Analisa

9 Pemain yang Bersinar Bersama Timnas Tapi Terpuruk di Level Klub

Lukas Podolski Germany

Bagaimana ceritanya Anda bisa bersinar di Piala Dunia tapi terlihat buruk di QPR? Michael Yokhin menuliskan daftar pemain yang menjadi bintang dalam laga internasional, tapi berkinerja buruk selama berkarier di klub.

We are part of The Trust Project What is it?

Lukas Podolski (Jerman)

Ini sudah sangat jelas. Poldi mungkin bukan termasuk pemain yang gagal total untuk Bayern Munich dan Arsenal – jauh dari penilaian itu. Ia juga legenda lokal di Cologne, klub yang membesarkan namanya. Namun dilihat dari karier klubnya, ia sebenarnya tidak pantas dianggap sebagai salah satu pemain Jerman terbaik dalam sejarah. 

Namun hal itulah yang ditunjukkan oleh statistiknya. Luar biasanya, pemain sayap sekaligus striker serbabisa ini mencetak 130 penampilan bersama Jerman, menempatkannya di peringkat ketiga pemain dengan jumlah penampilan sepanjang masa untuk Jerman – tepat di belakang Lothar Matthaus dan Miroslav Klose. Ia juga pencetak gol ketiga terbanyak Jerman di belakang Klose dan Gerd Muller dengan 49 gol. Poldi adalah pemain favorit untuk pelatih Joachim Low dan seorang penghibur di ruang ganti. Ia memenangi Piala Dunia 2014 tanpa pernah bermain di babak penyisihan.

Dan Piala Dunia 2018 di Rusia saat ini adalah turnamen besar pertama Die Mannschaft tanpa Podolski sejak 2002. 

Eduardo Vargas (Chile)

“Saya tidak tahu mengapa saya bermain lebih baik untuk tim nasional,” kata Vargas. Ia salah satu pemain paling populer di Chile dan jarang tampil mengecewakan saat mengenakan jersey merah itu. Striker ini dinobatkan sebagai top skorer Copa America dua kali berturut-turut, pada tahun 2015 dan 2016 – dan  Chile memenangi kedua turnamen itu setelah selama ini selalu gagal menjuarainya dalam sejarah negara mereka. Vargas juga tampil secara solid di Piala Dunia 2014, mencetak gol dalam kemenangan krusial 2-0 atas Spanyol.

Secara keseluruhan, ia mencetak 35 gol dalam 82 pertandingan internasional, tetapi karier klubnya di Eropa bisa disebut sebuah bencana. Pemain ini gagal total di Napoli, Valencia, QPR, dan Hoffenheim, lalu tampil lumayan bagus di Italia, Spanyol, Inggris dan Jerman. Ia sekarang bermain untuk Tigres di Meksiko dan sepertinya sudah tidak mungkin kembali ke Eropa.

Mauricio Isla (Chile)

Sulit untuk tidak memasukkan pemain Chile lainnya ke dalam daftar ini karena Isla memiliki potensi untuk menjadi salah satu pemain top di dunia di posisinya. Pemain berumur 30 tahun ini menunjukkan potensi luar biasa sebagai gelandang sekaligus bek kanan untuk Udinese di awal kariernya dan tim nasional bisa mendapatkan banyak keuntungan dari performanya. Isla menorehkan 100 penampilan, tampil bagus di dua turnamen Piala Dunia dan – sama seperti Vargas – perannya sangat penting untuk gelar bersejarah Copa America mereka pada tahun 2015 dan 2016. 

Karier klubnya menurun setelah meninggalkan Udinese pada tahun 2012. Isla menjadi penghangat bangku cadangan di Juventus, terdegradasi dengan QPR, dan terpuruk di Marseille. Ia sekarang main di Fenerbahce setelah satu musim yang biasa-biasa saja di Cagliari; keadaan yang menyedihkan bagi seorang pemain yang memiliki begitu banyak potensi.

Angelos Charisteas (Yunani)

Charisteas akan dikenang sebagai legenda Yunani untuk generasi masa depan setelah mencetak gol kemenangan melawan Portugal di Final Euro 2014. Striker kekar itu menjaringkan gol penentu kemenangan melawan Prancis di perempat final dan juga mencetak gol saat bertemu Spanyol yang membuat namanya tercatat dalam sejarah.

Dengan torehan 25 gol untuk negaranya, ia adalah pencetak gol terbanyak kedua sepanjang masa Yunani – dan hanya empat gol yang dicetak dalam laga persahabatan. 
Charisteas selalu dapat diandalkan untuk tim nasional tetapi tidak pernah berhasil tampil meyakinkan selama di klubnya. Bahkan, ia hanya mencetak sembilan gol dalam musim terbaiknya bersama Werder Bremen pada musim 2002/03. Keadaan semakin buruk di kemudian hari dan pemain Yunani itu memiliki perjalanan karier yang sangat mengecewakan di Ajax, Feyenoord, Nuremberg, Bayer Leverkusen, dan Schalke. Belum lagi ditambah karier singkat yang mengecewakan di tim Prancis, Arles-Avignon.

Aljosa Asanovic (Kroasia)

Tanyakan kepada penggemar sepak bola Kroasia dan mereka akan memberi tahu Anda betapa hebatnya seoarang Asanovic. Gelandang yang elegan ini merupakan nyawa permainan dari tim nasional Kroasia di akhir 1990an. umpan-umpan yang meluncur mulus dan dia menjadi poros kekuatan timnya ketika mereka mencapai babak perempat final di Euro '96 dan kemudian finis di posisi ketiga di Piala Dunia 1998. 

Ia jelas tidak minder dengan dikelilingi pemain bintang seperti Zvonimir Boban, Robert Prosinecki, Alen Boksic, Davor Suker, serta Robert Jarni. Sebutkan namanya kepada penggemar sepak bola yang berada di luar Kroasia dan mereka tidak akan tahu siapa Asanovic. Karier klubnya di Montpellier, Derby, Napoli, Panathinaikos, dan beberapa tim lainnya membuatnya terlihat hanya menampilkan sebagian kecil dari potensinya – dan itu sangat disayangkan.