Abdelhak Nouri: Pemain Muda Ajax yang Didiagnosis Menderita Kerusakan Otak Permanen

Vaclav Cerny, Donny van de Beek, dan Abdelhak Nouri (Sumber: Ajax Daily)

Mimpi sang pemain muda ini harus pupus bersama vonis dokter. Abdelhak Nouri adalah bintang berpotensi yang harus redup sebelum benar-benar bersinar...

“Mimpi saya adalah untuk bermain di tim utama Ajax terlebih dahulu, bermain baik, dan tentu saja saya ingin selalu menjadi pemain terbaik untuk tim saya sendiri. Kemudian dari situ, saya ingin hengkang ke Spanyol, Inggris, atau Prancis untuk  menuju klub besar suatu hari nanti,” ungkap Abdelhak Nouri pada 2016 lalu dalam wawancaranya bersama Alessandro Schiavone.

Cita-cita yang dirancang oleh Appie - sapaan akrab Abdelhak Nouri - memang cukup realistis seperti kebanyakan pesepakbola muda lainnya di belahan dunia manapun. Mereka ingin sukses naik ke tim senior, kemudian menjajal tim kuat lainnya di belahan Eropa. Namun jika melihat kenyataannya sekarang, Appie tak akan bisa lagi menggapai mimpinya. Bukan karena tak mampu, namun takdir Tuhan lah yang menghentikannya. Appie divonis mengalami kerusakan otak permanen oleh dokter beberapa waktu yang lalu. 

Abdelhak Nouri dianggap sebagai salah satu generasi penerus sepakbola Belanda

Jelas ini menyedihkan. Pemain yang mengidolakan Johan Cruyff, Andres Iniesta, dan Lionel Messi ini harus mengubur mimpinya sedini mungkin karena penyakit  yang sudah ditakdirkan Tuhan kepadanya. Apalagi dalam sebuah kesempatan wawancara lainnya, Appie pernah bilang bahwa sepakbola memiliki arti segalanya bagi dirinya.

“Pemain seperti Cruyff, Messi, dan Iniesta adalah contoh bagi saya. Mereka mencari ruang, namun mereka bermain sangat cerdas dan mengetahui bagaimana mereka menggunakan badan mereka untuk membuat lawan kehilangan keseimbangannya. Bola adalah teman terbaik saya dan sepakbola memiliki arti segalanya bagi hidup saya,” ungkapnya seperti dilansir laman UEFA pada 2016 lalu.

Potensi besar Appie sebetulnya sudah tercium sejak masih berumur tujuh tahun. Menimba ilmu sedari kecil di kawasan De Toekomst, akademi sepakbola milik Ajax Amsterdam, ia berkembang menjadi pemain dan pemimpin yang luar biasa bagi kawannya yang lain, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Jurnalis Henk Spaan bahkan mengaku telah mengetahui bakat Appie sejak umur 10 tahun dan selalu memantaunya terus sejak itu. 

“Saya telah mengetahui bakatnya dari umur 10 tahun – dan saya bahkan berpikir langsung akan ada Cruyff baru di sini sebagaimana talenta yang telah diberkati kepadanya (Appie). Ia sangat bagus bermain di area yang sempit, memiliki teknik dan sentuhan yang luar biasa. Ia juga merupakan sosok pemimpin bagi yang lain,” ungkap Spaan. 

Kecemerlangan Appie sejak muda itu tak lantas membuat dirinya besar kepala. Sekadar info saja, Appie ini adalah satu dari banyak talenta Ajax yang sangat ditunggu dampaknya untuk Ajax dan juga tim nasional Belanda di level senior. Karena seperti yang kita tahu, Belanda yang kini mengalami masa sulit di fase Internasional setelah gagal di Piala Eropa 2016 lalu dan kini gagal ke Piala Dunia 2018. Angkatan Appie dan kawannya yang lain adalah cahaya harapan tersebut

"Sorotan dan pujian dari penggemar Belanda? Saya tidak terlalu peduli. Saya tetap menjadi normal seperti biasanya. Saya tahu bahwa saya selalu harus berlatih keras, bekerja keras, selalu menjaga diri dan tentu saja tetap dengan kaki di tanah (tidak sombong). Anda seharusnya tidak pernah berpikir bahwa Anda berada di atas sana. Bahwa Anda telah membuat orang lain memuji Anda, karena itu hanya baru permulaan saja,” ungkap Appie kepada Schiavone.