Analisa

9 Perayaan Gol yang Berakhir Menjadi Masalah

Kebahagiaan setelah mencetak gol bisa dengan cepat berubah menjadi sebuah masalah, seperti yang ditulis oleh Jon Spurling

We are part of The Trust Project What is it?

1. Perayaan balet yang membawa petaka

Ketika ia mendarat setelah gerakan terakhirnya, Muller malah jatuh ke atas rumput sambil meringis kesakitan

Pada bulan Agustus, pemain sayap Hamburg, Nicolai Muller, berhasil membuat dirinya harus absen selama tujuh bulan setelah mencederai ACL (anterior cruciate ligament)-nya karena merayakan gol yang ia buat. Setelah melepaskan tendangan voli yang menjadi satu-satunya gol dalam kemenangan 1-0 timnya atas Augsburg, pemain berusia 29 tahun ini bersikeras untuk merayakannya dengan melakukan serangkaian gerakan balet yang aneh. Ketika ia mendarat setelah gerakan terakhirnya, Muller malah jatuh ke atas rumput sambil meringis kesakitan.

“Lain kali, saya mungkin hanya akan menyalami teman-teman saja,” katanya sambil menyesal setelah itu.

Terlambat, Nicolai.

2. Gaya ayam yang dianggap menghina

Setelah mencetak gol krusial dalam pertandingan Boca Juniors di Copa Libertadores menghadapi rival terbesar mereka, River Plate, pada tahun 2004, Carlos Tevez merobek bajunya dan melompat-lompat dengan kegirangan, lalu menampilkan dansa ayam di depan rekan-rekan setimnya.

Alasannya? Para fans Boca menyebut para pemain River Plate sebagai ‘gallinas’ (ayam/pengecut), dan menyebut rival mereka sebagai orang-orang yang tak punya keberanian dan mental petarung. Namun wasit ternyata tidak terkesan dan menganggap selebrasi itu sebagai ‘penghinaan’, dan langsung mengusir keluar Tevez, sebelum meniru gerakan selebrasi tersebut untuk menunjukkan mengapa ia melakukannya.

3. "Oh, Robbie!"

Steve McManaman, rekan setimnya, dengan cepat menariknya, namun terlambat

Terus menerus dihina oleh fans Everton, yang menuduhnya sering menggunakan kokain, membuat striker Liverpool, Robbie Fowler, merayakan golnya ke gawang The Toffees dengan menghadap garis putih di rumput lalu berpura-pura seperti sedang menghirup kokain.

Steve McManaman, rekan setimnya, dengan cepat menariknya, namun terlambat: otoritas Premier League menghukumnya dengan empat pertandingan, bahkan meski manajer Gerard Houllier berusaha membela anak asuhnya itu dengan mengklaim, “Robbie hanya meniru gerakan sapi sedang makan rumput.”

Itu bukan pertama kalinya Fowler mendapatkan hukuman karena perayaan gol: di pertandingan Piala UEFA melawan Brann Bergen dua tahun sebelumnya, sang striker mengangkat jerseynya untuk memperlihatkan baju dalam dengan tulisan menyangkut masalah mogok massal para pekerja pelabuhan Liverpool, yang membuat 500 pekerja dipecat. Mengingat perayaan berbau politik adalah hal terlarang bagi UEFA, Fowler pun mendapatkan hukuman denda.