menjelang pertandingan ini sudah sirna sejak awal pertandingan. Juventus yang awalnya dicurigai akan lebih banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik dari kedua sayap, baik Dani Alves maupun Alex Sandro, justru lebih banyak menguasai bola dan menciptakan peluang.

Mereka bahkan mencatatkan tiga peluang tepat sasaran dari tiga usaha dalam 15 menit, sementara Real Madrid tak mampu menciptakan satu peluang pun, yang menunjukkan dominasi Bianconeri di awal laga. Ketika Madrid berusaha maju menyerang pun, serangan mereka akan dengan mudah patah karena soliditas lini belakang Juve yang dibantu keberadaan Miralem Pjanic dan Sami Khedira.

Namun setelah 15 menit, Real Madrid mulai mampu menguasai bola lewat kreasi Isco, Luka Modric, dan Toni Kroos. Dan lewat sebuah serangan balik di menit ke-19, secara tak terduga, mereka bisa mencetak gol.